0

Review Film: 'The Emoji Movie' (2017)

'The Emoji Movie' bukan film yang *poop emoji*, melainkan hanya film yang *meh emoji*.

“My feelings are huge. Maybe I'm meant to have more than just one emotion!”
— Gene
Emoji memang berfungsi untuk membumbui komunikasi teks agar lebih ekspresif, bisa menyampaikan emosi dengan lebih sigap dan simpel daripada mengetik teks panjang lebar. Namun setiap emoji hanya berlaku untuk satu ekspresi. Emoji "Cry" dipakai untuk ekspresi sedih. "Blush" untuk tersipu. "Angry" untuk marah. "Laughing" untuk tertawa. Dan "Meh" cocok digunakan ketika kita tak terkesan. Entah itu saat mendengar tren baru yang tak kita pahami darimana hebohnya (Fidget Spinner, misalnya), dikirimi lelucon khas grup WA keluarga, atau saat menonton film The Emoji Movie.

The Emoji Movie, yang sudah dirilis 2 minggu lebih awal di Amerika, mendapat prediket buruk sebagai salah satu film sampah yang pernah dibuat. Saya tak melebih-lebihkan, silakan baca review luar negeri. Telah menontonnya sendiri, saya pikir film ini tak seburuk itu. Tapi saya juga tak bilang ini film yang bagus. The Emoji Movie bukan film yang 💩, melainkan hanya film yang 😒. Filmnya cuma membosankan dan malas saja.


Saya tak bisa menyalahkan anak-anak yang sangat-sangat kecil yang kemungkinan besar akan menikmati film ini sebagai hiburan ringan. Filmnya berisi apa yang mereka suka: warna-warni mencolok dan animasi hiperaktif. Namun The Emoji Movie hanya bermain di permukaan. Filmnya tak menawarkan sesuatu yang benar-benar kreatif atau greget. Leluconnya sangat basic, pembangunan semestanya tak imajinatif, dan plotnya relatif predictable. Filmnya terlalu dangkal dan cenderung bodoh di era dimana film animasi sudah berada di level lebih tinggi. Jika anda pikir anda bisa menebak plotnya hanya dengan mendengar premisnya, maka kemungkinan besar tebakan anda benar.

Nah, coba yang ini. Di dalam sebuah aplikasi perpesanan dalam smartphone, ada kota Textopolis yang populasinya diisi oleh semua emoji. Tugas mereka masing-masing adalah mengekspresikan satu emosi, yang akan di-scan oleh aplikasi kemudian dikirim oleh pemilik smartphone. Tapi Gene (TJ Miller), sebuah emoji "Meh" punya banyak ekspresi, tak seperti emoji normal. Jadi apa yang akan dia lakukan? Tentu saja, melakukan perjalanan untuk mencari jati diri. Tak lengkap jika ia tak ditemani satu teman sebagai tukang ngelawak: Hi-5 (James Corden), dan satu teman lagi yang rasional tapi dalam hal ini sedikit rebel: Jailbreak (Anna Faris).

Sembari menonton, pikiran saya menerawang. Pemilik smartphone ini adalah remaja tanggung bernama Alex (Jake T. Austin) yang selalu ragu saat ingin mengirim emoji kepada gebetannya, Addie (Tati Gabrielle). Karena film hanya berlangsung di smartphone Alex, saya jadi penasaran bagaimana suasana Textopolis di smartphone orang lain. Saat emoji yang dikirim sampai ke smartphone penerima, apa yang terjadi disana? Mungkin tak terjadi apa-apa kali ya, karena di Textopolis Alex tak ada keanehan semacam itu. Entah karena memang mekanikanya begitu, atau justru Alex yang tak pernah mendapat kiriman emoji dari orang lain. Puk puk.

Gene membuat kekacauan saat terlalu grogi sampai menampilkan ekspresi gado-gado saat dikirim Alex. Ini memancing amarah diktator negeri emoji, Smiler (Maya Rudolph) sehingga ia mengutus bot antivirus untuk melenyapkan Gene. Premis film mengijinkan karakter kita berpindah-pindah dari satu area ke area lain. Jika Wreck-It Ralph menyuguhkan set-pieces variatif yang imajinatif, di The Emoji Movie saya curiga ini merupakan promosi komersial untuk beberapa aplikasi. Gene harus menjadi pemain —sebagai candy— di Candy Crush. Gene mengajarkan Jailbreak berdansa di game Just Dance. Di satu momen, mereka berlayar di Spotify (cause it's STREAMING, get it?). Dan tujuan mereka adalah cloud milik aplikasi Dropbox yang "bebas malware dan aman". Ada satu lagi karakter dari aplikasi berlogo burung yang menjadi penyelamat. Bukan, bukan Traveloka.

Film ini tak sedemikian beracun sampai memaksa saya mencuci mata sehabis menonton. Tapi cukup membuat saya menguap berkali-kali. Pembuat The Emoji Movie tak mengisi filmnya dengan humor berbobot, gaya visual, atau perspektif narasi segar yang membuat kita terikat. Kentara sekali film ini adalah produk rapat eksekutif yang oportunis. Sasarannya plot dan humor gampangan. Emoji "Poop" yang dimainkan oleh Yang Terhormat Patrick Stewart punya permainan kata tentang eek yang akan lebih mengena dalam bahasa Inggris. Lalu, apa yang dilakukan emoji "Monkey" yang berpakaian jas? "Monkey business", tentu saja. Hi-5 terutama, terjebak dalam running-gag mengenai memakan muntahan kembali. Dan ngomong-ngomong, film ini dibuka dengan film pendek dari Hotel Transylvania yang berjudul "Puppy!", tentang Drakula yang membelikan cucunya seekor anjing raksasa. Film ini selucu lelucon "monkey business".

Anak-anak mungkin juga takkan keberatan dengan pesan moral mengenai penerimaan diri dan kasih sayang orangtua (yap, Gene punya orangtua yang juga emoji Meh yang diisikan suaranya oleh Steven Wright dan Jennifer Coolidge) yang sudah sering mereka lihat di film yang lebih bagus. Tapi tolong nasihati mereka agar tak salah tanggap mengira bahwa mengirim emoji bisa dengan mudah membuat mereka di-notice seseorang. Oh satu lagi. Candy Crush is awesome, but not that awesome. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

The Emoji Movie

91 menit
Semua Umur - BO
Tony Leondis
Tony Leondis, Eric Siegel, Mike White
Michelle Raimo Kouyate
Patrick Doyle

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top