0

Review Film: 'Blade of the Immortal' (2017)

Ini bukan Bad Miike yang pernah memberikan kita 'Yakuza Apocalypse' atau 'Terraformars', melainkan Good Miike yang menangani 'Ichi the Killer' dan '13 Assassins'.

“But do right and wrong matter when it's for people you love?”
— Rin Asano
Komplain yang biasa dilontarkan pembaca buku terhadap adaptasi film dari buku yang bersangkutan adalah film yang meleset dari materi sumbernya. Inilah kekurangan dari membaca buku sebelum menonton filmnya, apalagi jika itu adalah buku yang kita sukai. Kita sudah keburu menciptakan gambaran tertentu akan bagaimana filmnya bermain. Sangat menggemari manga samurai Blade of the Immortal karya Hiroaki Samura , saya kira ini adalah materi yang tak bisa diangkat menjadi sebuah film. Serial mungkin, tapi film tampaknya mustahil. Namun versi filmnya ini berhasil melakukan hal tersebut.


Maksud saya, bukan soal bagaimana ia bisa merangkum plot aslinya yang panjang atau mewujudkan jurus pamungkas yang unik dan puitis (saya yakin ini hanya akan mengena di media manga atau anime saja), namun lebih kepada kesuksesannya dalam menghadirkan atmosfer yang pas. Filmnya dibuat oleh sutradara modern legendaris Jepang, Takashi Miike. Ia bukan "Bad Miike" yang pernah memberikan kita Yakuza Apocalypse atau Terraformars, melainkan "Good Miike" yang menangani Ichi the Killer dan 13 Assassins. Ini adalah film ke-100 Miike, dan dari hasil akhirnya, yah, cukup pantas untuk dirayakan.

Blade of the Immortal diangkat dari manga berjumlah 30 volume yang pernah menjadi nominee Eisner Awards. Tak banyak manga yang mendapat kehormatan untuk bersaing dalam penghargaan tertinggi bagi novel grafis dari seluruh dunia tersebut. Mustahil merangkum semua materi dari manga-nya, sehingga skrip hanya mengambil beberapa elemen kunci yang membuat film terasa sedikit episodik dan repetitif, namun di lain sisi, memberi Miike wadah untuk menumpahkan gaya sinematis epik nan brutal yang menjadi ciri khasnya.

Lha bagaimana tidak coba. Karakter utamanya, pada dasarnya adalah seorang samurai yang tidak bisa mati. Tubuhnya bisa tertusuk, tangan dan kakinya bisa terpotong, dan Miike bebas menghidupkannya lagi untuk ditusuk dan dipotong. Namanya Manji (tak pakai “dunia”, diperankan oleh Takuya Kimura), seorang samurai tak bertuan yang tubuhnya terinfeksi oleh cacing sakti bernama Cacing Darah. Saat Manji terluka, Cacing Darah akan bekerja menyambungkan lengan atau menyembuhkan lukanya dengan cepat. Cacing ini disuntikkan oleh seorang wanita tua misterius setelah Manji membantai puluhan preman yang sudah membunuh adiknya.

Sebagai informasi, Manji ini sebenarnya selalu menenteng tak kurang dari 8 pedang berbeda. Setiap jenis pedang digambarkan dengan lebih detail di dalam manga. Semuanya rata-rata disembunyikan di balik bajunya yang kemudian membuat saya penasaran: Bagaimana ia membawa pedang yang besar-besar tersebut? Kenapa pedang-pedangnya tak kelihatan dari luar? Apakah bajunya semacam kantong Doraemon tapi khusus senjata? Entahlah.

Karakter berikutnya adalah Rin (Hana Sugisaki), seorang putri dari pemilik dojo terkenal yang dibuat menjadi yatim-piatu oleh perguruan Ittoryu yang membantai guru dan seluruh murid di dojo tersebut. Untuk balas dendam, Rin menyewa jasa seorang samurai yang tak bisa mati tadi. Bagi Manji, ini sedikit personal karena kebetulan Rin mirip sekali dengan sang adik yang gagal diselamatkannya.

