0

Review Film: 'Jigsaw' (2017)

Cerita relatif sebelas-dua-belas kualitasnya dengan 'Saw II' s.d. 'Saw 3D', sementara kesadisannya kurang gila.

“The truth will set you free.”
— John Kramer
Saw awalnya adalah thriller minimalis yang efektif dengan bumbu sadisme yang lumayan pas. Tujuh film kemudian, ia membawa istilah slasher pada definisinya yang paling mendasar: it’s about slashing people. Tema filosofisnya menguap dan mekanisme plotnya tersederhanakan ((hanya)) menjadi teknik membantai dengan jebakan brutal. Saya kira satu-satunya hal yang dipedulikan oleh orang yang menonton filmnya adalah bagaimana para karakternya akan dibantai.


Lagian, siapa pula yang menonton film Saw mengharapkan kontemplasi moral mengenai kebenaran dan penebusan? (semua film Saw memang punya elemen tersebut, tapi hanya hanya film pertama yang lumayan oke menyelipkannya). Tak ada yang mengharapkan itu dan Jigsaw juga bukan film yang seperti itu. Film ini familiar. Kita merasa dejavu. Plotnya serasa pernah kita saksikan dalam sekuel-sekuel Saw. Sebagai pembeda adalah twist di menit-menit terakhir yang menjawab mayoritas plot-holes-nya.

Seperti biasa, cerita dimulai dengan beberapa calon korban yang dipaksa untuk “bermain” di suatu lokasi dengan dipandu oleh instruksi dari boneka Jigsaw. Dalam film ini, lokasinya adalah sebuah gudang tua. Jebakannya adalah rantai yang mengalungi leher yang tersambung dengan gergaji mesin di dinding. Para calon korban kita terdiri dari 5 orang, diantaranya dimainkan oleh Laura Vandervoort, Mandela Van Peebles, dan Paul Braunstein. Persyaratan akting mereka adalah berekspresi tegang, berteriak histeris, dan kehilangan organ tubuh.

Dari beberapa kaset yang ditinggalkan di gudang, terdengar istruksi dari sang Jigsaw Killer orisinal, John Kramer. Mereka diperintahkan untuk mengakui dosa di masa lalu. Jika manut dengan aturan permainan, mereka boleh jadi bisa bebas. Masalahnya adalah tak ada yang mau mengakui dosa masing-masing, bahkan saat hampir dibantai. Mereka malah ngeles dengan khilaf-khilaf kecil. Bagaimana Jigsaw tak kesal coba? Kalau mau ngeles harusnya dengan mengaku vertigo lalu dirawat di rumah sakit. Djitoe. Benar kan Pak? *salim*.

Kalau anda ingat, John sudah tewas sejak Saw III (tapi ia mewariskan cukup kaset dan anak buah untuk memotori franchise-nya sampai Saw 3D; anda bisa membaca kronologinya disini). Tubuhnya sudah diotopsi dan kita bahkan melihat otaknya diperiksa. Atau apa memang begitu? Film Jigsaw mengambil setting 10 tahun setelah kematian John. Jadi bagaimana mungkin kita mendengar kembali suara asli Tobin Bell? Atau DNA John yang ditemukan polisi di kuku jari korban?

Yap. Film ini masih mengikuti pakem film-film Saw, dimana plot mengenai “permainan” berjalan paralel dengan drama penyelidikan polisi terhadap Jigsaw yang sekelas dengan sinetron CSI dan semacamnya. Tubuh-tubuh termutilasi dengan trademark Jigsaw ditemukan di jalanan. Detektif Halloran (Callum Keith Rennie) ditugaskan untuk menyelidikinya bersama Detektif Hart (Cle Bennett). Petugas medis Logan (Matt Passmore) dan asistennya Eleanor (Hannah Emily Anderson) bertanggung jawab dalam proses otopsi.

Dalam semesta ini, Jigsaw sudah menjadi semacam legenda. Ada situs yang didedikasikan untuk Jigsaw. Semua orang sudah tahu siapa John Kramer dan bagaimana penerus Jigsaw beroperasi. Siapa saja bisa menjadi Jigsaw atau korban Jigsaw. Jadi dengan segera, semua orang-orang tadi saling mencurigai. Dan mereka juga diberi latar belakang samar-samar yang layak dicurigai. Nelson adalah mantan tentara medis yang trauma pasca perang. Halloran tak selurus kelihatannya. Sementara Eleanor punya ketertarikan berlebihan terhadap modus operandi Jigsaw.

Film ini digarap oleh Spierig Brothers yang relatif baru dalam franchise Saw. Duo sutradara ini menyuguhkan mekanime time-travel yang cukup pelik di Predestination, dan mereka menangani plot paralel Jigsaw dengan mulus. Mereka juga membuat estetika visualnya naik kelas; film ini tak lagi tampak seperti film sadis campy yang over-the-top dengan cut mendadak dan skema warna ekstrim. Meski begitu, mereka kadang tetap harus melebaikan adegan, membuatnya tampak lebih seru daripada sebenarnya, karena tim penulis naskah sepertinya sudah kehabisan inspirasi untuk menyajikan metode pembantaian yang lebih inovatif. Malas dan menggelikan di saat bersamaan.

Bagian favorit saya adalah di gudang gandum. Jigsaw mengancam akan menenggelamkan korban kita dengan gandum, karena gandum adalah alat pembunuh yang sadis — ini tak usah diperdebatkan. Tiba-tiba siraman gandum berhenti. Mungkin Jigsaw sedang mempertimbangkan kekhilafannya, “Ini sih kurang gress”. Lalu baru diturunkanlah segala macam perkakas dapur.

Saya jadi penasaran untuk siapa film ini? Cerita relatif sebelas-dua-belas kualitasnya dengan Saw II s.d. Saw 3D (kecuali twist yang lumayan kreatif), sementara kesadisannya kurang gila. Oh iya, saya tahu. Film ini hanya pelepas kangen, khusus bagi penonton yang masih sanggup bertahan pasca Saw 3D. Siapapun itu. Berapapun mereka yang masih tersisa. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Judul

92 menit
Dewasa
The Spierig Brothers
Josh Stolberg, Peter Goldfinger
Gregg Hoffman, Oren Koules, Mark Burg
Ben Nott
Charlie Clouser

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top