0

Review Film: 'American Assassin' (2017)

Digarap dengan baik, tapi tak ada karakteristik yang membuatnya benar-benar berbeda dari para agen sinematis lainnya.

“Don't make it personal.”
— Stan Hurley
Mungkin CIA seharusnya membiarkannya melakukan apa yang sedang ia lakukan. Mitch Rapp (Dylan O’Brien) adalah seorang vigilante, pejuang jalanan yang menumpas teroris internasional dari satu sarang ke sarang lainnya hanya berbekal kemampuan dan akomodasi pribadi. Namun jangan salah, Mitch sudah sedemikian terampil hingga bisa menyusup ke sarang teroris yang menjadi target pamungkasnya. Ia pada dasarnya adalah Batman wannabe spesialis teroris. CIA butuh lebih banyak orang yang seperti ini; mereka tak perlu repot-repot lagi turun tangan langsung. Di lain sisi, Mitch juga terlalu sayang untuk dikorbankan, meski ia lebih sering membahayakan nyawanya dan misi gara-gara tak bisa mengontrol diri.


Mitch Rapp merupakan karakter rekaan Vince Flynn yang diciptakan sebagai tokoh utama untuk belasan seri novelnya. American Assassin adalah penampilan perdananya di layar lebar, dan sepertinya dimaksudkan sebagai pembuka bagi franchise aksi mata-mata berbasis karakter, sama halnya dengan Jack Ryan-nya Tom Clancy atau Jack Reacher-nya Lee Child. Mitch adalah agen yang lumayan tangguh dan efektif tapi agresif dan pikirannya tak terlalu panjang. Semacam Bourne versi ceroboh. Selain dari itu, sama seperti filmnya ini sendiri, tak ada karakteristik lain yang membuatnya benar-benar berbeda dari para agen sinematis lainnya.

Kita pertama kali mengenal Mitch 18 bulan sebelumnya, saat ia akan melamar pacarnya di sebuah resort mewah di pantai Ibiza. Namun, tiba-tiba pantai tersebut diserbu oleh teroris muslim yang segera menembaki pengunjung dengan membabi-buta dalam sebuah sekuens one-take yang kesadisannya di luar perkiraan saya sebelum menonton. Mitch berhasil selamat meski mengalami luka tembak yang cukup parah. Namun, di antara puluhan yang meninggal, salah satu korban adalah pacarnya.

Sekarang Mitch sudah menjadi pria tangguh. Tahu darimana? Tahu dari sikapnya yang suka memancing keributan. Di sasana MMA, ia menghajar teman sparring-nya. Di area menembak, ia sembarangan menembaki semua target (walau semuanya tepat sasaran). Di rumah, ia dengan gaduh meninju sansak sampai membuat tetangganya protes. Oh, dan ia juga menumbuhkan jenggot lebat, karena orang tangguh selalu punya jenggot lebat. Hasratnya adalah membunuh teroris yang sudah membantai pacarnya. Agar lebih meyakinkan saat menyusup ke sarang mereka nanti, Mitch juga sudah mendalami Islam.

Ia berangkat ke Libya dengan modal sendiri. Kerennya lagi, ia berhasil berhadapan langsung dengan para teroris. Begitulah tangguhnya Mitch. Ia siap membunuh Mansur si pimpinan teroris dan semua orang yang ada disana, namun CIA lagi-lagi melakukan sesuatu yang menjadi spesialiasi mereka: ikut campur dalam urusan orang lain. Dor! Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin ini alasan kenapa Mitch cepat panas dan selalu bandel dalam menjalankan misinya nanti.