Perguruan Ittoryu dipimpin oleh samurai androgynous yang karismatik bernama Anotsu Kagehisa (Sota Fukushi). Ia bermaksud untuk menyatukan semua dojo di Jepang di bawah payung Ittoryu. Dojo pemerintah tak menjadi pengecualian. Bersama rombongannya, Anotsu berkeliling Jepang untuk membuat kesepakatan dengan berbagai dojo dan melenyapkan dojo manapun yang tak bersedia bergabung.

Jalan ketiganya tentu saja akan saling bersilangan. Namun sebelumnya, Manji harus menghadapi beberapa samurai dari Ittoryu dalam mekanisme plot yang mirip dengan video game: lawan berbagai macam anak buah dulu sebelum bos besar. Dan anak buahnya sungguh sangat variatif. Ada samurai pengoleksi kepala manusia, samurai wanita yang sadis, sampai samurai yang sangat mirip dengan Manji. Nuance dalam bercerita baru akan kita dapatkan menjelang momen puncak ketika Manji, Rin, dan Anotsu bertemu mempertahankan prinsip samurai mereka masing-masing.

Anda mungkin lebih mengenal Takuya Kimura sebagai salah satu personil boyband di Jepang, tetapi sebagai Manji, ia fantastis. Tenggelam dalam rambut acak-acakan, mata buta sebelah, dan wajah penuh luka, ia bukan lagi “Kimu-Taku” yang kyut, melainkan sepenuhnya menjadi samurai yang malas karena sudah bosan hidup lama. Luka Manji boleh jadi bisa disembuhkan, tapi rasa sakit tetap ia rasakan. Manji tak menganggap keabadiannya sebagai mukjizat, alih-alih kutukan.

Kelemahan filmnya juga punya sumber yang sama dengan kekuatannya. Film ini mengangkat beberapa poin plot dari manga, tapi tak cukup klik mengaitkannya dengan cerita utama. Cerita sampingan mengenai konspirasi pemerintah atau para penjahat yang dikirim sebagai agen rahasia pemerintah lewat begitu saja. Ini membuat filmnya yang memang sudah panjang terasa kepanjangan. Sedikit ironis, dalam 151 menit, filmnya tak bisa memberikan kepribadian yang cukup bagi beberapa karakter samping yang cukup krusial.

Adegan aksinya stylish dan mendebarkan. Tidak cantik, tapi sadis dan epik. Dan film ini punya banyak adegan begitu, dimana rata-rata dalam gaya kolosal dengan melibatkan banyak orang. Di satu adegan yang penuh kekacauan, Manji harus melawan puluhan samurai sekaligus dan Miike menunjukkannya dengan detail yang sedemikian rupa dalam koreografi dan gerakan kamera yang tak membuat kepala pusing. Lihat saja, bagaimana coba cara menangani sekuens aksi yang melibatkan hibrid tombak dan pedang yang bersiku dan berantai? Miike membuatnya tampak meyakinkan.

Saya dapat membayangkan kenapa Samura memberikan restu kepada Miike untuk mengadaptasi manga-nya. Film ini pada dasarnya adalah 13 Assassins hanya saja dengan karakterisasi yang lebih simpel, jumlah karakter utama yang lebih sedikit, skala yang lebih besar, dan kekacauan yang lebih heboh. Pengalaman panjang Miike terpampang dalam setiap adegan aksinya yang ditangani dengan terampil. Kalau bukan karena Miike, film ini bisa saja menjadi membosankan. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Blade of the Immortal

151 menit
Dewasa
Takashi Miike
Tetsuya Oishi (screenplay), Hiroaki Samura (manga)
Jeremy Thomas, Misako Saka, Shigeji Maeda
Nobuyasu Kita
Koji Endo

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top