0

Review Film: 'Captain Underpants' (2017)

'Captain Underpants: The First Epic Movie', yang merupakan film layar lebar perdana dari Kapten Kolor, dengan cerdik menangkap semangat komiknya.

“Is it okay that I'm kinda loving this?”
— Harold
Rating UP:
Saya ingat dulu saya pernah main ke rumah teman lalu numpang baca sebuah komik absurd terbitan Gramedia yang punya judul absurd pula, Petualangan Kapten Kolor. Sungguh sebuah komik yang bodor, bahkan untuk ukuran saya yang waktu itu masih SD dan menganggap permainan kartu YuGiOh sebagai the coolest thing ever. Namun itulah salah satu daya tariknya. Captain Underpants: The First Epic Movie, yang merupakan film layar lebar perdana dari Kapten Kolor, dengan cerdik menangkap semangat komiknya. Film ini menjaga konsistensi kebodoran itu dari awal hingga akhir. Nyaris tanpa rehat.


Cukup mengherankan juga sebenarnya melihat bagaimana serial komik karangan Dav Pilkey yang sudah sedemikian populer dan laris manis sejak tahun 1997 ini baru dilirik oleh Hollywood dua dekade kemudian. Namun, inilah dia akhirnya datang. Film animasi yang membuktikan bahwa animasi tak mengenal batas, jika pembuatnya tahu bagaimana caranya. Plotnya agak terasa episodik karena ia menggabungkan cerita dari beberapa buku. Percayalah. Saya tahu karena saya dulu baca.

Film ini mengangkat salah satu hal yang selama ini menjadi keresahan terbesar dari umat manusia, seperti bagaimana jika kita minum yakult lebih dari dua atau apa fungsi haqiqi dari Fidget Spinner. Hal tersebut adalah: kenapa superhero selalu harus memakai kolor sebagai bagian dari kostum mereka. Film ini kurang lebih menjawab hal tersebut, dengan menunjukkan secara gamblang bahwa kolor adalah bagian dari identitas superhero. Pahlawan kita dalam film ini berkomitmen dengan namanya sebagai Kapten Kolor; ia memakai kolor dan hanya kolor saja. Well, kecuali jubah pastinya; kalau tidak bagaimana mereka bisa terbang dong. Duh, ini logika dasar.

Kapten Kolor awalnya adalah karakter komik rekaan George (Kevin Hart) dan Harold (Thomas Middlemitch), dua sobat karib yang sepertinya hanya punya dua hobi, yaitu (1) membuat komik, dan (2) berbuat jahil. Kejahilan George dan Harold di SD mereka tak tanggung-tanggung. Bahkan sampai mengacaukan presentasi ilmiah seorang siswa teladan, Melvin (Jordan Peele) yang kemudian membuat gusar sang kepala sekolah, Pak Krupp (Ed Helms) yang pemarah.

Pak Krupp punya rencana untuk mengakhiri kejahilan ini untuk selamanya. Dan untuk itu, ia punya metode yang teruji dan terpercaya hingga membuat George dan Harold bergidik ngeri: memisahkan keduanya di kelas yang berbeda. Oke, kita pikir ini tak begitu masalah karena mereka masih bisa bermain bersama di waktu istirahat atau ketika pulang sekolah. Tapi ayolah, orang dewasa. Beda kelas itu ekuivalen dengan beda galaksi. Duh, ini logika dasar.

Putus asa dan tak punya cara lain untuk mencegah kebijakan ini ditandatangi Pak Krupp, mereka mengeluarkan ajian pamungkas, yaitu menghipnotis Pak Krupp dengan cincin hipnotis bonus dari kotak sereal. Siapa sangka ini berhasil. Ketika mendengar jentikan jari, segera saja Pak Krupp membuka pakaiannya, lalu berubah menjadi Kapten Kolor yang sangat sangat bersemangat tapi juga sangat sangat bodoh. Ia bahkan percaya bahwa ia bisa punya kemampuan super, termasuk terbang.

Sudah jelas, lelucon di film ini memakai logika anak-anak, yang kebanyakan adalah humor receh yang melibatkan plesetan kata, eek, muntahan, kolor, dan orang dewasa yang jatuh/tertimpa sesuatu. Penulis skripnya adalah Nicholas Stoller yang tahun lalu menulis Storks, animasi yang melontarkan leluconnya secara fast and furious. Lawakan disini juga gesit dan heboh, tapi tak bikin gerah karena tak sok-sokan untuk terdengar lucu. Para pengisi suaranya tak tampil lebai dan benar-benar terdengar seperti anak-anak. Filmnya dengan cerdas menyindir genrenya sendiri lewat breaking the fourth wall beberapa kali. “Ini adalah bentuk paling rendah dari komedi,” ujar karakternya ketika film menghamburkan toiler humor di adegan klimaks. Sutradara David Soren menyuguhkan ritme yang hiperaktif dengan absurditas yang semakin meningkat seiring durasi berjalan.

Kapten Kolor mungkin bukan superhero sungguhan, tapi ceritanya film ini punya supervillain beneran. Adalah Profesor P (Nick Kroll), penjahat yang menyamar sebagai guru kimia di SD George & Harold. Tampangnya seperti Einstein mini yang punya logat Jerman menggelikan. Rencana jahatnya adalah untuk menghilangkan saraf tawa anak-anak yang punya nama ilmiah "Hahaguffawchuckleamalus" (silakan cek kamus biologi anda). Dan ia punya alat canggih untuk menunaikan rencana tersebut.

Film ini punya animasi yang bening dan mulus yang sedikit mengingatkan kita pada The Peanuts Movie. Studio Dreamworks sekali lagi membuktikan bahwa meloncati batas-batas standar animasi bisa memberikan efek komedi yang segar, sebagaimana yang mereka lakukan lewat Shrek. Tak hanya animasi komputer biasa, film ini juga menyelipkan animasi konvensional, animasi flip-o-rama (yang jadi ciri khas di komiknya), bahkan pertunjukan boneka tangan yang kesemuanya menyatu dengan natural.

Bisakah sebuah film anak-anak yang berisi lelucon receh menjadi menghibur? Tentu saja, jika ia cukup pintar untuk melontarkannya. Captain Underpants mempesona berkat kekonyolannya yang segar dan ringan. Saya biasanya hanya terkekeh menonton film komedi, tapi film ini membuat saya tertawa terbahak-bahak. Kedunguan adalah senjata utamanya. Kita tentu tak mengharap film dengan kata “kolor” di judulnya tak menjadi film yang absurd, bukan? Tak perlu memeriksa Hahaguffawchuckleamalus anda. Jika anda tergelak, kemungkinan ukurannya besar. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Captain Underpants: The First Epic Movie

89 menit
Semua Umur - BO
David Soren
Nicholas Stoller (screenplay), Dav Pilkey (komik)
Mireille Soria, Mark Swift
Theodore Shapiro

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top