0

Review Film: 'Pitch Perfect 3' (2017)

Mungkin mereka sudah lelah.

“This is way too much cardio.”
— Fat Amy
Rating UP:
Kalau Pitch Perfect mampu mengubah iman kita yang awalnya tak percaya bahwa acapella itu keren, saya rasa Pitch Perfect 3 akan memberi dampak yang sebaliknya. Menonton film ini membuat saya sering ber-eyerolling dan berujar, “plis deh”. Filmnya cheesy, kacau, dan pointless. Satu-satunya materi berkualitas yang ditawarkannya adalah kumpulan foto & video di credit title yang menangkap momen-momen kebersamaan para Barden Bellas. Seharusnya film dibuat dari bagian ini. Hei, film ini kan perpisahan kita dengan Barden Bellas?!


Pudar sudah dunia unik yang asyik dari semesta Pitch Perfect, dimana acapella dianggap sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat dan orang bisa tiba-tiba bernyanyi kapanpun dan dimanapun. Kay Cannon yang juga menulis skrip untuk film pertama dan kedua, memilih untuk tampil gila-gilaan di film penutup ini dengan menceburkan para Bellas ke dalam film aksi, dimana Fat Amy (Rebel Wilson) sempat menghajar penjahat dengan wajan.

Atau acapella tak lagi relevan mungkin karena para Bellas sudah lulus kuliah dan sekarang harus berhadapan dengan real life? Real life memang tak selalu ramah. Beca (Anna Kendrick) akhirnya menjadi produser musik, tapi memang lebih baik berhenti daripada memproduseri musisi abal-abal yang sengak. Chloe (Brittany Snow) tak begitu menikmati saat membantu lahiran sapi. Cynthia (Ester Dean) baru saja membunuh ratusan penumpang palsu dalam simulasi penerbangan. Dan Fat Amy... sebenarnya tak masalah dengan status penganggurannya, hanya saja lapak “Fat Amy Winehouse”-nya jangan sampai digrebek lagi sama Satpol PP.

Tak lagi muda dan segar adalah kesimpulan yang mereka ambil saat menyaksikan penampilan acapella dari grup junior mereka yang diketuai Emily (Hailee Steinfeld). Namun para Bellas merasa perlu memberikan satu penampilan terakhir. Jadi ketika ketua Aubrey (Anna Camp) mencetuskan ide untuk tampil di USO tour — tur yang tujuannya menghibur tentara Amerika yang tersebar di berbagai negara— para Bellas segera mengepak kostum mereka yang menurut saya sudah terlalu kekecilan sekarang.

Namun menjadi penampil tak semudah itu, karena mereka harus bersaing dengan grup lain. Pemenangnya akan mendapat tempat sebagai artis pembuka bagi DJ Khaled (diperankan sendiri oleh DJ Khaled dengan lebay; entah sengaja berakting lebay atau memang aslinya begitu) yang menurut film ini, sepertinya selevel dengan Beyonce. Bagian cerita mengenai kompetisi ini sayangnya hanya ditangani setengah hati, sehingga tersia-siakanlah potensi rivalitas antara para Bellas yang bernyanyi hanya menggunakan mulut melawan tiga band lain yang bernyanyi menggunakan mulut dan alat musik.

Maaf ciwik-ciwik emo, koboi rocker, dan DJ kekinian. Kalian terpaksa menyingkir demi papa Fat Amy (John Lithgow yang beraksen aneh).

Entah bagaimana ceritanya, film lebih tertarik pada subplot mengenai kemunculan papa Fat Amy yang kemudian mengantarkan kita pada sekuens dimana Fat Amy berlarian dan berjumpalitan menghajar penjahat dalam sebuah kapal pesiar sementara para Bellas yang lain menyanyikan lagu “Toxic”-nya Britney Spears untuk mengalihkan perhatian. Aspek musikal ditarik mundur untuk digantikan dengan subplot asmara yang maksa, konflik keluarga yang maksa, dan aksi ala agen-agenan yang maksa. Saya bilang maksa karena semuanya disatukan dengan malas-malasan, alakadarnya.

Apa yang akan kita dapatkan dari film ini, saya tak begitu yakin. Deretan lagu-lagunya tak cukup memadai, apalagi berkesan. Padahal inilah satu-satunya alasan kita menonton filmnya bukan? Terlihat seakan-akan para pembuatnya sudah tak tertarik lagi. Ada satu lagu dimana Beca dkk bernyanyi menggunakan piranti musik kekinian yaitu loop machine, tapi saya rela menukar 10 lagu loop seperti itu dengan satu lagu “Cups” yang luar biasa keci.

Entah bagaimana ceritanya juga, Elizabeth Banks dan John Michael Higgins kembali tampil, bukan sebagai komentator lagi melainkan menjadi pembuat film dokumenter yang berencana meliput kejatuhan para Barden Bellas. Komentar mereka tak lagi berhenti di level “meledek”, tapi lanjut ke level “jorok”. Wilson masih memberikan kegilaan yang akan membuat kita teracuni, tapi para Bellas dan keriangan persahabatan mereka seperti sudah kehilangan energi. Mungkin mereka sudah lelah. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Pitch Perfect 3

93 menit
Remaja - BO
Trish Sie
Kay Cannon, Mike White
Elizabeth Banks, Paul Brooks, Max Handelman
Matthew Clark
Christopher Lennertz

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top