0

Review Film: 'It Comes at Night' (2017)

Penonton yang menunggu setan di 'It Comes at Night' akan kecele, karena film ini lebih kepada teror psikologis.

“You can't trust anyone but family.”
— Paul
It Comes at Night membuktikan bahwa kadangkala horor yang lebih besar itu datang dari paranoia diri sendiri. Apakah sesuatu yang kita dengar itu benar “sesuatu” yang kita dengar atau sesuatu yang kita PIKIR kita dengar? “It” pada judul film ini tak butuh definisi. Ia adalah apa yang kita takutkan. Prasangkalah yang membuatnya mengerikan. Penonton yang menunggu setan di It Comes at Night akan kecele, karena film ini lebih kepada teror psikologis. Ia didesain untuk membuat kita tidak nyaman hanya lewat suspens dan atmosfer. Ini bukan sesuatu yang kita expect dari sebuah film horor.


Coba tengok adegan pembuka dari filmnya. Seorang pak tua yang letih tampak pasrah menerima nasibnya. Ia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Dua orang pria memakai topeng gas kemudian menggotongnya ke hutan. Pria yang lebih dewasa menembak pak tua, lalu membakarnya di lubang yang telah mereka gali sebelumnya. Apa yang terjadi disini, kita belum tahu. Tetapi kita bisa melihat bahwa pembunuhan ini juga meninggalkan duka bagi pelakunya.

Ternyata, dua orang tadi adalah menantu dan cucu dari pak tua, Paul (Joel Edgerton) dan Travis (Kelvin Harrison Jr.). Pak tua juga meninggalkan satu anak kandungnya, Sarah (Carmen Ejogo) yang adalah istri Paul serta seekor anjing bernama Stanley. Mereka takut akan sesuatu yang telah menimpa pak tua. Dari percakapan mereka dan keharusan untuk selalu menggunakan masker di luar rumah, tampaknya ada semacam virus yang telah mewabah di daerah mereka. Apakah ini virus zombie? Tak penting. Yang jelas ini mematikan, sampai mereka harus menahan apapun di luar sana agar tak masuk ke dalam rumah mereka yang berada di tengah hutan.

Pembuat film ini adalah Trey Edward Shults yang mengangkat premis yang halu menjadi film yang halu, tapi sangat menegangkan. Film Shults sebelumnya, Krisha adalah thriller psikologis yang minimalis tentang keluarga, dimana dimainkan olehnya dan kerabatnya sendiri. Dengan bujet yang lebih besar, untuk It Comes at Night ia bisa menggandeng aktor sungguhan dan merancang gambar-gambar yang lebih kompeten. Namun skala filmnya relatif tetap sama. Ini adalah film thriller kecil tentang keluarga —dua keluarga tepatnya— dalam satu lingkungan yang klaustrofobik. Semua jendela dipalang, pencahayaan sangat terbatas, dan hanya ada satu jalan masuk, yaitu pintu bercat merah.

Keluarga kedua datang setelah seseorang menggedor pintu rumah mereka. Pria asing ini berhasil dirubuhkan oleh Paul untuk kemudian diinterogasi. Mengaku bernama Will (Christopher Abbott), si pria tadi bilang bahwa ia hanya ingin mencari minum untuk anak dan istrinya. “Mereka tidak “sakit”,” klaimnya. Namun Paul tak percaya begitu saja. Namun akhirnya Paul setuju untuk menampung istri Will, Kim (Riley Keough) dan anaknya yang masih kecil, Andrew (Griffin Robert Faulkner).

Bereenam mereka tinggal di satu rumah, namun ketegangan justru semakin meninggi, karena mereka tak kenal satu sama lain dan kita tak tahu apa motif masing-masing. Paul adalah pria tegas yang hanya ingin melindungi keluarganya, dan ini yang membuat Edgerton begitu menyeramkan. Ia bisa melakukan apa saja. Will tampaknya pria yang baik-baik saja, namun ada pengakuannya yang sedikit janggal. Si Travis yang memasuki usia puber, mulai menunjukkan ketertarikan pada istri Will, bahkan sampai bermimpi erotis. Sudah menjadi peraturan, bahwa saat malam tiba tak ada yang keluar kamar. Namun ketika mendengar suara-suara dari luar, Travis membawa lenteranya, selalu ingin mengecek kalau-kalau...

Yah, saya akan berhenti disini. Yang jelas, film ini lebih akan membuat anda merinding alih-alih berteriak ngeri. Setting-nya yang sempit dan pencahayaan yang minim membuat suasana filmnya angker. Shults menggunakan sorotan panjang dan pelan untuk menekankan keseraman koridor yang gelap atau barisan pepohonan yang lebat. Untuk mengeskalasi tensi dan ekspektasi penonton, ia juga menerapkan beberapa permainan aspect ratio. Cermati bagaimana rasio gambar berubah menjelang klimaks film. Mengagumkan bagaimana ia bisa mengeluarkan teror dari sesuatu yang practically nothing.

Shults tak banyak memberi penjelasan. Ia memancing imajinasi kita untuk menerka apa yang sebenarnya ada di luar sana. Namun ia sepertinya lebih ingin menyampaikan bahwa teror sesungguhnya datang dari manusia itu sendiri, dan teror ini tak butuh konteks. Terornya ada di dalam pikiran, semacam basic instinct. Manusia itu hidup untuk diri sendiri. Dalam situasi genting seperti ini, mana yang lebih penting: moralitas atau bertahan hidup?

Meski demikian, metode Schults ini juga membuat filmnya seperti tak berisi. Saya tak boleh bicara banyak mengenai hal ini. Di akhir film, saya tak bisa menghilangkan sedikit perasaan mengganjal bahwa terornya adalah "Deus ex Machina", atau lebih parah "MacGuffin" belaka. Shults bisa pergi begitu saja setelah membangun filmnya. Terkadang misteri memang lebih mencekat saat ia tidak dijelaskan lebih lanjut. Terkadang kita perlu tahu apa sebenarnya yang membuat suara-suara gaduh di malam hari. Pilihan ada di tangan anda. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

It Comes at Night

91 menit
Dewasa
Trey Edward Shults
Trey Edward Shults
David Kaplan, Andrea Roa
Drew Daniels
Brian McOmber

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top