0

Review Film: 'Berlin Syndrome' (2017)

Judulnya bermain dengan ekspektasi kita. Sayangnya, saya mendapati filmnya terlalu panjang secara durasi tapi juga terlalu singkat untuk menggali lebih dalam.

“Don't worry. No one can hear you.”
— Andi Werner
Berlin Syndrome adalah judul yang bagus. Ia bermain dengan ekspektasi kita. Judul tersebut kemungkinan merujuk kepada "Stockholm Syndrome", yang sebagaimana kita tahu, merupakan respon psikologis dimana para sandera penculikan mulai merasakan simpati kepada penyanderanya tanpa mempedulikan apa yang telah mereka alami sebelumnya. Apakah tokoh utama kita, Clare akan mengalami pergeseran persepsi, tak hanya menerima takdirnya tapi juga mulai jatuh hati kepada penyekapnya, Andi?

Nice try, Cate Shortland.


Tak seorang pun dengan akal sehat yang mau menerima orang yang menyekapnya selama (mungkin) berbulan-bulan lalu menjadikannya pacar, kecuali jika anda adalah Kristin dari Bank Sveriges Kredit di Swiss yang saking cintanya pada penyandera sampai membatalkan pertunangannya dengan sang pacar. Fakta logis ini menjadikan konsep utama yang diangkat filmnya, yang jika dilihat dari judulnya adalah suspens mengenai apakah tokoh utama kita "akan" atau "tidak akan", tidak lagi menjadi, uhm, suspens. Kita tahu apa yang akan terjadi dan filmnya juga tak memberi semacam pengalihan yang meyakinkan untuk membuat kita percaya itu akan terjadi atau tidak.

Meski begitu, ketegangan film ini cukup untuk membuat satu lagi alasan kuat agar jangan bepergian sendirian ke kota asing, khususnya jika anda adalah seorang wanita muda dan digoda oleh bule tampan. Bule mungkin besar (badannya), tapi belum tentu baik hatinya. Saya yakin film ini pasti lebih menakutkan bagi penonton wanita. Menariknya, Berlin Syndrome melakukan pendekatan yang berbeda dari premisnya di permukaan. Film ini bukan thriller bunuh-bunuhan melainkan thriller psikologis. Alih-alih menjadi film gore dangkal dengan adegan siksa-menyiksa atau pelecehan seksual, Cate Shortland yang mengangkat skrip dari Shaun Grant hasil adaptasi novel Melanie Joosten mencoba bergerak lebih dalam dengan berfokus pada aspek psikologis baik pelaku maupun korbannya.

Clare (Teresa Palmer) adalah seorang gadis Australia, yang sebagaimana kebanyakan milenial yang punya terlalu banyak duit, melakukan perjalanan ke luar negeri dalam rangka mencari jati diri. Ia berkelililing kota Berlin sendirian, berbelanja, atau mengambil foto bangunan bersejarah. Pribadi Clare sepertinya asyik, karena ia dengan mudah bisa berbaur dan nongkrong dengan anak-anak muda di sekitar hostelnya.

"Hampir semua orang yang jalan-jalan sendirian itu kesepian," kata Andi (Max Riemelt) yang tampan. Andi yang seorang guru SMA, sepertinya lucu, ramah, dan hangat. Oh, apalagi ia juga menawarkan stroberi segar; tak ada yang tak suka stroberi. Jadi, Clare sengaja menunda perjalanannya ke Dresden, lalu dengan horny (saya nilai dari napasnya yang terengah) kembali mengunjungi Andi. Keduanya menghabiskan malam yang menggairahkan di apartemen Andi. Benar, sesuatu yang mengerikan akan segera terjadi, tapi Clare belum akan tahu itu.

Well, Clare sudah punya firasat, tapi begitulah. Pagi harinya, Clare mendapati pintu apartemen terkunci dari luar. Saat pulang kerja, Andi minta maaf tidak meninggalkan kunci cadangan. Clare percaya dengan berat hati dan masih belum juga pulang. Esok harinya, ia melihat kunci di atas meja, namun akhirnya menyadari bahwa Andi sama sekali tak menginginkannya pergi.

Shortland membangun setup-nya dengan penceritaan yang efektif. Ia menggunakan eksposisi minimal yang terjalin mulus dengan cerita. Paruh pertama adalah bagian terbaik dari filmnya. Kita tahu apapun yang terjadi di apartemen Andi takkan sampai ke dunia luar. "Tak ada yang akan mendengarmu," kata Andi di momen panas saat mereka pertama kali bercumbu. Takkan ada pula yang akan mendengar saat Clare grasak-grusuk berusaha kabur nantinya. Jendela apartemennya anti pecah. Jaringan ponsel tak sampai kesana.

Ada beberapa adegan yang akan membuat ngilu, tapi Berlin Syndrome sebagian besar mengenai dinamika hubungan antara Clare dengan Andi, menjanjikan sesuatu yang tampaknya berhubungan dengan judul film. Seiring dengan berjalannya waktu, kecuali fakta bahwa ia disekap, Clare diperlakukan dengan normal. Andi membawakannya bunga, kado, memasakkan makanan, memandikan hingga memotongkan kuku Clare. Meski demikian, kita masih bisa merasakan kesedihan dan keletihan mendalam dari Clare berkat penampilan kuat dari Palmer. Karakterisasinya yang lebih bertumpu pada gestur dan ekspresi. Palmer menunjukkan karakter yang kompeks terlepas dari fakta bahwa karakternya yang tak banyak omong dan tak terlalu dijelaskan latar belakangnya.

Shortland membagi perhatian dengan seimbang bagi kedua tokoh utamanya. Untuk karakter Clare, kita diajak mengintip transisi kondisi mentalnya. Sedangkan Andi mendapat porsi untuk diperlihatkan sekilas mengenai masa lalu dan apa yang kemungkinan besar membuat ia menjadi seperti sekarang. Walaupun tak sampai membuat kita berempati pada Andi, Riemelt memainkan perannya dengan tenang dan tulus yang menyugestikan bahwa maniak ini paling tidak punya sisi lembut. Ia lebih seperti pria melankolis yang tak bisa menahan obsesi sintingnya. Tak sedikit pun kita melihat Andi sebagai penjahat yang lebai walau sempat beberapa kali berbuat sadis.

Sayangnya, saya mendapati film ini terlalu panjang secara durasi tapi juga terlalu singkat untuk menggali lebih dalam. Film sampai pada klimaks yang tak begitu mengeksplorasi apa yang coba diangkatnya. Cengkeramannya mulai melonggar ketika setup-nya sudah selesai. Di pertengahan film Clare tampak sudah terlalu letih karena disekap selama berhari-hati. Saya juga mulai jemu saat filmnya bertele-tele disana. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Berlin Syndrome

116 menit
Dewasa
Cate Shortland
Shaun Grant (screenplay), Melanie Joosten (novel)
Polly Staniford
Germain McMicking
Bryony Marks

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top