0

Review Film: 'Justice League' (2017)

Trik 'Justice League' mirip dengan trik kencan pertama. Kalau berhasil bikin lelucon, kesan kencan yang dirasakan gebetan takkan terlalu jelek.

“I miss the days whens one's biggest concern is exploding wind-up penguins.”
— Alfred Pennyworth
Konsep kerahasiaan identitas superhero kini tampaknya sudah ketinggalan jaman. Batman contohnya, tak pernah mengungkap identitas Bruce Wayne-nya kepada orang-orang bahkan anggota Justice League, kecuali kepada pembantunya, Alfred serta penonton tentu saja. Batman seharusnya tetap begitu, karena misteri adalah kekuatan supernya selain kaya raya. Tapi disini ia santai saja tanpa topeng. Lalu bagaimana dengan Superman yang sudah wafat? Kematian jagoan selevel dewa ini menyeret dunia ke dalam kekacauan dan langit yang selalu berwarna suram. Justice League seolah mengindikasikan bahwa dunia seperti mau kiamat. Apakah benar begitu? Hal ini tak terejawantahkan sepenuhnya dalam film, kecuali di adegan pembuka saja. Saya ingin melihat lebih banyak lagi tentang dunia tanpa Superman. Tapi kita tak membahas film yang tak dibuat bukan?


Jadi, pertama-tama hal yang utama terlebih dahulu: (1) Justice League, seperti yang kita tahu, mengumpulkan semua jagoan bintang dari semesta DC dalam satu film, (2) sedikit lebih baik dibanding Batman v Superman: Dawn of Justice, (3) ceritanya simpel dan durasinya lumayan singkat sehingga tak begitu melelahkan, (4) meski mengambil tema kiamat (sebagaimana semua film Zack Snyder), film ini lebih ringan untuk dinikmati, tetapi (5) ia juga sangat generik karena memakai template standar film superhero dan tak sekalipun keluar dari sana.

Anda mungkin sudah mendengar bahwa proses produksinya sempat bermasalah. Snyder mengundurkan diri dari proses produksi karena tragedi keluarga lalu posisinya diambil alih oleh Joss Whedon yang dulu menggarap The Avengers. Meski katanya hanya “memoles”, tapi campur tangan Whedon pasti cukup substansial karena ia kemudian mendapat kredit sebagai penulis naskah bersama Chris Terrio. Meski begitu, Justice League tetap terasa seperti satu film penuh. Lumayan koheren. Anda penonton yang cermat, mungkin tahu bagian mana yang dipoles Whedon, namun secara keseluruhan film Justice League sukses dalam misinya mengumpulkan para jagoannya dan menyuguhkan dinamika tim.

Inisiator tim ini adalah Batman/Bruce Wayne (Ben Affleck) dan Wonder Woman/Diana Prince (Gal Gadot). Target rekrutan mereka diantaranya (1) Aquaman/Arthur Curry (Jason Momoa), penguasa lautan yang dari penampilannya pasti doyan nge-gym sembari mendengar lagu metal, (2) The Flash/Barry Allen (Ezra Miller), remaja yang memanfaatkan kemampuan lari supercepatnya untuk iseng dan ngomong-ngomong ia juga seorang K-popers, serta (3) Cyborg/Victor Stone (Ray Fisher), mantan atlit kampus yang sekarang adalah seorang, well, cyborg.

Tak ada asap kalau tak ada api. Penyebab jagoan super ini berkumpul adalah invasi dari alien raksasa bernama Steppenwolf (Ciaran Hinds dalam balutan CGI) bersama gerombolan alien capungnya berjuluk Parademons, yang berencana mengumpulkan 3 kotak energi yang akan memberinya kekuatan super untuk... yaa, siapa peduli. Ini tak penting. Sama seperti nama kotaknya yang tak inovatif yaitu Kotak Ibu/Motherboxes, skrip film tak bisa menemukan MacGuffin yang lebih menarik daripada kekuatan untuk menghancurkan dunia, yang tentu saja digunakan oleh penjahat untuk menghancurkan dunia karena itulah yang selalu dilakukan penjahat.

