0

Review Film: 'Good Time' (2017)

Maaf cewek-cewek, Edward sekarang jadi preman jalanan yang liar dalam 'Good Time'.

“I f**ked up.”
— Connie Nikas
Good Time adalah film tentang wujud kasih sayang seorang kakak kepada adiknya, namun ini bukan drama. Tempatkan posisi si kakak dengan seorang preman gampang meledak yang kesehariannya berkutat dengan kriminal dan kondisi sosial yang kacau, rangkum dalam petualangan sehari-semalam yang klaustrofobik, maka kita mendapatkan sebuah film thriller mantap yang eksplosif.


Film garapan dua bersaudara Josh Safdie & Ben Safdie ini bukan lagi soal plot tapi lebih kepada intensitas dan momentum. Karena sang preman tadi adalah seorang anak muda yang hidupnya spontan tanpa rencana, maka ada semacam ketidakpastian yang menegangkan terhadap kemana ceritanya bergerak. Kita sama seperti karakter utamanya, merasakan kepanikan dan ketidaktenangan dalam setiap insiden yang terjadi. Karakter tersebut adalah Connie Nikas yang dimainkan dengan luar biasa intens oleh Robert Pattinson, mantan idola muda yang dulu digandrungi cewek-cewek lewat Twilight. Maaf cewek-cewek, Edward sekarang jadi preman jalanan.

Sejak adegan pertama, kita sudah melihat kalau Connie bukan pria yang sopan. Film dibuka dengan adegan konseling yang dijalani Nick (diperankan langsung oleh Ben Safdie), seorang penderita keterbelakangan mental yang sedikit kesulitan dalam berkomunikasi atau bersosialisasi. Tepat ketika sang psikiater mulai menggali info tentang masa kecil Nick, Connie mendobrak pintu lalu membawa adiknya tersebut keluar untuk having a good time. Dan good time dalam definisinya adalah dengan merampok bank.

Connie jelas sangat menyayangi Nick, namun kita melihat bahwa apa yang ia lakukan tak selalu baik untuk sang adik. Connie adalah pengaruh yang begitu buruk buat Nick, kita mulai berpikir apa lebih baik Nick dirawat saja di institusi khusus daripada bergaul bersama sang kakak yang liar. Nick tak tahu apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan, sementara keduanya memakai topeng karet lalu masuk dan mengancam teller bank. Perampokannya amatiran, tapi mereka berhasil lolos membawa tas berisi uang. Atau begitulah awalnya...

Situasi dengan segera menjadi kacau. Perangkap di dalam tas meledak dan mereka dikejar polisi. Connie berhasil lolos, tapi Nick tertangkap. Connie memang preman tapi untungnya panjang akal, pintar ngeles, dan mampu mengambil keputusan dengan sangat gesit. Ia selalu bisa menemukan cara untuk keluar dari satu masalah dengan melakukan berbagai macam improvisasi. Sialnya, setiap solusi selalu berujung pada masalah yang lebih besar.

 Awalnya, Connie meminta pinjaman uang kepada pacarnya (Jennifer Jason Leigh) untuk membayar jaminan bagi sang adik. Namun saat gagal karena kartu kreditnya diblokir, Connie makin nekat. Kita kemudian akan dibawa dalam sebuah petualangan 24-jam menyusuri kota mengenai Connie yang berusaha mencari berbagai cara untuk membebaskan adiknya menyusuri kota New York, mulai dari jalanan, rumah sakit, sampai taman bermain.

Safdie bersaudara mengajak kita masuk ke sisi gelap kehidupan perkotaan, dengan urgensi real-life ala film-film Michael Mann dan Sidney Lumet tapi disaturasi oleh sinematografer Sean Price Williams dengan warna-warna neon yang mencolok. Kamera mereka kebanyakan menempel ketat pada karakter Pattinson. Semakin intens apa yang dialami karakternya, semakin ketat pula cengkeraman kamera, yang kemudian memberikan semacam nuansa yang enerjik tapi juga klaustrofobik di saat bersamaan. Musik elektronik dari Oneohtrix Point Never berderu mengeskalasi setiap momen. Film ini mengandalkan atmosfer, tapi bagusnya tak terasa seperti mau pamer.

Yang membuat filmnya lebih hidup adalah bagaimana Safdie bersaudara mendekorasi latar belakangnya dengan situasi sosial yang relevan, khususnya di Amerika. Kita bisa melihatnya dari karakter-karakter pendukung yang ditemui Connie. Misal, peliknya masalah yang dialami Connie bermula dari sistem jaminan (bail system) yang kacrut. Jennifer Jason Leigh tampil menarik sekali sebagai wanita dewasa yang masih saja bipolar seperti cewek yang baru puber. Di satu kesempatan nanti, Connie tak sengaja bertemu dengan Ray (Buddy Duress), pengedar narkoba eceran yang tampaknya lebih kacau daripada Connie. Ketidakkompromian Safdie soal plot yang ramah semakin kentara dengan menghadirkan dua karakter kulit hitam: Crystal (Gladys Mathon), gadis 16-tahun yang tak sengaja terlibat dalam petualangan Connie, serta seorang satpam (Barkhad Abdi) yang malah menjadi korban tak bersalah.

Pattinson sudah membuktikan bahwa ia bisa berakting dalam beberapa film seperti The Rover dan The Lost City of Z, tapi Good Time mungkin merupakan penampilan terbaiknya. Boleh diperdebatkan, tapi yang jelas ini adalah transformasinya yang paling ekstrim. Ia berjenggot lebat, berambut urakan, plus bertindik, tapi yang lebih impresif adalah pembawaannya yang preman abis. Ia begitu unlikable, kita nyaris tak bisa bersimpati terhadapnya kecuali karena pilihan sikapnya yang sangat-sayang-adik dan betapa kuatnya performa Pattinson.

Good Time adalah judul yang ironis, karena tak ada satupun karakter film yang having a good time disini (yah, kecuali tukang bail tadi yang dapat uang gratis). This is an ugly film mengingat beberapa pilihan yang dibuat karakternya yang bertentangan dengan moral. Tapi saya suka ugly film selagi ia efektif (misal, Nocturnal Animals). Good Time intens dan enerjik. Tapi ini bukan eskapisme. Ia akan mengusik kita, membuat tak nyaman. Yet we’re having a good time. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Good Time

99 menit
Dewasa
Ben Safdie, Josh Safdie
Josh Safdie, Ronald Bronstein
Sebastian Bear-McClard, Oscar Boyson Terry Dougas, Paris Kasidokostas Latsis
Sean Price Williams
Oneohtrix Point Never

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top