0

Review Film: 'Extortion' (2017)

Kalau saja film ini berhenti di menit ke enam puluh, ia akan menjadi film yang jauh lebih baik.

“How much is your family life worth?”
— Miguel Kaba
Extortion bisa menjadi film thriller kelas B yang sangat menegangkan dan efektif, namun mengapung terlalu jauh dari premis sederhananya untuk menjadi film lain yang lebih rumit. Film ini keluar dari jalur beberapa kali menuju arah yang tak kita duga, tapi juga tak kita harapkan, in a bad way. Melewati setengah durasi, ia menjadi film yang semakin buruk setiap menit berjalan selagi karakter kita melakukan hal-hal yang semakin bodoh, not in a fun way.


Sayang sekali mengingat idenya yang memang tak baru, tapi cukup mantap. Extortion mengeksploitasi salah satu ketakutan dasar kita, yaitu terdampar di suatu tempat yang tak punya akomodasi yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dan tanpa ada peluang untuk selamat. Ada semacam kengerian saat terjebak di tempat asing yang sama sekali tak kita kenal. Karakter utama kita adalah keluarga kecil Amerika yang terdampar di sebuah pulau di Karibia. Jika sebelumnya kita mendapatkan film Cage Dive yang diklaim sebagai film ketiga Open Water, maka sesungguhnya Extortion lebih layak menyandang prediket tersebut.

Paruh pertama film ini memberi dampak psikis khusus pada saya, dan mungkin sebagian besar anda juga. Saya otomatis menempatkan diri di tempat tokoh utama, karena skenario yang terjadi padanya sangat mungkin terjadi di kehidupan nyata. Sudah cukup menakutkan untuk terjebak sendirian di pulau tak berpenghuni, tapi jauh lebih mengerikan saat keluarga ikut terbawa, dengan anak yang masih bocah pula. Ada banyak hal yang bisa dilakukan bagi diri sendiri untuk bertahan hidup, namun bagaimana dengan istri dan anak? Insting tanggung jawab sebagai kepala keluarga ini menciptakan kemarahan dan keputusasaan dalam kondisi demikian.

Kevin Riley (Eion Bailey) adalah seorang dokter sukses yang berencana mengajak istrinya, Julie (Bethany Joy Lenz) dan anaknya yang masih berusia 6 tahun, Andy (Mauricio Alemany) liburan ke Karibia. Dokter memang pintar, tapi bukan berarti tahu semua hal; ia tak bisa memperbaiki mesin pemotong rumput. Siapa sangka ini menjadi fakta yang cukup penting nantinya. Kevin bermaksud untuk menyenangkan keduanya dengan menyewa fasilitas paling mewah disana sampai rela menggelontorkan duit lebih. “Semua hal di Karibia bisa dinegosiasikan dengan uang,” nasihat salah satu tetangganya sebelum berangkat. Jadi saat ia tak bisa mendapatkan jetski dari hotel, ia menyewa boat langsung ke warga lokal.

Kevin membawa Julie dan Andy berkeliling laut di sekitar Karibia, lalu bermain sejenak di pulau kecil tak berpenghuni. Namun saat akan pulang, mesinnya boat tak bisa hidup. Siang berganti malam, ia masih tak bisa mengusahakan apapun. Dahaga tak tertahankan lagi karena pulau tersebut ternyata tak punya sumber mata air tawar. Tak ada kapal yang melintas di sekitar mereka, kalaupun ada terlalu jauh untuk bisa melihat mereka. Beberapa hari kemudian bantuan datang.

Saya tak akan terlalu mengungkap apa yang terjadi disini. Yang jelas, bantuannya tak seperti yang mereka harapkan. Meski begitu, ada beberapa poin plot yang lumayan spoiler tapi harus saya beberkan agar anda bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi., yaitu: (1) tokoh utama kita harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan istri dan anaknya; serta (2) ada nelayan yang harus melakukan hal yang sangat sangat buruk demi menghidupi istri dan anaknya.

That’s a movie you got there. Plotnya sudah cukup untuk sebuah film. Namun sutradara Phil Volken yang juga menulis skrip memberikan kelokan peristiwa yang begitu aneh dan saking tak masuk akalnya sampai anda geleng-geleng kepala karena tak percaya. Kasus Kevin menarik perhatian publik hingga Kedutaan Besar Amerika. Polisi yang dipimpin oleh Danny Glover sudah turun tangan, tapi Kevin ingin menanganinya sendiri. Nah, coba anda perhatikan ini. Kevin yang notabene adalah dokter biasa, berhasil melacak nama nelayan yang dimaksud, tahu bahwa ia pengungsi dari Haiti, alamat rumahnya, hingga nomor kapal yang digunakan, terlepas dari fakta bahwa Karibia terdiri dari banyak kepulauan dan berisi (mungkin) ratusan nelayan.

Kevin melakukan hal yang sangat patut dipertanyakan kelogisannya . Memang dalam keadaan stres orang bisa melakukan hal-hal sinting, tapi setidaknya masih punya akal sehat untuk menyadari bahwa apa yang akan ia lakukan itu malahan membuat nyawa keluarganya semakin dalam bahaya. Ia serampangan, dan masih saja kaget saat semua berakhir keliru. Tapi siapa saya berhak nge-judge; bukan keluarga saya yang dalam bahaya. Meski demikian, Bailey memberikan akting yang dibutuhkan karakternya. Barkhad Abdi kembali menunjukkan penampilan sebagai karakter pendukung yang kuat setelah perannya dalam Captain Phillips.

Ending filmnya juga berjalan 15 menit terlalu panjang. Sesuatu terjadi, dan kemudian sesuatu yang lain terjadi pula. Saat saya mengira filmnya sudah akan berakhir, ternyata ia masih punya kelokan tak penting yang seolah harus dijelaskan. Kalau saja film ini berhenti di menit ke enam puluh, ia akan menjadi film yang jauh lebih baik. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Extortion

109 menit
Remaja - BO
Phil Volken
Phil Volken
Phil Volken, Alina Shraybman
Gad Emile Zeitune

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top