0

Review Film: 'The Mummy' (2017)

Di tengah film, saya berharap Brendan Fraser dari 'The Mummy' versi 1999 datang sebagai penyelamat.

“Welcome to a new world of gods and monsters.”
— Dr. Henry Jekyll
Saya penasaran bagaimana cara pejabat Universal membujuk Tom Cruise dan Russell Crowe untuk bermain dalam film seperti ini. Apakah karena Cruise dijanjikan kalau ia akan mendapat sekuens aksi di pesawat dan menyelam di bawah air? Mungkinkah Crowe ikut karena ia bakal bermain ala Nick Fury-nya The Avengers yang bertugas untuk mengumpulkan "superhero" mistis atau karena ia diberi peran yang sedap sebagai pria berkepribadian ganda? Atau, mungkinkah anggota keluarga Cruise dan Crowe disandera? Apapun alasannya, The Mummy terasa seperti hasil kompromi untuk menyenangkan semua orang. Sayangnya, tak ada yang pulang dengan senang.

Film ini bermaksud menjadi banyak hal sekaligus —sebuah film aksi, adventure, horor, romance— namun tak satupun yang lengket usai saya menonton. The Mummy mengambil berbagai macam elemen dari setiap genre lalu memblendernya menjadi satu. Hasilnya tentu saja film yang rumit sendiri dan tidak involving karena mengorbankan koherensi. The Mummy versi 1999 yang dibintangi Brendan Fraser juga film gado-gado, tapi sadar bahwa ia film yang menggelikan. Saya tak bosan. The Mummy versi baru mencoba menjadi film yang serius seolah tak tahu bahwa filmnya konyol.


Saya masih tak mengerti apa pentingnya kehadiran Dr Jekyll / Mr Hyde yang diperankan oleh Crowe bagi cerita. Di pertengahan film, karakter Cruise harus bertarung dengan Crowe. Ini bisa menjadi adegan yang epik karena, hei, ini pertama kalinya kita melihat penampilan penuh Mr Hyde yang brutal. Namun segera anda akan menyadari bahwa ini tak ada hubungannya sama sekali dengan plot. Saya yakin, penonton yang tak mengenal karakter fiktif rekaan Robert Louis Stevenson tersebut akan garuk-garuk kepala menyaksikan apa yang terjadi.

Ini mungkin terdengar kontradiktif, tapi hal terburuk dari pembangunan universe adalah saat kita tahu mereka mati-matian membangun universe. Pembangunan universe yang ideal tidak mengganggu jalannya film. Universal kentara sekali berusaha keras untuk menegakkan "Dark Universe" mereka yang akan membangkitkan monster klasik seperti Dracula, Frankenstein, Invisible Man, Wolf Man, dll menjadi semesta sinematis tak berbatas yang saling berkaitan semacam The Avengers, dengan cara mengisinya dengan banyak eksposisi yang mengisyaratkan sekian film berikutnya. Ada perasaan bahwa mereka lebih peduli dengan hal itu dan tak memberi perhatian yang cukup bagi film ini.

Film dibuka dengan prolog lumayan panjang yang menceritakan putri Ahmanet (Sofia Boutella) yang awalnya adalah calon pewaris tunggal kerajaaan Mesir, sampai sang ayah, Pharaoh dianugerahi anak cowok dari istri keduanya (Pharaoh selalu bernasib malang; dalam The Mummy versi 1999, istrinya selingkuh dengan pendeta kerajaan). Untuk mengklaim tahtanya, Ahmanet membantai mereka bertiga dan bermaksud menjalin kontrak dengan Dewa Kematian Mesir, Set. Namun ia malah tertangkap duluan dan dihukum dengan cara dikubur hidup-hidup.

Kembali ke masa sekarang, kita bertemu dengan Nick Morton (Cruise) dan Chris Vail (Jake Johnson), tentara Amerika slenge'an yang dikirim ke Irak tapi malah lebih suka menjadi penjarah prasasti kuno. Mereka menemukan reruntuhan yang terkubur di gurun. "Ini bukan makam, tapi penjara," ujar Jenny Halsey (Annabelle Wallis) yang sebelumnya menginformasikan kita bahwa karakter Cruise hanya punya vitalitas berdurasi 15 detik di tempat tidur.

Tak pernah jadi ide yang bagus untuk mengganggu reruntuhan kuno, tapi mereka malah mengangkut sarkofagus tadi dengan pesawat, tak begitu mengindahkan hal-hal aneh yang terjadi seperti kemunculan ribuan laba-laba hingga ratusan gagak ber-kamikaze menyerbu kokpit pilot. Kita mendarat di London dan disinilah kita berjumpa dengan Dr Henry Jekyll. Sementara itu, Ahmanet bangkit kembali dengan cara menyedot nyawa dari orang hidup, yang membuat siapapun yang tersedot menjadi zombie suruhannya.

Nah, itu garis-garis besar plotnya, tapi jujur saja, plot The Mummy bergerak kemana saja tanpa alasan yang jelas. Skripnya digarap oleh 3 penulis dengan ide cerita dari 3 orang, yang membuat saya berasumsi bahwa ceritanya berasal dari potongan-potongan ide berbeda dari 6 orang tersebut yang dirangkai sembarangan menjadi satu. Plot hanya wadah untuk menyajikan efek spesial atau sekuens aksi, seperti kemunculan zombie atau Nick dan Jenny yang berlarian menghindari kejaran kehancuran masif di kota London, yang nantinya inkonsekuensial, tak memberikan dampak apa-apa bagi cerita.

Kita nyaris tak bisa merasakan bahaya yang harus dihadapi karakternya. Film ini menelantarkan karakter sehingga hampir tak ada alasan bagi kita untuk peduli pada mereka. Motif mereka tak jelas, chemistry-nya tak mengikat, dan jangan biarkan saya mulai membahas adegan penting di klimaks yang mengkhianati paruh awal. Jadi selama ini mereka mencegah sesuatu yang akhirnya akan terjadi juga dengan alasan, guess what, memberi pondasi bagi pembangunan universe.

Mungkinkah Cruise hanya membaca halaman awal skrip sebelum bilang oke pada film ini? Boleh jadi, karena sekuens pertama yang melibatkan pesawat yang terjun bebas dimana Cruise dan Wallis melayang-layang di udara, lumayan menegangkan. Awalnya kita dijanjikan akan sebuah petualangan yang seru, namun The Mummy ternyata tak begitu jauh berbeda dengan Dracula Untold yang tak sudi diakui oleh Universal sebagai franchise starter mereka. Di tengah film, saya berharap Brendan Fraser datang sebagai penyelamat. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Mummy' |
|

IMDb | Rottentomatoes
107 menit | Remaja

Sutradara Alex Kurtzman
Penulis David Koepp, Christopher McQuarrie, Dylan Kussman
Pemain Tom Cruise, Sofia Boutella, Annabelle Wallis

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top