Ngomong-ngomong, kekuatan ini sedemikian besar sehingga mampu menghancurkan kehidupan. Nah, dengan mengestimasi probabilitas relativitas waktu yang berkorelasi dengan kekekalan energi di dalam dimensi ruang terhadap eksistensi entitas semesta ekstraterestrial yang nantinya akan membenahi labil ekonomi, konspirasi kemakmuran dan mudah-mudahan kontroversi hati demi tercapainya harmonisasi kehidupan (atau begitulah yang saya tangkap dari teori yang disampaikan Batman), kira-kira bisakah kekuatan ini dipakai untuk kebalikannya? Anda tahulah, seperti yang mereka lakukan dalam Pet Sematary-nya Stephen King. Tak ada salahnya mencoba kan? Ehem.

Meski mewadahi banyak karakter, film ini menjadi yang terpendek dari semua film DC Extended Universe. Justice League sebenarnya mengemban beban untuk melanjutkan cerita dari Batman v Superman serta memperkenalkan tak kurang dari 3 karakter baru sekaligus sedikit latar belakang mereka, namun berhasil melakukannya dalam dua jam dengan memangkas karakterisasi naratif dan sikap superserius pendahulunya. Jika The Avengers adalah kulminasi dari film solo anggotanya, Justice League lebih terbantu berkat keberadaan sebagian besar karakternya yang sudah menjadi budaya pop dimana-mana termasuk Indonesia. Tak ada yang begitu perlu dijelaskan soal Superman, Batman, Wonder Woman, The Flash, dan Aquaman; well, mungkin tidak dengan Cyborg, tapi namanya sudah cukup menjelaskan karakternya.

Ketokohan ini juga memberi filmnya banyak keasyikan. Mereka saling melempar celutukan atau sindiran sesuai dengan karakteristik mereka. Di satu titik, Batman bertanya kepada Aquaman, “Apa kamu benar-benar bisa bicara dengan ikan?” dengan tampang yang merupakan gabungan antara ingin tahu dan ingin meledek. The Flash menjadi bahan utama lelucon karena pembawaannya yang kekanak-kanakan. Ini menciptakan semacam keakraban bagi penonton padahal kita sebenarnya tak terlalu mengenal mereka.

Yang hilang adalah gaya visual yang unik dari Snyder. Apapun kritik orang mengenai Snyder, ia adalah salah seorang visual stylist sinema kekinian. Dalam Justice League nyaris tak ada momen yang benar-benar berkesan. Setpieces-nya terkadang cukup menegangkan, tapi ini hanyalah parade efek spesial generik yang seperti diambil langsung dari video game. Penjahatnya terutama, merupakan kreasi CGI payah yang tak bisa memberikan kesan meyakinkan sebagai penjahat. Film ini menjadi sajian aksi blockbuster yang tumpul yang di banyak bagian terselamatkan oleh lelucon. Mirip lah dengan trik kencan pertama. Kalau berhasil bikin lelucon, kesan kencan yang dirasakan gebetan takkan terlalu jelek.

Kalau dipikir-pikir, semua superhero DC ini memang sangat super. Maksud saya, jika dibandingkan dengan Marvel. Misalnya saja Superman yang literally bisa mengalahkan apa saja, mungkin termasuk Captain America atau Iron Man dalam sekali libas. Jadi mereka butuh ancaman lvl kiamat. Di film ini, klimaksnya mengambil tempat di suatu tempat terpencil di Rusia supaya mereka bisa menghancurkan apa saja tanpa konsekuensi. Namun jika semua ancaman adalah kiamat terus, kiamatnya jadi menjemukan dong? Bagi superhero kita, semua bisa jadi lelucon dong? Nice to know they know that too. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Justice League

120 menit
Remaja
Zack Snyder
Chris Terrio, Joss Whedon
Charles Roven, Deborah Snyder, Jon Berg, Geoff Johns
Fabian Wagner
Danny Elfman

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top