0

Review Film: 'The Evil Within' (2017)

'The Evil Within' memang sinting bukan main. Layak ditonton hanya untuk melihat kenyentrikannya saja.

“Let me show you the one that I had last night.”
— Dennis
Holys**t! Anda benar-benar harus membaca cerita di balik layar dari produksi The Evil Within. Film ini digarap oleh Andrew Getty, anak dari keluarga Getty yang terkenal kaya di Amerika, yang menghabiskan hidupnya selama 15 tahun untuk membeli peralatan, merancang tata produksi, mengulik gambar, dan memoles efek spesial selagi krunya datang dan pergi silih berganti, demi menyempurnakan proyek personalnya ini. Dan semua dilakukannya dengan merogoh kocek sendiri, hingga mencapai $6 juta. Ini adalah bukti dari ambisi gila dari seorang auteur sejati. Jadi kalau nanti ada sutradara yang mencak-mencak saat passion project-nya tak mendapat lampu hijau dari studio, mereka seharusnya mengaca pada Getty.


Hasil akhirnya tak sehancur yang kita kira, karena cerita filmnya relatif koheren dan masih bisa dicerna.  Meski proses syutingnya sangat panjang, ia tak seperti film yang disusun dari potongan-potongan yang tak saling berhubungan. Namun The Evil Within memang sinting bukan main. Layak ditonton hanya untuk melihat kenyentrikannya saja. Film ini dibuka dengan sekuens mimpi yang sangat ganjil, dimana Getty menggunakan beberapa manipulasi gambar yang ajaib padahal hanya untuk bagian yang berdurasi beberapa menit saja. Sampai akhir film, Getty menggunakan begitu banyak trik untuk memberikan kesan sureal. Ini adalah film bunuh-bunuhan, tapi Getty merengkuh absurditas filmnya dengan totalitas, sehingga memberikan kesan sureal yang serius. Anda mungkin akan teringat pada film-film lama David Lynch. Gambar-gambarnya selalu akan mengejutkan kita, bahkan saat ia tak masuk akal sama sekali.

Ceritanya tentang Dennis (Frederick Koehler) yang awalnya kita kira sebagai tokoh utama yang pintar karena narasinya yang tegas dan berwibawa. Ia memberikan penjelasan meyakinkan tentang mimpinya dulu. "Jangan kaget, karena itu cuma suara hatiku. Aslinya aku berbeda," kata Dennis. Sebenarnya Dennis adalah pria yang sedikit mengalami keterbelakangan mental. Ia tinggal serumah bersama sang kakak, John (Sean Patrick Flannery) yang bersikeras untuk merawatnya langsung, walau John sendiri sebenarnya adalah perawat yang payah. Kerjanya cuma nongrong dari satu restoran ke restoran lain, lalu berantem dengan pacarnya soal pernikahan.

Suatu hari, John menaruh cermin antik besar di kamar Dennis, tak peduli dengan protes dari adiknya tersebut. Saat dalam sebuah film horor kita mendengar kata "antik", kata tersebut juga berarti "angker". Dan ya. Dennis mulai melihat hal-hal aneh dalam cermin tersebut. Mulai dari bayangannya sendiri yang terlihat lebih kejam, hingga makhluk semacam setan (John Berryman dalam balutan make-up yang akan selalu terbayang di ingatan kita) yang menyugesti pikiran Dennis dengan hal-hal keji. Lewat cermin, Dennis sering berkomunikasi dengan mereka. Ada cara bagi Dennis untuk bisa hidup normal dan tak menjadi beban bagi orang lain, tetapi ia harus membunuh makhluk hidup; hewan dulu, lalu anak-anak, baru kemudian orang dewasa.

Apakah ini setan ini benar-benar ada atau hanya halusinasi Dennis saja? Saya sendiri tak yakin, namun mungkin memang begitulah yang dimaksudkan oleh pembuat filmnya. Apa yang dialami Dennis begitu abstrak, kita tak lagi bisa membedakan antara mimpi dengan kenyataan. Namun kisah Dennis memang "mimpi buruk", entah secara harfiah atau kiasan. Di awal film kita mempelajari bahwa mimpi itu tak terkendali, tak berbentuk. Saat Dennis merasa sudah berhenti bermimpi, ia malah diberitahu "siapa bilang mimpimu sudah berakhir?". Menarik untuk mempertimbangkan apakah mimpi buruk ini adalah memang hasutan dari suatu entitas supranatural atau kreasi pikirannya sendiri.

Katanya The Evil Within adalah film yang sangat personal bagi Getty. Bukan saja karena ini merupakan satu-satunya skrip yang berhasil ia produksi menjadi sebuah film, namun juga karena ini berasal dari mimpinya sendiri. Benar sekali. Getty mengklaim memimpikan langsung semua yang terjadi disini dan merangkainya dalam satu skrip. Holys**t! Mimpi buruk yang luar biasa, jika dilihat dari horor yang disajikan. Saya tak bisa membayangkan mengalami mimpi buruk sesinting ini. Apakah ini ada hubungannya dengan hobi Getty mengkonsumsi sabu, saya juga tak tahu.

Getty melempar semua yang ia punya agar film ini menangkap persis visinya. Ia merancang sendiri practical effects yang dipakai, termasuk make-up dan beberapa animatronik yang menyeramkan. Nyaris tak ada tipu daya komputer; hampir semua dibuat dengan tangan. Untuk ukuran sutradara debutan, mencengangkan melihatnya yang dengan lihai menerapkan beberapa teknik filmmaking yang sulit. Ada adegan dimana Dennis dikelilingi cermin yang menciptakan bayangan tak berhingga. Di satu titik, kamera tanpa kentara bergerak di antara cermin mempermainkan perspektif kita, menciptakan ilusi yang meneror. Saya jadi kagum melihat berapa akurat perhitungannya dalam penempatan kamera. Imagery yang seperti ini menciptakan atmosfer asing yang tak nyaman.

Sekarang, Getty sudah menjadi almarhum. Ia meninggal dua tahun yang lalu gara-gara pendarahan akibat komplikasi narkoba, sehingga filmnya harus dibereskan oleh sang produser, Michael Luceri. Jadi The Evil Within adalah film pertamanya dan satu-satunya. Ini film yang kacau mengingat ceritanya yang melebar ke beberapa subplot gaje. Namun secara visual, ia sangat menggigit karena dibuat oleh orang yang tak terikat dengan sistem studio Hollywood. Ia tak terbatasi dengan materi yang mungkin akan terjegal dalam skala produksi industri. Getty hanya ingin filmnya dibuat, "mimpi buruk"-nya termanifestasi. Konsumennya adalah yang ingin melihat some bats**t crazy stuff. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

The Evil Within

98 menit
Dewasa
Andrew Getty
Andrew Getty
Robert Hickey, Kent Van Vleet, Michael Luceri
Stephen Sheridan
Mario Grigorov

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top