0

Review Film: 'Mine' (2017)

'Mine' lebih mirip '127 Hours', hanya saja sedikit cheesy dalam memaparkan aspek filosofisnya.

“Shoeman Maneuver my ass!”
— Mike
Agar anda mendapatkan konteksnya, saya akan memberikan beberapa statistik menurut film Mine: (1) Selama 40 tahun ada 8.000 konflik di Timur Tengah yang membuahkan 33 juta ranjau darat yang ditanam di seantero gurun; (2) Dalam waktu 10 tahun ada 4% kemungkinan ranjau mengalami malfungsi, meningkat menjadi 7% dalam 15 tahun; (3) Tak ada konflik terdekat dari gurun tempat protagonis kita sekarang, jadi kalaupun ada ranjau pastilah berumur puluhan tahun.

Tapi tunggu dulu, Mike (Armie Hammer) tak bisa bergantung begitu saja pada kisaran angka 7% tadi. Rekannya, Tommy (Tom Cullen) baru saja kehilangan kedua kaki gara-gara ledakan ranjau. Jadi seberapa besar kesempatan untuk selamat setelah yakin kalau ia menginjak ranjau yang sama? Anda lihat kan, setup film debut dari sutradara Fabio Guaglione & Fabio Resinaro ini mantap juga. Mike tak bisa berbuat apa-apa, tapi juga tak mau kakinya buntung begitu saja. Mine pada dasarnya adalah film survival satu orang di satu lokasi seperti halnya 127 Hours atau Buried. Oh maaf, coret film terakhir. Film ini lebih mirip 127 Hours, hanya saja sedikit cheesy dalam memaparkan aspek filosofisnya.


Ranjau yang dimaksud juga menjadi metafora bagi resiko yang harus dihadapi Mike sepanjang hidupnya. Saat tekanan fisik dan psikis yang harus dialami Mike setelah terjebak menahan ranjau dengan satu kaki selama berhari-hari, kilasan kehidupannya mulai terlintas. Ketika mengingat momen-momen tersebut, Mike literally mendengar suara "klik" ranjau, seolah ia terjebak. Dalam hidup, kita menginjak berbagai "ranjau", namun maukah kita beranjak dan move on ke tahap berikutnya?

Uhm, tapi seperti kedengarannya, bukan ini yang membuat filmnya mengikat. Mine efektif saat ia minimalis. Semakin banyak kita tahu tentang latar belakang Mike, semakin mengendur cengkeraman intensitasnya. Keselamatan bukan lagi prioritas, alih-alih pelajaran moral. Awalnya kita bertemu dengan Mike saat ia bersama Tommy ditugaskan oleh tentara Amerika untuk menembak mati teroris. Mike adalah sniper handal, tapi ia bimbang apakah targetnya ini tepat, terlebih saat sang target sepertinya sedang berada di tengah acara pernikahan. Misi menjadi kacau, dan Mike dan Tommy harus berjalan kaki menuju extraction point terdekat dengan melintasi gurun.

Tommy, naasnya, menginjak ranjau aktif yang meledakkan kedua kakinya. Mike berniat membantu, tapi... KLIK, ia juga menginjak ranjau. Ups. Jika mengangkat kaki, ranjau akan meledak. Anggota penyelamat, kalaupun datang, berada di jarak 52 jam perjalanan. Alternatif lain adalah "Shoeman Maneuver", dimana ia harus menggali lubang untuk meminimalisir dampak ledakan dengan resiko kehilangan satu kaki, namun Mike tak sanggup melihat kakinya buntung.

Persediaannya terbatas, dan ia harus menghadapi badai pasir, hewan buas, panasnya siang, dinginnya malam, atau lebih simpel (tapi tak lebih baik): dehidrasi. Permasalahan ini begitu believable, kita ikut mengkhawatirkan bagaimana Mike bisa bertahan. Elemen aksinya adalah saat Mike berjuang mendapatkan apapun untuk memperpanjang hidupnya, mulai dari menjangkau radio, menggapai baterai yang kebetulan dikantongi oleh almarhum Tommy, atau menembaki gerombolan serigala yang siap memangsa di malam buta.

Namun kemudian Mike mengalami degradasi mental, dimana ia mulai tak bisa membedakan antara kenyataan dengan halusinasi. Mike teringat dengan masa kecilnya yang diasuh oleh ayah abusif (Geoff Bell), hingga permasalahannya baru-baru ini dengan sang pacar (Annabelle Wallis). Sendirian di tengah gurun, ia punya banyak waktu untuk memikirkan banyak masalah. Ia juga dikunjungi oleh penduduk lokal (Clint Dyer) —yang mungkin nyata atau mungkin tidak— yang memberi dorongan pada Mike untuk membuat pilihan, mengambil "langkah berikutnya". Seratus menit adalah waktu yang tak singkat. Duo Fabio harus memasukkan sesuatu sebagai pengisi antara setup yang solid dan ending yang menohok kita dengan dark humor.

Sebagai film yang berfokus pada satu orang, Mine bergantung pada Armie Hammer dan ia memberikan penampilan yang meyakinkan. Mike hanya terpaku di satu tempat hampir sepanjang durasi, tapi Hammer menjaga kita agar terus menyaksikannya. Entah saat didera cobaan fisik atau trauma masa lalu, kita benar-benar dibuat yakin akan bahaya yang harus dihadapinya. Dalam film yang lebih fokus, ini bisa menjadi catatan performa yang istimewa dari Hammer. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Mine' |
|

IMDb | Rottentomatoes
106 menit | Remaja

Sutradara Fabio Guaglione, Fabio Resinaro
Penulis Fabio Guaglione, Fabio Resinaro
Pemain Armie Hammer, Annabelle Wallis, Tom Cullen

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top