0

Review Film: 'In This Corner of the World' (2017)

Satu lagi anime yang lembut, indah, ceria, dalam, dan tetap sukses merobek-robek perasaan.

“Our duty is to survive with all we had.”
— Suzu
Saya takkan bohong. Seandainya bioskop punya fitur flash forward, saya ingin menonton paruh awal dari In This Corner of the World dalam kecepatan 1,5 kali. Pacing-nya santai tak apa-apa, tapi saya merasa semua berjalan terlalu pelan di awal, terlebih gerakan karakter yang terlihat seperti slow-motion. Selain dari itu, saya tak punya komplain lain dengan satu lagi anime yang lembut, indah, ceria, dalam, dan tetap sukses merobek-robek perasaan ini.

Film ini pada dasarnya bercerita mengenai dampak dari Perang Dunia II yang dialami oleh warga Jepang, khususnya pengeboman di Hiroshima. Namun sesungguhnya film ini adalah cerita coming-of-age dari seorang gadis polos yang kebetulan berlatar belakang peristiwa memilukan tersebut. Latar tempatnya bukan di Hiroshima, melainkan di kota sebelah bernama Kure. Menyaksikan horor tersebut dari desa tetangga jauh lebih mengerikan, karena kita tak tahu persis apa yang terjadi. Bagi saya, film ini lebih menyayat karena berfokus pada orang-orang sipil yang tak bisa berbuat apa-apa akan perang.


Tokoh utama kita adalah Suzu (Rena Nounen), seorang gadis polos, lembut, pelupa, dan sedikit ceroboh. Kepribadian Suzu ini esensial karena perspektif film mengambil cara pandang Suzu terhadap dunia. Suzu selalu melihat dunia dengan indah, dari sisi positif, bahkan di masa-masa sulit. Memang ada masanya nanti ia tak bisa menahan diri, tapi ia selalu bisa menemukan kembali sisi positif dari semua hal. Inilah yang membuat kita begitu mencintai Suzu.

Film ini bermain layaknya diari dari Suzu. Beberapa bagian terasa episodik, apalagi di paruh awal. Mungkin ini karena materi sumbernya karya Fumiyo Kono yang merupakan serial manga. Waktu berjalan dari tahun 1930-an hingga tahun 1940-an, dan kita dipandu dengan teks yang menunjukkan tanggal-tanggal penting. Kita menyaksikan Suzu yang sudah periang sedari bocah. Sejak SD, ia sudah membantu usaha rumput laut milik keluarga di Hiroshima. Ini adalah masa-masa yang sederhana. Kita tak perlu banyak hal untuk bahagia. Bagi Suzu, cukup dengan bercengkerama dengan teman atau keluarga dan sesekali menggambar.

Namun masa kecil tak berlangsung selamanya. Segera setelah berumur 18 tahun, Suzu dilamar oleh seorang pegawai angkatan laut, Shusaku (Yoshimasa Hosoya), meski sebenarnya Suzu lebih naksir kepada teman masa kecilnya, Tetsu (Daisuke Ono). Suzu tak begitu mengenal Shusaku, namun ini adalah masa dimana menjadi istri seseorang adalah kehormatan. Jadi, ia rela pindah ke kampung halaman Shusaku di Kure, lalu tinggal bersama keluarga baru. Tugasnya sehari-hari diisi dengan kegiatan rumah tangga yang lumayan berat. Kakak iparnya, Keiko (Minori Omi) tampaknya tak begitu setuju dengan kehadirannyaa, namun anak Keiko, Harumi (Natsuki Inaba) menyambut Suzu dengan riang.

Kure merupakan salah satu pangkalan militer pasukan Jepang, dimana Suzu bisa melihat garis pantai yang dipenuhi dengan kapal perang termasuk kapal Yamato yang legendaris itu. Meski kehidupan desa sepertinya tenang, namun situasi sudah mulai memburuk. Para penduduk kesulitan untuk mendapatkan pangan, dan Suzu harus mulai membagi-bagi jatah agar persediaannya cukup untuk esok hari. Ada saja cara-cara Suzu yang kadang cukup lucu dalam memanfaatkan bahan makanan yang terbatas.

Film ini tak mengeksploitasi perang secara langsung. Mulainya agresi disajikan dengan adegan minimalis saat Suzu dan Harumi mendengar deru mesin dan melihat pesawat berseliweran di langit Kure ketika mereka di jalan pulang ke rumah. Seolah tak sanggup menerima ini, Suzu melihat ledakan seperti cipratan cat air di kanvas. Ada momen saat bom memporak-porandakan desa, namun fokusnya bukan pada masifnya ledakan melainkan pada dampak yang ditimbulkan bagi warga sipil. Frekuensi penyerangan yang berulang-ulang dan dapat terjadi sewaktu-waktu lah yang membuat saya menahan napas.

In This Corner of the World disutradarai oleh Sunao Katabuchi, yang pernah bekerja pada Hayao Miyazaki-nya Studio Ghibli. Gaya visualnya lembut dan sederhana. Untuk karakter, ia menggunakan animasi kasar mungkin agar sesuai dengan materi sumber, sementara latar belakang memakai gambar yang photorealistic. Wikipedia memberitahu saya bahwa studio MAPPA melakukan riset yang komprehensif untuk membuat latar belakangnya seakurat mungkin, sesuai dengan arsitektur gedung dan desa di masa itu dengan menggunakan arsip foto dari masa pra-perang.

Jika dilihat lebih luas, film ini juga mengenai peran wanita di masa perang secara umum. Hampir semua peristiwa berkutat pada wanita-wanita di sekitar Suzu. Ibu mertuanya adalah wanita penyayang yang punya kaki lemah. Keiko tampak seperti pribadi sinis, namun menyaksikan ia kehilangan orang yang disayangi untuk kedua kalinya sangat heartbreaking. Di satu titik, Suzu juga menjalin persahabatan dengan Lin, yang di awal tak disadarinya merupakan seorang pekerja seks komersil, lagi-lagi karena perang. Tak ada satupun tokoh yang digambarkan sebagai pribadi yang jahat. They just be there, because of war.

Katabuchi dengan terampil memainkan emosi yang kompleks. Antara kebahagiaan dan kesedihan, optimisme dan skeptisme, masa tenang dan horor, In This Corner of the World berkulminasi menjadi pengalaman emosional yang kuat. Jalinan dramanya begitu bagus dan halus, kita tak pernah menyaksikan melodrama di permukaan, namun bisa merasakan arusnya yang deras.

Jika menyebut anime tentang kengerian Perang Dunia II bagi warga Jepang, yang pertama terpikirkan tentu saja Grave of Fireflies-nya Isao Takahata, film luar biasa mengenai perjuangan kakak-adik yang bertahan hidup setelah ledakan bom merubuhkan rumah mereka. Karena katanya In This Corner of the World lebih riang, dan tidak sehoror pemandangan di Grave of Fireflies, saya menurunkan pertahanan diri saya. Namun sensitivitasnya tak kalah tajam. Seharusnya saya tak melakukan itu. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'In This Corner of the World' |
|

IMDb | Rottentomatoes
128 menit | Remaja

Sutradara Sunao Katabuchi
Penulis Sunao Katabuchi, Chie Uratani (screenplay), Fumiyo Kōno (manga)
Pemain Rena Nounen, Yoshimasa Hosoya, Natsuki Inaba
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top