0

Review Film: 'Okja' (2017)

Terlepas dari ukurannya, Okja memang hobi melonjak dan berlarian seperti anjing kecil yang imut, namun itu sebelum film ini menunjuk dengan gamblang dari apa hotdog dan bacon dibuat.

“F***ing film me Jennifer. You can't fake this feeling.”
— Johnny Wilcox
Okja adalah nama babi yang katanya terbesar, tercantik, dan terlezat di dunia. Okja sebenarnya lebih menyerupai kuda nil daripada seekor babi. Tubuhnya seukuran gajah, wajahnya selebar bulldog, dan matanya... dalam film seperti ini, mata mereka selalu sayu untuk memastikan kita menitikkan air mata di momen paling sentimentil. Oh, Okja juga merupakan makhluk yang hangat dan penyayang, terlihat saat ia menyelamatkan pemiliknya di awal-awal film. Beberapa mungkin boleh menyebutnya menggemaskan, tapi yang jelas Okja adalah makhluk yang aneh.

Okja tampak seperti kisah persahabatan manis antara seorang anak dengan peliharaannya. Namun film ini bukan film anak-anak, kecuali jika anda ingin membuat mereka trauma. Terlepas dari ukurannya, Okja memang hobi melonjak dan berlarian seperti anjing kecil yang imut, namun itu sebelum film ini menunjuk dengan gamblang dari apa hotdog dan bacon dibuat. Film ini adalah campuran aneh antara petualangan fantasi dengan satire terhadap korporasi, kekerasan terhadap hewan dan konsumerisme.


Jika kedua tema ini terdengar takkan menyatu di permukaan, tunggu sampai anda mendengar bahwa filmnya digarap oleh sutradara kenamaan asal Korea, jagonya utak-atik genre, Bong Joon-ho. Okja adalah film berbahasa Inggris keduanya setelah Snowpiercer. Dalam film yang superserius tersebut, Bong menyoroti kesenjangan sosial dan kapitalisme dalam kemasan film aksi lewat perjalanan tokoh utamanya menuju gerbong utama sebuah kereta kiamat. Okja cenderung lebih ringan, karena ceritanya fabel dan diisi dengan momen dan penampilan aktor yang lebay. Film ini komedi, tapi juga mengandung beberapa hal yang superserius.

Okja adalah babi hibrid super ciptaan Miranda Corp yang dipimpin oleh Lucy (Tilda Swinton). Miranda Corp berhasil menemukan teknologi untuk mengembangkan hewan sintetis yang paling ideal untuk dijadikan bahan makanan. Dalam rangka pencitraan, perusahaan ini bermaksud mengadakan kompetisi dengan cara mengirim 26 bibit babi super ke 26 negara yang berbeda, lalu "memanen" mereka sepuluh tahun kemudian melalui acara kontes kecantikan. Babi tergemuk, terbaik dan terlezat di antara semuanya!

Sepuluh tahun berlalu, di Korea kita bertemu dengan Okja yang dirawat oleh seorang gadis kecil bernama Mija (Ahn Seo-hyun) yang tinggal bersama pamannya (Byun Hee-bong). Okja adalah sahabat Mija, dan mereka hidup bahagia tinggal di gunung, sampai seorang reporter suruhan Miranda Corp, Dr Johnny (Jake Gyllenhaal) datang dan bermaksud membawa pulang Okja ke New York.

Usaha Mija untuk membebaskan Okja membuatnya berjumpa dengan anggota "Animal Liberation Front" (ALF) yang dipimpin oleh Paul Dano. Grup ini adalah pecinta hewan yang begitu peduli, mereka tak mau menabrak truk yang membawa Okja sebelum sopir dan penumpangnya memasang sabuk pengaman. Tapi, tentu saja, grup ini juga aneh; hei, ini Paul Dano yang kita bicarakan. Anyway, mereka meminta persetujuan Mija untuk menyusup dengan memanfaatkan Okja dan mengekspos kekerasan hewan yang selama ini dilakukan Miranda Corp.

Okja tentu saja dikreasi lewat CGI dan bantuan practical effects. Ia mungkin bukan merupakan makhluk ciptaan komputer paling meyakinkan (terlebih jika membandingkannya dengan produksi studio besar Hollywood, katakanlah Pete's Dragon), namun pergerakan kamera turut membantu dalam mengaktualisasi wujudnya. Adegan kejar-kejaran di pusat kota Seoul yang melibatkan aksi memporak-porandakan supermarket membuktikan keterampilan Bong dalam mengatur komposisi dan mengedit gambar. Akting meyakinkan dari aktor cilik Ahn turut membuat kita terikat dengan karakter Okja.

Film ini punya kemiripan dengan salah satu film Bong sebelumnya, The Host. Ceritanya juga mengenai monster hibrid. Namun kesamaan yang lebih fundamental adalah bagaimana keduanya merupakan hibrida sinematis antara premis serius dengan komedi, dengan perubahan mood yang ekstrim. Dalam hal ini, Okja menjadi wadah yang lebih tepat bagi Bong. Berlebihan malah, karena beberapa bagian bergerak begitu liar ke arah yang sangat ganjil untuk bisa saya lahap. Perpindahan nuansanya terlalu ekstrim. Tadi kita dibawa berpetualang dan sekarang kita diperlihatkan dengan pembantaian hewan. Okja juga terkadang terlalu berfokus pada karakter-karakter antagonisnya, seperti Lucy yang nyentrik dan Dr Johnny yang histeris, dan ini belum termasuk saudari kembar Lucy, Nancy (juga dimainkan Swinton) yang tak kalah heboh. Ada pula subplot mengenai dinamika anggota ALF yang, jujur saja, menurut saya sebaiknya dibuatkan film tersendiri.

Mungkin ini karena Bong mendapatkan kebebasan yang besar dari Netflix. Ia tak diwajibkan berkompromi untuk menyajikan santapan yang harus memuaskan penonton mainstream. Dan ini adalah kualifikasi yang saya apreasiasi dari Okja, selain bagaimana semua orang yang terlibat termasuk para pemain sangat bersenang-senang disini.

Oh sebagai catatan tambahan, beberapa hari yang lalu saya menonton What the Health, dokumenter yang secara garis besar menyoroti bagaimana daging dan produk susu bisa merusak kesehatan. Saya tahu ini terdengar seperti propaganda, namun to be fair film tersebut menyajikan beberapa sumber berupa dokumen ilmiah. Nah What the Health tadi menjadi alasan ilmiah, sementara Okja cocok dijadikan alasan sentimentil; sekarang haruskan kita semua menjadi vegetarian? ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Okja' |
|

IMDb | Rottentomatoes
120 menit | Remaja

Sutradara Bong Joon-ho
Penulis Bong Joon-ho, Jon Ronson
Pemain Tilda Swinton, Paul Dano, Ahn Seo-hyun
BAGIKAN

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top