0

Review Film: 'Call Me by Your Name' (2017)

Alih-alih, berkat penulisan dan akting dengan cermat, ia menjadi film yang sensual dan sensitif di saat bersamaan.

“Call me by your name and I'll call you by mine.”
— Oliver
Rating UP:
Elio adalah remaja puber yang canggung. Oliver adalah pria dewasa yang percaya diri. Di suatu tempat di Itali pada tahun 1983, mereka terlibat dalam romansa. Benar, hubungan ini tak pantas, tapi Call Me by Your Name tak membuatnya terkesan sebagai eksploitasi seksual. Alih-alih, berkat penulisan dan akting dengan cermat, ia menjadi film yang sensual dan sensitif di saat bersamaan.


Di permukaan, filmnya memang film gay. Namun apapun orientasi seksual kita, filmnya terasa relatable. Kebetulan saja, mereka gay (atau bukan gay tapi punya tendensi untuk itu). Sutradara Luca Guadagnino bersama penulis skrip veteran James Ivory dengan elegan mempresentasikan sesuatu yang dialami oleh semua orang, yaitu cinta pertama. Dalam cinta pertama, kita tak peduli dengan apapun. Kita hanya merasakan hasrat yang rasanya harus dilepaskan segera. Apakah itu cinta sejati atau sekedar nafsu sesaat, kita belum akan mengerti. Yang jelas, itu adalah pengalaman yang takkan pernah terlupakan.

Jadi, apakah filmnya punya momen gay? Tentu saja. Namun Guadagnino menangani adegan seksnya dengan hati-hati. Terkadang, ia menahan diri dengan tak menampilkannya secara eksplisit, misalnya dengan memindahkan sorotan kamera ke jendela. Makanya, filmnya lebih tepat disebut sebagai romance yang sensual daripada seksual. Kita tak usah terlalu khawatir.

Elio jelas takkan melupakan ini. Sebagaimana diperankan oleh Timothée Chalamet, ia adalah anak muda yang berada dalam proses penemuan diri sendiri. Chalamet membuat karakternya menjadi luar biasa dalam. Ia punya keluwesan dan kecanggungan khas remaja tapi juga sangat sentimentil. Ini adalah penampilan yang istimewa dari seorang aktor muda. Anda tahu, jurus utama Chalamet adalah matanya, terutama di adegan final yang akan merobek-robek hati anda. Saya menduga aspek ini adalah salah satu pertimbangan Guadagnino saat memilih Chalamet.

Akan tetapi bagaimana dengan Oliver? Apa yang terjadi dengannya? Kita tak banyak melihatnya, karena semua yang terjadi sebelumnya sebagian besar adalah pengalaman Elio. Dan sebenarnya juga tak perlu sih. Oliver adalah perwujudan dari apa yang Elio pikir ia hasratkan. Apakah ia benar-benar cinta Oliver? Mungkin iya, mungkin tidak. Judul “panggil aku dengan namamu” dan momen ketika Elio memanggil Oliver dengan “Elio” menegaskan bahwa apa yang dirasakan Elio mungkin tak terlalu soal apakah ia mencintai Oliver.

Kata orang cinta itu datangnya dari mata. Tatapan. Lalu sentuhan. Namun hal sebelum itu yang sering terlewatkan adalah: rasa ingin tahu. Elio si anak Eropa, dengan rasa ingin tahunya, mengamati Oliver (Armie Hammer) si pria Amerika yang dianggapnya aneh. Oliver ini terlalu nyantai, agak slenge’an, dan sangat pede. Elio sebenarnya tak inferior dibanding Oliver; ia menguasai 3 bahasa serta pintar bermain piano dan gitar. Namun ada sesuatu yang membuat Elio terpesona pada Oliver, walau di suatu titik, justru Oliver lah yang bilang bahwa ia mengagumi Elio. “Apa ada yang tak kamu tahu?” tanya Oliver.