Ternyata CIA sudah lama memantau aktivitas Mitch. Ia dibawa ke kantor CIA. Namun alih-alih ditangkap, CIA malah bermaksud untuk melatih Mitch menjadi agen sungguhan. “Ia adalah vigilante terbaik yang pernah kulihat,” ujar Sekretaris CIA, Irene (Sanaa Lathan) yang kemudian membawa Mitch untuk dilatih oleh Batman langsung, Michael Keaton sebagai veteran perang bernama Stan Hurley yang punya fasilitas latihan khusus di tengah hutan. Bagian di fasilitas latihan ini menginjeksikan sedikit orisinalitas bagi plotnya yang relatif standar. Latihan yang diberikan lumayan barbar, dimana para murid harus bertarung satu sama lain dengan brutal sementara Hurley melakukan provokasi verbal sampai menembakkan pistol hanya untuk sekadar mengganggu fokus mereka. Namun fasilitas ini sebenarnya juga canggih. Ada latihan menembak dengan perangkat virtual reality hingga simulasi di area soundstage studio.

Ceritanya tak bisa lebih klise lagi dengan sumber konflik yang melibatkan pemicu nuklir. Kita bahkan diberikan antagonis berjuluk “The Ghost” (Taylor Kistch) yang merupakan mantan agen yang sekarang menjadi penjahat internasional. Ia baru saja mencuri pemicu tersebut dari mafia Rusia, dan sekarang berniat untuk menjualnya kepada penawar tertinggi. Stan merasa Mitch belum siap untuk misi ini, namun Irene yakin ia sudah mampu. Tak perlu kita tanya kenapa.

Yang dibutuhkan oleh film semacam ini hanyalah tokoh utama dan sekuens laga yang meyakinkan. Dylan O’Brien menarik untuk dilihat. Ia bukan lagi remaja puber yang anda ingat pernah berlarian di The Maze Runner, melainkan benar-benar tampak tangguh sebagai bintang laga meski masih punya rambut bergaya anak band. Ia memberikan fokus dan amarah yang cukup bagi karakternya. Sementara itu, Keaton sepertinya tahu ia sedang bermain di film seperti apa. Scott Adkins dan Shiva Negar tampil singkat sebagai pemeran pendukung.

Adegan aksinya berlangsung di semesta khas film aksi, dimana para karakter kita saling menembak di tengah keramaian tapi tak terlalu menarik perhatian polisi. Kalau saya tak salah ingat, hanya ada 4 polisi yang muncul disini, dan tak ada satupun yang krusial bagi cerita. Mungkin mereka tak mau ikut campur urusan CIA. Meski begitu, ia digarap dengan baik. Sutradara Michael Cuesta kebanyakan merancang sekuens aksinya yang agresif dalam sorotan close-up, lebih sering melibatkan pertarungan jarak dekat. Ada sebuah adegan besar di klimaks, lebih dari sekadar tabrakan mobil atau kehancuran gedung, yang dibuat menggunakan banyak CGI dan tak kita duga akan kita dapatkan dalam film seperti ini. Adegan ini takkan saya ungkap, yang jelas lumayan membuat saya terpana.

Saya bisa membayangkan bagaimana film ini mungkin akan membuat tersinggung banyak orang, khususnya di jaman sekarang dimana semua orang bisa tersinggung hampir karena apapun. Pemilihan antagonisnya yang berdasarkan paradigma sosiopolitis Amerika akan memancing kontroversi terutama di negara Islam. Ada pula beberapa adegan yang memperlihatkan kekerasan terhadap wanita, yang secara naratif masuk akal, tapi tetap membuat lidah saya sedikit kecut saat menyaksikannya.

Namun kita lebih baik tidak memikirkannya, karena filmnya sendiri juga tak begitu memikirkannya. Elemen tadi hanyalah mekanika plot untuk menyuguhkan kita sebuah film aksi yang lebih bergantung pada aksi daripada melibatkan aspek manusiawi apalagi kontemplasi politik. Dan bagian aksinya lumayan seru untuk disaksikan. Lagipula tak banyak yang akan anda ingat dari film ini saat anda melangkah keluar dari pintu bioskop. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

American Assassin

111 menit
Dewasa
Michael Cuesta
Stephen Schiff, Michael Finch, Edward Zwick, Marshall Herskovitz (screenplay), Vince Flynn (novel)
Lorenzo di Bonaventura, Nick Wechsler
Enrique Chediak
Steven Price

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top