0

Review Film: 'Annabelle: Creation' (2017)

'Annabelle: Creation' melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan 'Ouija: Origin of Evil'; tampil lebih baik daripada film pendahulunya yang sama-sama hancur.

“Forgive me, Father, for I am about to sin.”
— Janice
Annabelle, film horor yang dirilis di 2014, sudah bisa menjadi cerita origin yang cocok bagi boneka iblis yang muncul dalam The Conjuring-nya James Wan. Jadi siapa yang butuh Annabelle: Creation, prekuel dari prekuel The Conjuring yang menceritakan origin SEBENARNYA dari boneka tituler tersebut? Tak ada, apalagi saat cerita asal mulanya ini juga sangat generik. Namun, Annabelle: Creation adalah film horor yang fun. Ia juga lebih baik daripada pendahulunya, meski jika pembandingnya adalah Annabelle, maka film yang bagaimanapun adalah sebuah peningkatan.

Annabelle: Creation melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ouija: Origin of Evil. Keduanya tampil lebih baik daripada film pendahulunya yang sama-sama hancur. Keduanya juga sama-sama merupakan prekuel, mengambil setting jadul jauh sebelum film pertama mereka. Dan keduanya juga punya Lulu Wilson! Konspirasi macam apa ini?


Film horor kekinian tak sedemikian menakutkan lagi seperti jaman dulu, karena sekarang semua bergantung pada kejut-mendadak alias jump-scares. Kita mengharapkan jump-scares dan, di beberapa waktu, tahu kapan ada jump-scares. Pembuat film Annabelle: Creation mungkin menyadari hal ini dan mereka bermain-main dengannya. Saat jump-scares datang kita terhenyak, lalu menertawakan diri sendiri atau teman di sebelah. Pemirsa yang menonton bersama saya berteriak, tertawa terbahak-bahak dan bertepuk tangan, menikmati momen mereka.

Sutradara filmnya adalah David F. Sandberg, yang tahun lalu memberikan kita Lights Out, salah satu film horor dengan jump-scares paling efektif yang pernah saya tonton. Seperti film horor kebanyakan, Annabelle: Creation berisi banyak jump-scares yang sebagiannya palsu. Anda tahu maksud saya. Film tak menanggapinya dengan serius karena sadar mereka mengecoh penonton, tapi Sandberg tak serta-merta membangun suspens sekenanya. Adegannya masih efektif, tapi kita tak merasa dicurangi, alih-alih senang karena dipermainkan. Baru di paruh terakhir lah, film ini menjadi horor sepenuhnya dengan kilasan beberapa gambar eksplisit yang tak saya antisipasi akan datang.

Walau gimmick-nya adalah boneka hantu, tapi film ini pada dasarnya adalah horor haunted-house. Film dibuka dengan keluarga yang pindah ke rumah baru yang sebenarnya rumah lama. Selalu begitu. Latarnya adalah rumah yang diambil langsung dari Wahana Rumah Hantu Sinematis: berukuran luas, punya banyak pintu, berkoridor gelap, berpencahayaan minim, lengkap dengan kamar misterius yang dikunci. Semakin komplit dengan keberadaan boneka menyeramkan di dalamnya. "Keluarga" ini adalah sekelompok anak yatim yang diasuh oleh suster Charlotte (Stephanie Sigman). Kenapa mereka mau pindah ke rumah terpencil ini membuat saya heran. Tapi sudahlah. Semua orang dalam film horor haunted-house selalu begitu.

Yang menampung mereka adalah sepasang suami-istri (Anthony LaPaglia dan Miranda Otto). Di awal film diceritakan bahwa lebih dari satu dekade sebelumnya, suami-istri ini kehilangan putri sematang wayang mereka karena kecelakaan. Demi mengurangi rasa kesepian dan untuk alasan yang takkan saya ungkap karena spoiler, pasangan ini mengundang rombongan anak yatim tadi untuk tinggal di rumah mereka. Sang suami berprofesi sebagai pembuat boneka. Kenapa ia membuat boneka dengan mata seseram Annabelle adalah satu hal lagi yang membuat saya heran. Tapi sudahlah. Boneka dalam film horor selalu begitu.

Semua anak yatim ini adalah cewek-cewek muda dan kecil, dan yang paling mencolok diantara mereka adalah Janice (Talitha Bateman) yang pincang. Bersama sobat karibnya Linda (Lulu Wilson), Janice bermain bersama dan ngobrol tentang masa depan mereka. Tentu saja, rumah ini bukan tempat yang menggembirakan untuk bermain, karena aura mistis menguar dari setiap sudut. Saat menemukan kertas bertuliskan "Find Me", Janice masuk ke dalam kamar misterius yang awalnya dikunci tadi, dan ia membuka sesuatu yang tak boleh dibuka. Kenapa dia berbuat bodoh adalah satu hal lagi yang membuat saya heran. Tapi sudahlah. Semua orang dalam film horor selalu begitu.

Boneka Annabelle adalah wadah yang menjadi tempat bersarangnya suatu entitas supranatural yang bisa berpindah kemana-mana. Secara logika tak masuk akal dilihat dari sisi manapun, tapi ini adalah aturan dalam filmnya kalau saya tak salah tangkap. Melihat bagaimana Annabelle: Creation bermain dengan longgar terhadap aturan ini, saya curiga penulis skripnya tak menuangkan pikirannya untuk, well, menulis skrip. Satu-satunya hal yang cerdas dari plotnya adalah bagaimana ending-nya berhasil menalikan film ini dengan awal dari film pertama Annabelle. Bahkan, di satu kesempatan ia juga menyentil keberadaan boneka Annabelle yang asli.

Jadi semua tergantung kepada tangan Sandberg untuk membuat filmnya tetap hidup. Meski triknya tak ada yang baru, namun soal kualitas teknis, Sandberg cukup terampil. Seperti Lights Out, ia juga memainkan pencahayaan dan komposisi gambar. Yang paling bagus adalah saat usaha menakutinya minimalis, seperti siluet di latar belakang atau mata berpendar di kegelapan. Ada juga teknik foreshadowing dengan menampilkan beberapa objek yang akan digunakan untuk gimmick nantinya. Saat saya melihat ada kursi pengangkut otomatis bagi Janice untuk naik ke lantai atas, saya langsung tahu kalau Janice akan ketiban sial gara-gara kursi ini.

Keputusan paling bijak dari film ini adalah dengan membiarkan Annabelle tak bergerak, setidaknya tidak di depan layar. Kita tak pernah melihatnya langsung menolehkan wajah, tapi kita tahu ia baru saja menoleh. Ini yang membuatnya lebih seram. Annabelle tak bisa lari atau terbang sambil terbahak-bahak mengejar korbannya. Dan jujur saja, ini bakal terlihat konyol di layar. Saya mau menonton adegan itu, tapi di film lain. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Annabelle: Creation

109 menit
Remaja - BO
David F. Sandberg
Gary Dauberman
Michelle Raimo Kouyate
Maxime Alexandre
Benjamin Wallfisch

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top