Pertemuan mereka terjadi karena ayah Elio (Michael Stuhlbarg), seorang profesor arkeologi, selalu mengundang satu mahasiswanya yang paling berbakat untuk magang di rumahnya yang berada di pinggiran kota. Kebetulan, musim panas tahun ini adalah giliran Oliver, pria mempesona, tinggi, dan tampan yang kebetulan penampilan fisiknya mirip-mirip lah dengan patung Roma kuno yang tengah diriseti ayah Elio (kolega saya, PicturePlay membahas poin ini dengan komprehensif dalam reviewnya yang juga komprehensif). Ibu Elio (Amira Casar) langsung menyambutnya dengan tak henti-henti menyajikan makanan. Namun tidak demikian dengan Elio. Awalnya Elio menganggap Oliver sebagai pengganggu karena mengambil alih kamarnya dan memaksanya berbagi kamar mandi.

Guadagnino tak merasa perlu terburu-buru untuk menceritakan filmnya. Kita melihat Elio dan Oliver menghabiskan waktu dengan hal-hal remeh —bersepeda keliling kota, berenang, makan, berpesta, atau sekedar ngobrol— sementara secara bertahap mereka mulai mengenali perasaan yang mereka rasakan. Oliver adalah pribadi yang percaya diri. Tapi juga hati-hati dalam menjaga jarak, seolah menunggu Elio yang bergerak duluan. Hammer memberikan penampilan paling kompleksnya sejauh ini, setahu saya.

Film ini memainkan romansanya dengan salah satu permainan terbaik dalam teknik percintaan, yaitu tarik-ulur. Mereka saling menggoda tanpa terlihat saling menggoda. Lihat tingkah keduanya saat bersepeda di alun-alun kota. Ketika Oliver berdansa dengan gadis lokal atau Elio bercumbu dengan gebetannya (yang adalah seorang cewek), mereka terlihat seolah sedang menguji satu sama lain. Lagipula, ini adalah tahun 80-an, ketika masyarakat masih represif soal beginian; mereka tak bisa mengungkapkannya begitu saja. Saat berada di sebuah monumen lah, perasaan ini terungkap. Dan, meski demikian, Guadagnino menangani adegannya dengan cantik, nyaris tanpa drama.

Film ini diangkat dari novel berjudul sama karya André Aciman. Banyak yang bilang bahwa ada satu monolog kunci yang sangat menyengat di bukunya. Karena saya tak membacanya, jadi saya setuju-setuju saja. Yang jelas, Stuhlbarg memang mendapat satu adegan sedap ketika bercengkerama dengan Elio yang sedang sedih. Ini adalah pernyataan blak-blakan yang keluar dari mulut orangtua yang pola pikirnya sangat progresif, saya pikir tujuannya tak hanya untuk menenangkan Elio tapi penonton juga.

Awalnya saya sedikit heran dengan para karakternya yang nyaris tak sekolah atau kerja, bahkan kerjaan arkeologi hanya terbatas pada debat tentang asal-usul kata “aprikot” dan penemuan patung kuno di sebuah danau. Namun kemudian saya sadar bahwa setting-nya ini sempurna. Ia adalah a perfect short escape, tempat yang terlepas dari semua beban kehidupan nyata, mengijinkan bibit romansa tumbuh subur. Peristiwa seperti ini kemungkinan besar takkan terjadi di waktu dan tempat yang lain. Di banyak bagian, gambarnya menggunakan long-take. Sinematografer Sayombhu Mukdeeprom menyajikan gambar-gambar yang segar, dengan menekankan pada elemen musim panas. Pacing-nya yang pelan mungkin juga untuk menangkap atmosfer musim panas yang malas dan selow abis.

Tohokan emosionalnya terasa otentik karena kita diajak secara natural untuk merasakan pengalaman Elio. Call Me by Your Name adalah perjalanan Elio menyadari sesuatu dan kita tak bisa untuk tak peduli karena film juga membuat kita menyadarinya. Dan film ini ditutup di titik puncak tentang jenis cinta yang akan selalu terngiang-ngiang. Anda akan tahu maksud saya saat menyaksikannya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Call Me by Your Name

132 menit
Dewasa
Luca Guadagnino
James Ivory (screenplay), André Aciman (novel)
Peter Spears, Luca Guadagnino, Emilie Georges, Rodrigo Teixeira, Marco Morabito, James Ivory, Howard Rosenman
Sayombhu Mukdeeprom
Sufjan Stevens

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top