0

Review Film: 'mother!' (2017)

'mother!' adalah film provokatif yang akan dianggap sebagian orang sebagai film yang dalam sementara sisanya lebih memilih menjedotkan kepala ke dinding daripada menonton ulang.

“I have nothing left to give.”
— Mother
Rating UP:
Sekarang anda tahu kenapa judul filmnya menggunakan tanda seru. Setiap kali membicarakan filmnya, orang-orang akan melafalkan judulnya dengan nada tinggi. Entah itu berteriak kegirangan atau terpekik jijik saat mengingat kembali apa yang sudah mereka tonton. mother! adalah film provokatif yang akan dianggap sebagian orang sebagai film yang dalam sementara sisanya lebih memilih menjedotkan kepala ke dinding daripada menonton ulang.


mother! awalnya bermain seperti thriller psikologis yang aneh kemudian berubah absurd sampai akhirnya menjadi film yang edan total. Filmnya akan memancing seruan “WTF” berkali-kali. Bukan karena kehadiran momen pembuat syok (ada memang tapi saya yakin anda pernah melihat yang lebih parah), namun lebih karena fakta bahwa sutradara/penulis Darren Aronofsky bisa membuat film seabsurd ini, berhasil meyakinkan studio sebesar Paramount untuk memproduksinya sekaligus mengemasnya layaknya film mainstream. Ini termasuk salah satu film terganjil yang pernah dirilis oleh studio besar.

Film ini lumayan pelik untuk diulas. Sedikit saja kepleset bicara, anda boleh jadi akan mencak-mencak sama saya yang tega merusak kenikmatan menonton. Jadi saya akan mencoba berhati-hati. Ini bukan berarti bahwa filmnya mengandung spoiler ya. Film ini relatif tak punya twist, tapi lebih cenderung soal interpretasi. Setelah anda mengetahuinya, film ini menjadi tidak berarti.

Karakter “mother” dari judul diperankan oleh Jennifer Lawrence, seorang wanita muda yang polos, baik, telaten, selalu perhatian, dan (mungkin) terlalu penurut dalam merawat suaminya (Javier Bardem) yang seorang penulis tenar. Keluarga ini terlihat harmonis dimana keduanya selalu berinteraksi dengan lemah lembut. Namun sepertinya ada yang janggal dari obsesi “mother” yang begitu getol merenovasi rumah hingga detil terkecil atau sang suami yang tengah frustrasi karena tak bisa menciptakan tulisan sehebat karyanya yang lalu atau fakta bahwa mereka belum punya anak.

Bicara soal rumah, ini adalah bagian dimana Aronofsky sejak awal sudah menegaskan bahwa filmnya tak dekat dengan realisme. Rumah besar yang semi tua ini berada di daerah terpencil, jauh dari jalan, dan tanpa koneksi telpon. Di balik dinding, ada semacam jantungnya rumah yang hanya bisa dirasakan degupnya oleh “mother”. Terkadang di lantai juga suka muncul luka tak berdarah. Adegan di awal film menunjukkan sang suami yang menemukan sebuah kristal di abu sisa kebakaran rumahnya sebelumnya. Kristal ini menjadi pemantik baginya untuk membangun rumah dan keluarga baru bersama “mother”. Apakah ini adalah rumah kedua baginya? Apakah “mother” adalah istri keduanya? Siapa yang tahu.

Suatu malam, terdengar ketukan di pintu. Mereka tak sedang menantikan tamu. Yang mengetuk adalah seorang pria (Ed Harris) yang sepertinya akan membawa masalah. Atau begitulah pikir “mother”. Namun, alih-alih mengusir, sang suami malah menyambutnya dengan ramah, bahkan mempersilakannya menginap. Tak butuh waktu lama sampai sang suami dan sang pria minum bir bareng, apalagi sang pria mengaku bahwa ia adalah penggemar berat karya sang suami.

Pagi hari, terdengar lagi ketukan. Yang datang berikutnya adalah seorang wanita (Michelle Pfeiffer) yang ternyata adalah istri sang pria semalam. Tante seksi ini cukup liar; tak segan masuk ke kamar sang suami yang bahkan tak berani dimasuki “mother” sendirian, merusak beberapa properti, atau menanyakan hal-hal privat kepada “mother”. Sementara “mother” kentara sekali terlihat tak menerima tamu-tamu tak diundang ini, sang suami sepertinya malah begitu antusias menyambut kedatangan mereka. Segera, semakin banyak orang-orang yang mengunjungi rumah mereka. Dan situasi menjadi semakin ganjil....

