0

Review Film: 'Valerian and the City of a Thousand Planets' (2017)

Tak ada studio yang berani berinvestasi untuk kekacauan epik seperti ini.

“It's our mission that doesn't make sense, sir.”
— Laureline
Valerian and the City of a Thousand Planets, bersama dengan Avatar-nya James Cameron, adalah film yang sangat cocok diputar sebagai pariwara bagi televisi yang dipajang untuk dijual di etalase supermarket atau mall. Tidak menjadi masalah jika Valerian tak punya substansi yang memadai, karena yang diperlukan hanyalah visual yang memanjakan mata dengan spektrum warna yang luas dan efek spesial yang tajam. Kita bisa memotong adegan manapun dari film, dan setiap potongan ini masih terlihat spektakuler.

Yang menciptakan semesta cantik nan aneh ini adalah Luc Besson, sutradara visioner yang pernah memberikan kita The Fifth Element dan Lucy. Imajinasinya begitu liar, film ini seperti dibuat oleh anak-anak yang sedang menceritakan sebuah space adventure absurd pada teman sekelasnya. Bedanya, ia punya bujet $200 juta, dan mendapat kontrol kreatif penuh karena bujet tersebut didapat secara independen. Tentu saja, tak ada studio yang berani berinvestasi untuk kekacauan epik seperti ini.


Valerian adalah banyak hal: imajinatif, sinting, indah, amburadul, menegangkan, menjemukan. Dan di atas semuanya, disesaki dengan banyak ide. Film ini diangkat dari komik Prancis, Valerian and Laureline karya Pierre Christin dan Jean-Calude Mezieres yang merupakan bacaan Besson semasa kecil. Kabarnya, komik ini menjadi inspirasi bagi Star Wars, tapi yang jelas inilah basis Besson dalam menggarap The Fifth Element. Seperti anak-anak yang diberikan mainan baru, Besson kegirangan dan menuangkan semuanya. Untungnya, ia punya sensitivitas visual yang sepadan. Saya berasumsi mungkin seperti inilah kira-kira visi sebenarnya dari George Lucas untuk semestanya dalam film pertama Star Wars.

Semesta Valerian terdiri dari ribuan ras alien yang mungkin berasal dari, uhm, seribu planet. Diiringi lagu "Space Oddity"-nya David Bowie, kita melihat prolog yang menceritakan bagaimana diversifikasi ini dimulai. Awalnya, pesawat luar angkasa Amerika bergabung dengan Rusia, lalu diikuti oleh pesawat dari negara lain sehingga lahirlah Stasiun Luar Angkasa Internasional. Beberapa dekade kemudian, manusia berjabat tangan bukan dengan manusia lagi, melainkan dengan alien. Satu demi satu spesies baru dari galaksi berdatangan, hingga membentuk stasiun luar angkasa intergalaksi yang begitu besar hingga harus dilepas dari orbit bumi dan mengembara bebas di semesta. Di abad ke-28, stasiun ini berubah menjadi Alpha, Kota Seribu Planet dengan ribuan spesies yang saling berbagi pengetahuan dan budaya.

Valerian (Dane DeHaan) dan Laureline (Cara Delevingne) adalah agen yang bertugas seperti semacam polisi luar angkasa. Misi terbaru mereka adalah mengamankan "konverter" yang akan dijual di pasar gelap. Ijinkan saya berhenti sebentar. Konverter yang dimaksud ini bukanlah peralatan teknik, melainkan hewan lucu mirip trenggiling mini yang bisa mengeluarkan puluhan permata dalam sekali eek. Jaman dulu, permata ini dipakai oleh alien dari Planet Mul sebagai sumber energi bagi keseharian mereka, sebelum planetnya luluh lantak karena kehancuran global. Tampilan fisik alien ini tak jauh berbeda dengan Na'vi dari Avatar; gaya hidupnya primitif tapi harmonis dengan alam, bedanya kulit mereka lebih pucat, dan mereka tak punya naga terbang.

