0

Review Film: 'Coco' (2017)

Sukses mengacak-acak perasaan, 'Coco' juga merupakan cara Pixar untuk menyentuh aspek kehidupan tentang tradisi, mimpi, generation gap, dan memori.

“We have to get you back home.”
— Imelda
Jika ada kehidupan setelah mati, maka kematian tidaklah begitu buruk. Kita pada dasarnya masih hidup, hanya berpindah alam saja. Ini tak terlalu menyedihkan bukan? Namun Pixar berhasil menemukan apa yang lebih menyedihkan daripada kematian lewat Coco. Saya takkan mengungkap hal tersebut, silakan anda temukan sendiri. Yang jelas, saya tak menduga bagaimana satu momen khusus tersebut sukses mengacak-acak perasaan.


Terang saja, sutradaranya adalah Lee Unkrich yang pernah membuat kita trauma dengan Toy Story 3. Saya sudah mempersiapkan diri karena telah melihat berbagai materi promosinya, termasuk sinopsis dan trailer. Ini kan temanya tentang kematian, jadi saya seharusnya bisa mengantisipasi jurus apa yang akan dikeluarkan Pixar untuk menguras air mata. Namun ternyata, ia lebih dari itu. Mengambil setting Dia de los Muertos, Hari Orang Mati yang dirayakan setiap tahun di Meksiko, Coco juga merupakan cara Pixar untuk menyentuh aspek kehidupan tentang tradisi, mimpi, generation gap, dan memori.

Akan tetapi, film ini juga bukan salah satu film groundbreaking Pixar. Walaupun mengambil latar kebudayaan yang sangat unik, film ini bergerak dalam kerangka yang sudah teruji dan sekarang terasa sangat familiar bagi Pixar: keluarga. Beat per beat cerita serasa sudah pernah kita lihat sebelumnya. Penonton yang sudah berpengalaman, bahkan anak-anak sekalipun, saya yakin pasti bisa menebak bagaimana filmnya berjalan. Petualangannya tak seinventif visualnya. Meski demikian, ia tetap efektif karena, well, ini sudah teruji bagi Pixar.

Tokoh utama kita adalah bocah berusia 12 tahun bernama Miguel (Anthony Gonzalez, luar biasa enerjik) yang menceritakan riwayat leluhurnya kepada kita di awal film. Ia tinggal bersama keluarga besarnya —termasuk ayah, ibu, bibi, nenek, dan nenek buyut Coco yang sekarang hanya bisa duduk dan mulai hilang ingatan— di sebuah desa di Meksiko. Keluarga ini sangat anti sekali dengan musik selama puluhan tahun, bahkan mendengar pengamen jalanan pun tak boleh.

Ternyata alasannya bermula dari kakek buyut-buyutnya Miguel yang dulu meninggalkan istri dan anak perempuannya karena mengejar karir sebagai musisi. Sang istri, Imelda berhasil bangkit dan meneruskan hidup dengan menjadi pembuat sepatu, profesi yang diturunkan bergenerasi kemudian. Semua ini diceritakan lewat prolog kreatif yang menggunakan media kertas warna yang dipotong dalam motif tertentu yang merupakan dekorasi di Hari Orang Mati.

Musik kemudian dianggap racun di dalam keluarga. Tapi tidak bagi Miguel. Di waktu senggang, ia sembunyi-sembunyi belajar gitar sembari menonton film-film dari musisi legendaris favoritnya, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt). Di Hari Orang Mati, Miguel ingin membuktikan talentanya, tapi nenek yang mengetahui hal ini malah menghancurkan gitarnya. Usahanya “meminjam” gitar milik mendiang de la Cruz, ternyata malah mengantarkannya ke dunia orang mati.

Dinamika masyarakat di desa Miguel dibuat hidup oleh Pixar, namun Coco baru tampil sepenuhnya mencolok saat cerita beralih ke dunia orang mati. Semesta ini seperti semacam stasiun yang supermewah, dihiasi warna-warna yang memanjakan mata. Sebagai penghubung dunia orang hidup dengan dunia orang mati adalah jembatan raksasa yang terbuat dari ribuan (mungkin, saya tak menghitung) kelopak bunga berpendar jingga. Belum lagi alebrijas, mahkluk suci dari legenda Meksiko yang divisualisasikan sebagai hewan mistis dengan warna neon di tubuh mereka. Orang-orang mati digambarkan sebagai tengkorak yang lucu dan tentu saja memakai pakaian. Ini kan film anak-anak. Ada peraturan tertentu bagi orang mati yang ingin melintas ke dunia nyata atau sebaliknya. Mekanisme ini cukup pelik tapi dijelaskan sedemikian rupa sehingga anak kecil pun pasti bisa paham dengan mudah.

Untuk urusan kualitas animasi, Pixar memang tak pernah main-main. Jika studio animasi kebanyakan biasanya menyimplifikasi karakter dan gerakan, Pixar tak mengambil jalan pintas tersebut. Ada adegan dimana Miguel bermain gitar dan sebagai pemain gitar (numpang pamer), saya bisa bilang bahwa setiap gerakan jari dan petikannya tepat. Kemudian, kerutan di wajah nenek Coco (Ana Ofelia Murguia) yang awalnya terlihat seperti bahan lelucon ternyata punya satu tujuan spesifik untuk mengaduk emosi.

Di dunia orang mati, Miguel harus mendapatkan restu dari mendiang leluhurnya untuk bisa kembali ke rumah. Di perjalanan, ia ditemani oleh anjing jalanan bernama Dante dan seorang mati yang ingin fotonya dikirim ke dunia nyata, Hector (Gael Garcia Bernhal). Anda tahu, jika tak ada yang memajang foto seorang mati di dunia nyata, maka ia akan lenyap selamanya. Dan tujuan pertama Miguel adalah de la Cruz, yang dipercaya Miguel sebagai kakek buyut-buyut-nya. Namun bertemu seseorang yang bahkan masih menjadi seleb di dunia orang mati, tidaklah mudah.

Meski bukan film musikal tapi Coco punya beberapa trek musikal. Di kontes musik yang harus diikuti Miguel agar bisa berjumpa dengan de la Cruz, ia beratraksi bersama Hector dalam “Un Poco Loco”. Trek pamungkas “Remember Me”, meski tak begitu berkesan, begitu efektif melakukan fungsi utamanya. Jika anak/adik anda ingin diajarkan bagaimana cara menghadapi kematian orang tersayang, maka Coco adalah pengalaman pertama yang menghibur sekaligus menyentuh. Buat orang dewasa juga. Setidaknya begitulah yang saya lihat dari penonton yang menonton bersama saya di bioskop. Mereka nangis. Dasar orang-orang baperan. Saya tidak, mata saya cuma berkeringat. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Coco

109 menit
Semua Umur - BO
Lee Unkrich
Adrian Molina, Matthew Aldrich
Darla K. Anderson
Matt Aspbury, Danielle Feinberg
Michael Giacchino

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top