0

Review Film: 'The Beguiled' (2017)

Menonton 'The Beguiled' garapan Sofia Coppola sama seperti menyaksikan balon yang ditiup pelan-pelan sampai meledak.

“We can show 'em some really Southern hospitality.”
— Alicia
Menonton The Beguiled garapan Sofia Coppola sama seperti menyaksikan balon yang ditiup pelan-pelan. Tak banyak yang bisa dilihat dan tak seru saat melihatnya, tapi kita dibuat tegang sepanjang waktu, menunggu waktu sampai balonnya meledak. Lalu dor! Balon pecah dan kita segera move on.


Lewat film ini, Coppola dianugerahi sebagai sutradara terbaik dalam Cannes Film Festival tahun ini. Ia adalah satu dari hanya dua sutradara wanita yang pernah mendapat gelar tersebut. Momen ini tak bisa lebih pas lagi karena filmnya sendiri juga mengambil sudut pandang dari para wanita dan mengangkat tema mengenai women empowerment. Ceritanya mengenai ketenteraman geng wanita muda yang diganggu dengan kedatangan seorang pria yang mempesona.

Coppola adalah sutradara yang suka bermain dalam skala kecil dan memerangkap kita dengan satu feeling spesifik yang selalu mengambang di awang-awang. Dalam The Virgin Suicides ia menghadirkan nuansa fantasi masa puber, Lost in Translation adalah soal keterasingan, dan di The Beguiled ia menyihir kita dengan ketegangan seksual. Ini terjadi di asrama khusus cewek yang dijaga dengan ketat oleh ibu kepala sekolah, Miss Martha (Nicole Kidman). Asrama yang terisolasi ini adalah tempat yang istimewa bagi para wanita muda untuk belajar menjahit, bahasa asing, dan bersikap layaknya Kristiani yang baik.

Latarnya adalah tahun 1864 di Virginia, dimana Perang Sipil masih berlangsung di Amerika. Para wanita ini tak keluar dari asrama, sebagian karena dunia luar yang terlalu berbahaya dan sebagian lagi karena tak punya tempat untuk pergi. Para pria tak pernah terlalu dekat kecuali di pintu gerbang belaka. Sampai si kecil Amy (Oona Laurence) menemukan seorang tentara, John McBurney (Colin Farrell) yang terluka parah di antara pepohonan lalu membawanya masuk ke asrama.

Miss Martha pastinya jadi gusar. Ia tahu bahwa kedatangan pria ini bisa jadi membawa masalah. Tapi sebagai Kristiani yang baik, mereka tak bisa membiarkannya tewas begitu saja. Jadi Miss Martha bersedia merawat John dengan mengultimatum bahwa John boleh tinggal disana hanya sampai lukanya sembuh. Tentu saja, seperti hati yang dilukai oleh mantan terbaik *uhuk curcol*, luka John berangsur pulih. Namun John sepertinya tak berniat untuk segera pergi, apalagi kembali ke medan perang. Asrama ini terlalu nyaman. Dan ia punya trik untuk membuat para wanita nyaman dengannya.

Wanita kesepian + pria tampan, anda tak perlu jadi dokter cinta untuk tahu darimana ketegangan seksual tadi berasal. John mengeluarkan semua pesonanya untuk menarik hati para wanita muda, dan karena pejantan cuma ada satu, para betina berebut perhatian. Semua merasa merekalah yang paling diperhatikan John, terutama Bu guru Edwina (Kirsten Dunst) yang sudah lama kangen dengan dunia luar. Gadis yang baru beranjak dewasa Alicia (Elle Fanning) lebih agresif karena ia dipenuhi dengan hormon masa puber; John adalah pria dewasa pertama yang ditemuinya. Miss Martha yang mencoba mengontrol situasi yang kacau gara-gara anak didiknya yang keganjenan, sepertinya juga rindu dengan sentuhan pria sehingga terlalu menikmati saat merawat John.

John dengan cerdik memposisikan dirinya sesuai dengan ekspektasi para wanita. Ia bisa jadi apa saja. Bahkan para gadis-gadis kecil juga ikut te-te-pe, mungkin karena menganggap John sebagai teman yang ramah. Siapa yang bisa menolak pesona John saat Colin Farrell yang ganteng memerankannya dengan berwibawa dan karismatik? Meski berbeda usia, mereka sebenarnya sama. Sama-sama lama sekali tak melihat pria apalagi berinteraksi langsung dengannya. Performa dari semua aktor wanita juga luar biasa. Lewat tatapan dan gestur kecil saja, Kidman, Dunst, dan Fanning mampu menguarkan hasrat terpendam yang dalam.

Film ini diangkat dari novel karya Thomas P. Cullinan (yang juga diadaptasi oleh Don Siegel di film tahun 1971 yang dibintangi Clint Eastwood). Saya tidak membaca novelnya dan belum menonton film lawasnya, tapi kentara sekali Coppola yang melucuti naratifnya sedemikian minimal sehingga hanya menyisakan mood. Meski berdurasi 90 menitan, film ini lebih terasa seperti film pendek karena skala ceritanya yang kecil. Sebelum “balon meledak”, The Beguiled adalah film yang hanya bergantung pada atmosfer. Ini didukung dengan sinematografi dan tata produksi yang sangat menawan. Adegan makan malamnya terlihat dan terasa fantastis karena berisi banyak emosi di atas permukaannya yang tenang dan berkilau.

Coppola membangun filmnya dengan suspens, tapi momen tepat sesaat setelah “balon meledak” saya dapati sedikit tumpul. Ini adalah momen yang gila di atas kertas, tapi citarasanya ditahan. Coppola restrained so much di bagian tersebut, kita tak begitu bisa membaca motif karakternya. Apakah ini wujud balas dendam? Atau tindakan karena ingin lepas dari teror tapi sebenarnya masih kasihan? Saya merasa ini tak terselesaikan, bukan karena sengaja ingin dibuat subtil tapi karena pembuatnya juga tak tahu harus mengarahkannya kemana.

Ketika balon sudah meledak, tak ada lagi yang kita tunggu dan bisa kita lihat. Saya hanya berharap fimnya tak meledak terlalu cepat lalu disudahi terlalu lama. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

The Beguiled

94 menit
Dewasa
Sofia Coppola
Sofia Coppola (screenplay), Thomas P. Cullinan (novel)
Youree Henley, Sofia Coppola
Philippe Le Sourd
Phoenix

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top