Saya ingin cerita soal pasar gelap tadi yang diberi nama Pasar Besar. Ini adalah salah satu sekuens paling kreatif yang akan anda temukan dalam sebuah films sci-fi. Pasar Besar ini berada di dimensi lain, sehingga pengunjung yang ingin belanja harus menggunakan kacamata khusus dan alat transfer khusus. Eksistensinya paralel, jadi walau aslinya terlihat seperti gurun tandus, namun sebenarnya pengunjung berada di pasar yang penuh sesak. Kita dibawa mengikuti Valerian dan Laureline yang secara simultan berlarian, berlompatan, dan menembakkan laser dalam satu sekuens aksi yang dilakukan di dua dimensi. Lebih mudah dimengerti saat anda menyaksikannya sendiri.

Saat kembali ke Alpha, keduanya melapor kepada Komandan Filitt (Clive Owen) yang memberitahu mereka bahwa Kota Seribu Planet mulai mengalami kerusakan di satu seksi; semacam infeksi yang akan terus menyebar ke seksi lain. Valerian dan Laureline diperintahkan untuk menyelidiki yang berujung pada penemuan sebuah konspirasi pemerintah. Saya takkan memberitahu anda, tapi anda pasti sudah bisa menebak siapa dalangnya saat ia pertama kali muncul di layar. Film ini tak berusaha menyembunyikan misterinya.

Dalam beberapa hal, Besson adalah sutradara yang murni sensasi, tak jauh beda dengan Michael Bay. Namun ia dibekali dengan imajinasi dan antusiasme yang tak kita lihat dalam produk Transformers yang hampa dan sinis. Untuk Valerian, Besson menciptakan sebuah semesta yang kompleks, hidup, dan punya tekstur, yang bisa jadi membuat sineas space adventure lain merasa iri. Ia mengisi dunianya dengan detil, yang layak ditonton ulang hanya untuk melihat detilnya. Luar biasa bagaimana ia bisa mengubah setiap sen dari bujetnya menjadi parade efek spesial yang kompeten dan bagaimana obsesinya terhadap world-building. Bahkan, bisa dibilang nyaris seluruh film adalah soal world-building. Lagi dan lagi. Saya penasaran berapa sen yang ia anggarkan untuk skrip, karena dari yang saya lihat, film ini tampaknya tak punya plot sungguhan.

Besson pasti lebih tertarik pada kreasi aliennya yang multikultural daripada karakter manusia yang berakhir tak mencolok. Rihanna lebih menarik saat ia menjadi alien penari striptis yang bisa berubah menjadi apa saja. Valerian dimaksudkan sebagai karakter slenge'an tapi karismatik semacam Han Solo, namun DeHaan bukanlah tipe aktor yang seperti itu. Delevingne masih menyampaikan dialog dengan kaku, tapi gaya sarkastis dan spontan membuatnya tampil lebih mencolok. Di awal film, Valerian melamar Laureline, tapi karena penyampaiannya tak meyakinkan, sama seperti Laureline, tak sedikitpun kita percaya akan kesungguhan lamaran tersebut.

Dua puluh tahun lalu, The Fifth Element dirilis dan banyak orang yang belum siap untuk menerima keanehannya. Namun waktu membuktikan bahwa film yang mengecewakan seperti itu bisa menjadi film cult. Saya tak yakin Valerian akan mendapat reputasi yang serupa (anda boleh kembali lagi kesini dan menulis komentar di bawah saat prediksi saya ini terbukti keliru). Valerian memang juga punya konsep edan dengan kemegahan visual, tapi di The Fifth Element kita juga dibuat mengingat Bruce Willis dan Milla Jovovich. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

'Valerian and the City of a Thousand Planets' |
|

IMDb | Rottentomatoes
137 menit | Remaja

Sutradara Luc Besson
Penulis Luc Besson (screenplay), Pierre Christin, Jean-Claude Mézières (komik)
Pemain Dane DeHaan, Cara Delevingne, Clive Owen

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top