...maksud saya, lebih dari ganjil. Bagian terakhir adalah kekacauan spektakuler. Rumah mereka diinvasi oleh berbagai macam orang, mulai dari keluarga jauh dari tamu pertama —yang tentu saja tak mereka kenal, wartawan, polisi, teroris, sampai para fanatik. Akan ada pesta, kekerasan, seks, vandalisme, sampai ritual keagamaan yang sama sekali tak masuk akal secara naratif, namun dalam konteks sinema, merupakan sebuah pencapaian tersendiri bagi Aronofsky mengingat betapa intensnya penyajian momen-momen tersebut.

Saya akan menulis satu kalimat sederhana yang menjadi koentji, jadi bagi yang belum menonton boleh undur diri. Cara terbaik untuk menikmati film ini adalah dengan menemukan koentji-nya sendiri, karena itulah poin filmnya. Tidak mindblowing sih tapi lumayan merusak pengalaman menonton. Bersiaplah, ini dia: semua poin plot dalam film ini adalah alegori. Yup. Itulah koentji terbesarnya. Receh. Yang menonton pasti langsung tahu. Tapi tenang saja, saya takkan menjelaskan alegorinya tentang apa. Silakan anda dapatkan sendiri.

Mengenai alegori, alegori terbaik itu bekerja di dua level, yaitu di permukaan dan sebagai subteks. Walaupun subteks mother! ini scope-nya warbyasah, namun filmnya tak berhasil di permukaan. Ia terlalu ganjil dan inkoheren untuk dilahap. Tonton film ini di level permukaan, maka ia terasa seperti film kosong yang kacau. Ini bukan berarti bahwa filmnya incomprehensible, karena pemahaman berada di level subteks. Meski berhasil menginterpretasi alegorinya, kita tak mendapatkan sesuatu yang baru karena yaa memang hanya alegori itulah isi filmnya. Ia tak lagi menjadi subteks. Ia hanyalah sekadar hal blak-blakan yang dituturkan dengan pretensius.

Menurut saya pribadi, ini bukan lagi soal “mengerti” atau “tidak mengerti” akan alegorinya. Bisa saja kita mengerti tapi tetap tidak menyukai filmnya. Ada beberapa detil kecil yang nanti akan memberikan momen eureka bagi kita (“oh, ini kayanya mirip sama hikayat yang itu deh”), tapi Aronofsky sepertinya tak bisa menalikannya dalam skema yang lebih besar. Selain sindirin (dan tohokan) buat isu ini-itu, film ini terasa tak selesai dengan sempurna.

Yang sebenarnya cukup disayangkan, karena craftmanship-nya bagus sekali. Akting, penyutradaraan, desain suara, gambar, dan efek spesialnya berkelas. Sinematografer langganan Aronofsky, Matthew Libatique bermain dengan perspektif. Kamera handheld hampir selalu menempel pada karakter Lawrence, menciptakan nuansa klaustrofobik. Kita selalu ada di dekat “mother”, dan sama sepertinya, kita tak begitu tahu apa yang terjadi di sekitar. Pemilihan aktornya tepat. Bardem adalah aktor yang punya intensitas sedemikian rupa dan pesona yang misterius. Kita tak bisa menebak apa yang ada di pikiran sang suami. Pfeiffer fantastis, selalu mencuri perhatian setiap tampil. Lawrence mendapat peran yang lebih berat. Karakternya tipis dan sulit ditangani, namun saya pikir tak ada aktor muda yang bisa memerankan “mother” selain Lawrence.

Durasi film ini lumayan panjang, tapi anehnya, saya tak bosan selama menonton. Saya tetap penasaran akan dibawa kemana film ini oleh Aronofsky meski apa yang dituturkannya tak begitu menggugah di akhir. Aspek terburuk dari film ini adalah idenya untuk membuat film semata-mata dari dan demi alegori yang, jujur saja, sangat blak-blakan. Esensi filmnya tak punya resonansi. Bisakah sebuah film digarap dengan terampil tapi pada akhirnya tetap tak bekerja dengan baik? Sepertinya begitu. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

mother!

121 menit
Dewasa
Darren Aronofsky
Darren Aronofsky
Darren Aronofsky, Scott Franklin, Ari Handel
Matthew Libatique

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top