0

Review Film: 'Paddington 2' (2017)

Sekarang hadirlah 'Paddington 2' yang tak kalah manis dan hangatnya dibanding yang pertama, tapi dengan keseruan berlipat ganda.

“If we are kind and polite, the world will be right.”
— Paddington
Rating UP:
Paddington adalah film keluarga yang manis dan hangat yang tak hanya sukses menyampaikan kepada kita pesan mulia mengenai pentingnya bersikap baik dan tulus, tapi juga membuat terlihat masuk akal saat sebuah keluarga mengadopsi beruang yang mengambil peran seperti manusia tanpa membuat tetangga mendelik heran. Sudah lah beruang, bisa bicara dan bersikap kayak manusia pula. Film ini melakukan apa yang tak bisa dicapai oleh film Stuart Little, dan ia melakukannya dengan brilian. Sekarang hadirlah Paddington 2 yang tak kalah manis dan hangatnya dibanding yang pertama, tapi dengan keseruan berlipat ganda.


Paddington 2 menawarkan hiburan terbaik untuk seluruh anggota keluarga. Nah, saya tak pernah membaca materi sumbernya yaitu serial buku anak-anak laris karya Michael Bond yang pertama kali dirilis 6 dekade yang lalu. Namun filmnya punya sensasi khas cerita anak-anak klasik meski setting-nya modern. Filmnya berisi permainan kata, komedi kekanakan, dan lelucon visual. Tapi tak ada yang garing. Kenapa orang-orang Inggris selalu jago soal komedi plesetan kata dan membuat produk yang terlihat elegan?

Saya kira salah satu penyebabnya mungkin karena aksen kali yaa. Sesuatu terdengar lebih berkelas dan lucu saat diucapkan dalam logat British. Khususnya dari tokoh utama kita, Paddington (disuarakan oleh Ben Whishaw). Beruang polos berjaket biru dan bertopi merah ini sekarang sudah tinggal dengan nyaman di sebuah kompleks perumahan di London bersama keluarga Brown: ibu dan ayah (Sally Hawkins dan Hugh Bonneville) dan dua anak mereka (Madeleine Harris dan Samuel Joslin), serta penjaga rumah mereka (Julie Walters). Paddington sangat disukai tetangga karena rajin bantu-bantu, kecuali Pak Curry (Peter Capaldi) yang selalu saja mencurigai tingkah laku sang beruang idola.

Berhubung Tante Lucy (yang adalah beruang, jika anda masih ingat) akan berulang tahun yang ke-100, Paddington berencana memberikannya kado. Kebetulan di toko Pak Gruber (Jim Broadbent), Paddington melihat sebuah Buku Timbul yang memuat miniatur tempat-tempat ikonik di London. Tante Lucy sangat ingin ke London, tapi berhubung ia tak bisa, maka bagaimana kalau Paddington saja yang "mengirimkan" London kepadanya?

Ternyata harga bukunya lumayan mahal, sehingga Paddington harus kerja paruh waktu. Bekerja sebagai tukang cukur malah berakhir kacau, dimana Paddington harus membayar risikonya nanti. Cocoknya memang di air. Maksud saya, bulu-bulu lembut Paddington pasti bisa dimanfaatkan untuk sesuatu kan? Biar tak berkurang lucunya, silakan anda temukan sendiri. Ngomong-ngomong, ada pencuri yang juga mengincar Buku Timbul. Paddington berusaha mengejarnya, tapi malah ia yang ditangkap polisi. Paddington masuk penjara dan dihukum 10 tahun kurungan.

Benar sekali pemirsa, tega betul film ini mengirim beruang lucu ini ke dalam penjara. Namun jangan khawatir bapak-bapak ibu-ibu, film ini menggunakan plot yang terdengar kelam tersebut sebagai hiburan. Bukan Paddington namanya kalau tak bisa meluluhkan hati para tahanan lain, termasuk koki yang dipanggil Om Knuckles (Brendan Gleeson), dengan ketulusan hati dan sandwich selai jeruk buatannya. Di film pertama saya tak begitu ngeh bahwa sutradara/penulis Paul King mengacu pada estetika film-film Wes Anderson. Namun disini, saya sadar karena mencolok. Dimulai dari Paddington yang tak sengaja merubah warna baju tahanan menjadi pink saat tugas mencuci, King membuat penjara menjadi tempat eksentrik yang berisi setpieces menarik.

Semisal anda lupa, tak ada beruang sungguhan yang terlibat disini karena Paddington dibuat dari CGI. Namun kualitasnya sangat meyakinkan sampai di titik dimana anak/adik anda akan percaya begitu saja bahwasanya ada beruang yang bisa ngomong. Adegan puncak melibatkan kejar-kejaran dengan kereta uap. Namun puncak pencapaian visualnya menurut saya adalah bagian awal, saat Buku Timbul menjadi "hidup". Paddington membayangkan dirinya dan Tante Lucy versi mini berada di dalam buku, berjalan-jalan mengunjungi berbagai lokasi yang terbuat dari miniatur kertas. Kamera bergerak dengan dinamis seolah tanpa terputus sembari lembar bukunya dibalik. Ada pula adegan reka-ulang kejadian di TKP yang menggunakan ilustrasi hitam-putih.

Saya kira bukan spoiler jika memberitahu bahwa penjahatnya ternyata adalah tetangga Paddington sendiri, seorang mantan aktor tenar bernama Phoenix Buchanan (Hugh Grant) yang sekarang menjadi maskot makanan anjing dimana ia harus memakai kostum anjing dan memakan makanan anjing (!). Buku Timbul berisi petunjuk mengenai lokasi harta yang rencananya akan digunakannya untuk memulai lagi karirnya. Sangat narsis dan licik, Buchanan berkeliling London dengan kostum-kostum aneh, mulai dari gelandangan, ksatria abad pertengahan, sampai suster. Grant memainkan perannya ini dengan kelebaian yang paripurna dan kadang-kadang terlihat seperti memarodikan diri sendiri.

Sasaran Paddington 2 adalah anak-anak, tapi ini adalah film anak-anak spesial yang takkan kurang menghiburnya jika ditonton oleh orang dewasa. Kesuksesan terbesar King adalah membuat materi yang terlihat absurd seperti ini menjadi suatu tontonan yang manis dan bermakna. King dan semua yang terlibat dalam film ini mencurahkan keseriusan dalam menggarap film yang notabene hiburan buat anak-anak. Karena anak-anak juga layak mendapat tontonan yang bermutu. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Paddington 2

103 menit
Semua Umur - BO
Paul King
Paul King, Simon Farnaby
David Heyman
Erik Wilson
Dario Marianelli

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top