0

Review Film: 'The Whole Truth' (2017)

Keseruan film ini bukan seperti menyaksikan film-film courtroom adaptasi novel John Grisham, alih-alih sama seperti membaca berita acara persidangan.

“Everybody lies.”
— Richard Ramsey
Ada argumen yang bilang bahwa Keanu Reeves tak begitu pandai berakting. Tentu, sebagai bintang aksi ia sudah membuktikan kebalikannya lewat The Matrix dan John Wick, namun soal kompleksitas, ia tak menunjukkan range emosi yang luas. Film seringkali hanya memanfaatkan kharismanya yang tenang dan terlihat bijak. Muka lempeng Reeves ternyata sangat efektif bagi perannya sebagai pengacara dalam The Whole Truth. Pengacara tahu mana yang benar, tapi juga mampu menggiring kita pada sesuatu yang mereka ingin kita anggap benar. Kita mungkin tak pernah tahu kebenaran hakiki, karena menyembunyikan kebenaran terkadang adalah tugas dari pengacara.

The Whole Truth adalah courtroom drama yang hampir sepenuhnya mengambil tempat di meja hijau. Film ini melibatkan KDRT, namun karakternya tak begitu hidup karena yang menjadi pemain utama adalah permainan fakta. Disini Reeves tak perlu berakting, melainkan hanya melontarkan kalimat-kalimat formal demi meyakinkan juri dan kita penonton.


Reeves adalah Richard Ramsey, pengacara keluarga Lassiter. Kliennya adalah Mike (Gabriel Basso), anak tunggal keluarga Lassiter yang diduga menusuk ayahnya sendiri, Boone (Jim Belushi) hingga tewas. Richard mengenal anak ini sejak kecil karena ia sudah lama berteman dengan Boone. Lagipula ia yakin kalau sang ibu, Loretta (Renee Zellweger) tak sanggup hidup jika anak semata wayangnya masuk penjara. Masalahnya, saat polisi sampai di TKP, Mike terduduk bersimbah darah di samping ayahnya dan mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti pengakuan: "Harusnya sudah dilakukan dari dulu". Ribetnya, Mike tak mau mengucapkan sepatah katapun sejak tragedi tersebut, bahkan kepada Richard yang notabene membelanya setengah mati di pengadilan.

Menghadapi klien yang sama sekali tidak kooperatif ini, satu-satunya kesempatan Richard untuk menang adalah mengulur waktu lalu mencari celah di antara pengakuan para saksi yang, ia yakin, berbohong semua. Ini diyakinkan oleh asisten Richard, Janelle Brady (Gugu Mbatha-Raw) yang awalnya dimanfaatkan Richard sebagai pemancing simpati (karena ia kulit hitam), tapi ternyata lebih cerdas dari kelihatannya. Meski demikian, semua bukti seolah semakin menguatkan fakta bahwa Mike terbukti bersalah telah membunuh ayahnya sendiri.

Tapi tunggu dulu, ada satu lagi celah. Boone ternyata bukanlah figur ayah yang ideal, jadi Richard mungkin bisa memanfaatkan ini dan membuat juri mempersepsikan bahwa Mike membunuh karena membela diri dari sang ayah yang abusif, baik kepada dirinya maupun kepada sang ibu. Selama proses peradilan, beberapa orang saksi akan membuat pengakuan yang kurang lebih menegaskan bahwa Boone adalah penjahat sesungguhnya. Namun yang diadili bukan Boone kan? Pertanyaannya bukan lagi "benarkah Mike membunuh ayahnya", melainkan "kenapa Mike membunuh ayahnya" atau lebih tepatnya "kenapa Mike mengaku membunuh ayahnya".

Plot film berlangsung secara realtime, tapi setiap kali fakta baru terungkap, kita akan dibawa pada adegan flashback yang mereka ulang momen-momen yang sesuai dengan pengakuan para saksi, entah itu saat pramugari melihat Boone bersenang-senang dengan dua wanita di atas pesawat pribadi, sang supir menjemput selingkuhan di tengah perjalanan bisnis, anak tetangga yang mengintip KDRT yang dialami Loretta atau tetangga yang risih menyaksikan Boone mempermalukan Mike di pesta barbekyu. Flashback ini hanya sepotong-sepotong, yang tentu saja, demi menjaga agar kita tetap perhatian hingga pengungkapan di akhir.

Reeves adalah pilihan yang tepat untuk memerankan Richard. Ia bisa tampil sebagai orang lurus, sensitif, tapi tak mengeluarkan banyak ekspresi. Voiceover datar dari Reeves juga digunakan sebagai trik yang cerdik. Tak hanya sebagai jalan pintas untuk mempersingkat eksposisi mengenai latar belakang para karakternya, tapi juga untuk mengalihkan kita dengan menggiring persepsi.

Film ini disutradarai oleh Courtney Hunt, yang saya pelajari dari Google, pernah menempuh pendidikan tinggi jurusan hukum. Latar belakang akademis ini sangat membantu dalam membuat suasana peradilan terasa sangat aktual dibandingkan kebanyakan film peradilan lain yang lebih dramatis. Tak ada hadirin yang tiba-tiba membuat rusuh lalu menganggu jalannya proses peradilan. Hunt lebih mengandalkan detail mengenai prosedur dan pembeberan bukti, alih-alih mengikat kita dengan karakternya, sehingga para pemain, khususnya Renee Zellweger terasa terpinggirkan.

Pembangunan plotnya tak punya urgensi apapun. Keseruan film ini bukan seperti menyaksikan film-film courtroom adaptasi novel John Grisham, alih-alih sama seperti membaca berita acara persidangan. Saya tak peduli dengan apa yang dialami oleh karakternya, tapi tetap melanjutkan demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. The whole truth still got me. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'The Whole Truth' |
|

IMDb | Rottentomatoes
93 menit | Remaja

Sutradara Courtney Hunt
Penulis Nicholas Kazan
Pemain Keanu Reeves, Renée Zellweger, Gugu Mbatha-Raw
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top