0

Review Film: 'Happy Death Day' (2017)

Terdengar menjanjikan, tapi sayang eksekusinya tak sepenuh hati, baik di aspek komedi maupun horornya.

“Would you stop looking at me like I just took a dump on your mom's head?”
— Tree Gelbman
Bagian paling seru dari Happy Death Day — selain judul dan premisnya yang keci— adalah bagian pertengahan film, sekitar menit 40-an sampai menit 50-an. Disini filmnya benar-benar merengkuh idenya, sadar dengan kekonyolan premisnya lalu menjadi film konyol nan fun seperti yang dijual oleh trailer yang juga sedemikian konyol nan fun sampai saya beli dengan semangat. Bagian awal dan akhir? Separuh matang dan cukup membosankan.


Anda mungkin sudah mendengar bahwa film ini semacam gabungan antara Groundhog Day dengan Scream. Bagi tokoh utama kita, Tree (Jessica Rothe), ulang tahun tidak terjadi setahun sekali melainkan setiap hari. Dan sialnya lagi, di setiap ulang tahun ia dibunuh. Jadi singkatnya, Tree bakal mati setiap hari. Karena satu dan lain hal, Tree menyadari bahwa untuk menghentikan kutukan ini, ia harus menemukan sang pembunuh.

Sentuhan bagusnya adalah pembuat film sepertinya menyadari fakta bahwa penonton tahu akan kekonyolan konsep ini (bahkan mereka sudah mempermainkan kita lewat tampilan logo Universal sebelum film dimulai). Setup-nya klise horor betul: heroine kita adalah gadis pirang seksi, penjahat kita adalah pembunuh bertopeng konyol, dan senjatanya, apa lagi kalau bukan, pisau dapur. Terdengar menjanjikan, tapi sayang eksekusinya tak sepenuh hati, baik di aspek komedi maupun horornya. Ini adalah film konyol yang berpikir ia pintar hanya karena ia self-aware.

Awalnya, Tree tak tahu bahwa ia baru saja ber-Groundhog Day. Ia terbangun di kamar teman satu sekolahnya yang polos Carter (Israel Broussard) setelah berpesta habis-habisan semalam. Karena berhubungan dengan pria culun bisa merusak reputasinya sebagai cewe supergaul, maka Tree menyuruh Carter untuk tak bercerita pada siapapun. Dalam perjalanannya pulang ke asrama wanita, Tree mengalami berbagai macam hal: mendapat telpon dari sang ayah (yang kemudian diabaikannya), menyaksikan kesibukan siswa di pekarangan sekolah, menolak cupcake ulang tahun yang ditawarkan teman sekamarnya Lori (Ruby Modine), bersama gengnya mem-fatshame seorang teman, bercumbu dengan guru (Charles Aitken), hingga, tentu saja, dibantai oleh pembunuh yang memakai topeng maskot sekolah.

Namun kehidupan Tree belum berakhir. Ia terbangun kembali di kamar Carter. Ia mendengar ucapan Carter yang sama, melihat kesibukan siswa yang sama, dan menerima tawaran cupcake yang sama, sampai kemudian Tree sadar bahwa semua peristiwa yang terjadi di hari ultahnya terulang lagi, satu demi satu, dengan akhir yang sama pula. Ia mencoba berbagai skenario agar tak terbunuh dengan tragis, tapi kemanapun dan bagaimanapun, sang pembunuh selalu bisa menemukannya. Muncullah ide untuk mengungkap siapa sang pembunuh supaya ia bisa menghindari kematian dan mudah-mudahan juga menghentikan siklus maut tersebut.

Tapi bukan kids jaman now dong kalau tidak living in the moment? Jadi alih-alih teror sungguhan yang menyangkut nyawa, kita akan mendapati momen konyol dimana Tree melakukan apapun yang bisa ia lakukan saat hidup tanpa konsekuensi. Kentut di restoran? Berjalan telanjang di sekolah? Jessica Rothe sukses membuat karakter Tree cukup bitchy untuk dibenci dan cukup likeable untuk dibuat peduli. Ia sangat ekspresif menunjukkan berbagai emosi dalam menjalani hari yang repetitif, mulai dari panik, cuek, sampai simpati. Keseruan ini dengan sukses menutupi fakta bahwa hampir tak ada mekanisme yang pasti dalam keberulangan hidup Tree selain ia akan terbangun di hari yang sama setelah terbunuh. Tak perlu mencoba untuk menerka bagaimana atau siapa pembunuhnya karena pada akhirnya semua tak masuk akal. Tindakan yang dilakukan tokohnya seringkali sangat bodoh.

Sementara ia tak sepenuhnya menjadi film meta, film ini juga tak seserius itu untuk menyajikan sekuens horor yang benar-benar terasa menakutkan atau sekadar menegangkan. Suspens nyaris nihil padahal tokoh utama kita sudah sengaja dikondisikan sebagai si brengsek yang pada dasarnya punya banyak musuh yang ingin membunuhnya. Scream melakukannya dengan lebih gemilang. Aspek self-awareness dari film Wes Craven tersebut lebih berbisa, sembari tetap sukses membuat kita tercekat akan peristiwa pembantaian yang dilakukan si pembunuh.

Apakah mengalami sesuatu yang berulang-ulang tapi menyadari bahwa nyaris tak bisa melakukan sesuatu yang cerdas terhadapnya tak membuat Tree jemu? Baru di akhir film, Tree mengakui bahwa ia belum pernah menonton Groundhog Day. “Ehm, serius?” tanya seorang temannya ragu. Mungkin ini adalah komentar meta dari pembuat filmnya. Penonton targetnya adalah remaja kekinian yang kemungkinan besar belum menonton Groundhog Day. Bagi mereka ini bukan masalah. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Happy Death Day

96 menit
Remaja - BO
Christopher B. Landon
Scott Lobdell
Jason Blum
Toby Oliver
Bear McCreary

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top