0

Review Film: 'The Hunter's Prayer' (2017)

Saya yakin pembuat 'The Hunter's Prayer' tahu mereka akan membuat film seperti apa, tapi tak cukup tahu bagaimana cara kesana.

“When you take a life, it takes yours.”
— Stephen
Saya yakin pembuat The Hunter's Prayer tahu mereka akan membuat film seperti apa, tapi tak cukup tahu bagaimana cara kesana, setidaknya jika saya lihat dari apa yang saya tonton. Hubungan karakter adalah aspek krusial dalam film ini. Tak hanya untuk meningkatkan stakes yang harus dihadapi karakternya, tapi yang lebih mendasar lagi, menjadi alasan rasional bagi pilihan yang mereka ambil sejak awal.

Film ini memakai formula premis Jagoan Misterius Tangguh yang Melindungi Cewek Muda, yang sudah jamak kita lihat mulai dari Leon: The Professional-nya Jean Reno dan Natalie Portman, sampai Safe-nya Jason Statham. Pelindung dan yang dilindungi hidup di dunia yang berbeda, tapi mereka terikat oleh suatu alasan. Tingkat kepercayaan kita akan alasan tersebut menentukan keyakinan kita terhadap hubungan dan motif tindakan mereka nantinya. Namun The Hunter's Prayer tak memberikan hal semacam ini. Mereka baru kenal, tapi bicara seolah sangat peduli satu sama lain, sementara kita tak percaya karena chemistry mereka hambar.


Stephen adalah mantan tentara Irak yang sekarang bekerja sebagai pembunuh bayaran. Ia juga seorang pecandu. Kita tak percaya itu karena ia tampak seperti pria baik-baik dengan wajah Sam Worthington, namun nanti kita bakal melihat ia memakai narkoba dalam situasi yang memalukan. Misi terbarunya adalah melenyapkan seorang gadis muda bernama Ella (Odeya Rush).

Ella sendiri tak tahu bahwa kedua orangtuanya baru saja dibantai oleh pembunuh bayaran lain yang dikirim oleh bos yang sama dengan pengutus Stephen, karena ia tinggal di asrama sekolah mewah di tempat nun jauh disana. Ella adalah anak orang kaya, jadi ia menghabiskan malam dengan berpesta dan tak merasa aneh saat dikuntit pria besar. "Kadang ayahku menyewa orang untuk mengawasiku," ujar Ella pada pacarnya.

Pria kali ini ternyata adalah Stephen, namun Stephen tak mau menarik pelatuk, alih-alih malah menyelamatkan Ella dari pembunuh lain yang juga mengincar Ella. Well, mungkin bos Stephen tak percaya pada Stephen afterall. Bos ini adalah Richard (Allen Leech), rentenir yang uangnya dibawa kabur oleh mendiang ayah Ella. Ia punya anak buah seorang agen FBI (Amy Landecker) dan pembunuh bayaran yang seefektif Stephen (Martin Compston).

Tentu saja, anda sudah tahu akan ada adu jotos, tembak-tembakan, dan kejar-kejaran mobil. Sutradara Jonathan Mostow, yang pernah menggarap Terminator 3, menanganinya dengan cukup kompeten. Namun tidak demikian dengan naratif film. Itensitasnya tak menggigit karena stakes-nya yang nihil. Tak membantu saat set-pieces dan koreografinya juga generik.

Di samping chemistry tokoh utama kita yang nyaris tak ada, antagonis kita juga masuk dalam kategori konyol untuk film seserius ini. Ia menguasai separuh polisi di Eropa (serius, Stephen yang bilang), dan punya sepasang anjing rottweiler yang sadis, just because. Ini adalah kekonyolan yang cocok dalam film aksi kelas B ringan. Namun The Hunter's Prayer tenggelam dalam pretensinya sendiri. Ia terlalu serius untuk bisa dinikmati. Dan saya tak bisa peduli dengan keseriusannya, karena ia gagal dalam visi paling mendasar.

"Kupikir kamu membantuku!" teriak Ella kepada Stephen di satu adegan. Tak ada yang berpikiran seperti itu, Ella. Cuma kamu saja. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

The Hunter's Prayer

91 menit
Remaja - BO
Jonathan Mostow
Paul Leyden, Oren Moverman (screenplay), Kevin Wignall (novel)
Tove Christensen, James Costas, Paul Leyden, David McIlhargey, Christopher Milburn, Anthony Rhulen, Paul Rock, John Schwarz, Michael Schwarz, Michael Wexler, Sam Worthington
José David Montero
Federico Jusid

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top