0

Review Film: 'Murder on the Orient Express' (2017)

Perhatian kita langsung dicuri oleh kumis Hercule Poirot. Mungkin memang begitulah tujuannya; supaya perhatian kita tetap terjaga.

“My name is Hercule Poirot, and I am probably the greatest detective in the world.”
— Hercule Poirot
Yeah maybe, but one thing for sure; you definitely have the greatest moustache in the world.

Perubahan paling drastis dari film Murder on the Orient Express versi terbaru ini dibanding pendahulunya mungkin adalah kumis Hercule Poirot. Tak lagi mengacu pada kumis Dali, ia sekarang lebih mirip sungut The Lorax. Setidaknya sudah ada 4 versi film dari salah satu detektif terhebat di jagad fiksi ini, namun yang dimainkan Kenneth Branagh, tak terbantahkan lagi, adalah yang punya kumis paling epik.

Branagh yang juga bertindak sebagai sutradara —dan saya asumsikan juga orang yang bertanggungjawab mengusulkan kumis tadi— tak perlu lagi khawatir apakah filmnya mampu tampil berbeda dibanding adaptasi sebelumnya. Sekali kita melihat kumis tadi, kita tak bisa melupakannya. Setiap Poirot muncul di layar, perhatian kita langsung dicuri oleh kumisnya. Mungkin memang begitulah tujuannya; supaya perhatian kita tetap terjaga.


Sebagaimana semua novel Agatha Christie, Murder on the Orient Express termasuk ke dalam ranah misteri "whodunnit" alias "nyari siapa pelakunya". Dan sebagaimana semua misteri "whodunnit", ketika jawaban misterinya sudah dipaparkan, filmnya menjadi tak berarti. Mengingat kisah Murder on the Orient Express yang sudah sedemikian populer, rasanya sudah banyak yang tahu "siapa pelakunya". Jadi, poinnya sekarang bukan lagi soal siapa yang melakukannya, melainkan bagaimana filmnya bisa mengikat kita sampai pengungkapan siapa yang melakukannya.

Proses ini lumayan menarik sih, karena kita ditemani dengan nama-nama bintang dan tata produksi kelas wahid. Branagh menggunakan kamera 65mm yang berformat besar dan tajam (yang juga digunakan dalam Dunkirk) sehingga visualnya terlihat fantastis. Ia sering melakukan pengambilan gambar secara long-shot tanpa terputus seperti saat menyorot keramaian di stasiun atau ketika memperkenalkan para penumpang kereta Orient Express. Alasannya? Tentu saja biar terlihat keren. Set untuk keretanya juga sangat megah. Furnitur dan perkakasnya yang berkelas memang tampak meyakinkan sebagai sarana ekslusif bagi orang-orang dari strata sosial istimewa saja.

Jika dalam film layar lebar 1974 yang digarap Sidney Lumet kita didampingi diantaranya oleh Albert Finney, Ingrid Bergman, Sean Connery, dan Lauren Bacall, maka di versi terbaru ini kita tak perlu khawatir kesepian. Ada Michelle Pfeiffer sebagai sang janda, Penelope Cruz sebagai sang misionaris, Willem Dafoe sebagai sang profesor, Judi Dench sebagai sang ratu dan Olivia Colman sebagai pembantunya, Daisy Ridley sebagai gadis elit yang menjalin hubungan rahasia dengan sang dokter yang diperankan oleh Leslie Odom Jr., serta Johnny Depp sebagai si gangster Ratchett yang didampingi oleh asistennya (Josh Gad) dan butlernya (Derek Jacobi).

Film ini dengan sigap memperkenalkan kita dengan Poirot, detektif cerdas yang nyaris maniak soal kesimetrisan, termasuk hal receh soal telur rebus atau eek kuda. Jenius dan gila memang beda tipis. Ia kemudian dimintai tolong untuk memecahkan kasus pencurian artifak kuno, dimana tersangkanya adalah seorang imam, seorang rabbi, dan seorang pendeta. Poirot tak hanya memecahkan kasusnya, tapi juga berhasil menjegal pelakunya dengan cerdik. Tenang saja, penyelesaiannya takkan memancing perang agama.

Kemampuan deduksi Poirot kemudian dibutuhkan di London dan untuk itu ia harus menumpang di kereta Orient Express. Namun sama seperti Detektif Conan yang kemanapun pergi selalu mengundang kematian (coba hitung ada berapa orang di Jepang yang tewas gara-gara kehadiran Conan; takkan kita bahas disini karena itu materi buat artikel lain), perjalanan Poirot juga menjadi sebuah kasus. Seorang penumpang ditemukan tewas dengan belasan tusukan. Tersangkanya kemungkinan adalah salah seorang penumpang kereta. Untungnya kereta terhenti gara-gara longsoran salju, sehingga memberi kesempatan bagi Poirot untuk mencari petunjuk dan menginterogasi penumpang satu per satu.

Nah, saya takkan bicara lebih jauh mengenai misteri, apalagi pengungkapannya. Namun saya bisa beritahu anda tentang bagaimana kesan saya mengenai cara film menggulirkan misterinya. Proses penyelidikannya tak seasyik versi 1974. Keseruan dari misteri “whodunnit” adalah saat kita diajak untuk mencoba menebak siapa pelaku. Namun film ini sepertinya kewalahan dalam membeberkan detail kejadian dan motif dari para calon tersangka, sehingga malah membuat saya kebingungan dengan siapa yang mana melakukan apa. Adegan pengungkapan di akhir juga kurang greget. Poirot seperti gagal mengurai bagaimana ia memecahkan kompleksnya kasus tersebut.

Saya tahu, misteri “whodunnit” tak membutuhkan perkembangan karakter. Ia menangani karakter dengan pendekatan yang clinical; kita hanya perlu latar belakang, karakteristik, dan motif dari karakternya. Jadi, pasti bakal asyik sekali menyaksikan cast bertabur bintang ini bersenang-senang dengan peran mereka, which they are. Menyebut mereka seharusnya mendapat sorotan lebih banyak, saya rasa cukup keliru. Tapi peran mereka memang terkerdilkan disini. Hal ini berhubungan dengan jawaban misterinya, yang takkan saya ungkap, namun menegaskan bahwa Murder on the Orient Express sebenarnya adalah kisah dengan ensemble cast, mirip dengan satu lagi novel Agatha Christie, And Then There Were None. Namun yang kita dapat disini malah pertujukan solo Hercule Poirot, yang sepertinya dimaksudkan untuk memulai Hercule Poirot Cinematic Universe.

Yang sebenarnya tak bisa tak disebut menghibur sih. Branagh sepertinya benar-benar suka menyutradarai dirinya sendiri sebagai detektif eksentrik ini. Setiap gestur, aksen, dan pembawaan yang sebenarnya menggelikan dibawakan dengan antusiasme sedemikian rupa sampai di titik kita dibuat kagum akan keseriusannya tampil menggelikan. Ia mendominasi setiap adegan dan kita akan selalu dibuat lupa bahwa yang kita lihat ini sebenarnya Branagh lho bukan Poirot. Yah, kayanya semua berkat kumisnya sih. Sebentar, atau jangan-jangan itu bukan kumis? ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Murder on the Orient Express

114 menit
Remaja
Kenneth Branagh
Michael Green (screenplay), Agatha Christie (novel)
Ridley Scott, Mark Gordon, Simon Kinberg, Kenneth Branagh, Judy Hofflund, Michael Schaefer
Haris Zambarloukos
Patrick Doyle

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top