0

Review Film: 'Star Wars: The Last Jedi' (2017)

Setidaknya, 'Star Wars: The Last Jedi' berani mencoba membuka jalan baru bagi generasi baru. This is a NEW new hope.

“It’s time to let old things die.”
— Kylo Ren
Rating UP:
Bisakah sebuah film Star Wars benar-benar menjelajah teritori baru? Maksud saya, tanpa terikat dengan mitologi keluarga Skywalker? Star Wars: The Last Jedi memberikan indikasi. Jika Star Wars: The Force Awakens-nya JJ Abrams dikritik karena begitu melekat dengan nostalgia dari film orisinal Star Wars, maka The Last Jedi menjadi titik penting yang sepertinya akan membawa franchise Perang Bintang ini ke arah yang baru. Film ini berisi banyak ide segar dan kejutan yang dieksekusi dengan cukup memuaskan yang membuat kita ikhlas menobatkannya sebagai film Star Wars paling surprising sejauh ini. Selain Star Wars: The Empire Strikes Back tentu saja.


Bagi sebagian orang, Star Wars dan The Force adalah reliji yang harus dibela mati-matian meski tak perlu sampai demo di Monas. Namun lebih banyak yang menganggap film-filmnya sebagai space-opera seru yang lebih bersandar pada spectacle dan world-building. Star Wars memang punya mitologi yang luas dan kompleks, tapi menurut saya, ia tak pernah menjadi film yang rumit. Itulah yang membuatnya begitu gampang disukai oleh banyak orang dari berbagai generasi. Konfliknya simpel: Light Side versus Dark Side, kebaikan melawan kejahatan, pemberontak melawan tiran. Dan piranti untuk mewadahinya adalah pertujukan visual yang khusus ditujukan untuk membuat kita terpukau dan sumrigah saat menonton.

Jadi merupakan sebuah kesuksesan saat penulis/sutradara Rian Johnson mempersembahkan sebuah film Star Wars yang menghibur dan gampang dicerna padahal ia tak bermain seaman Abrams. Beberapa poin plotnya tak terduga karena Johnson menyiapkan kejutan setelah kejutan. Sebagai film tengah dari sebuah trilogi, The Last Jedi tak terlihat terbebani dengan ekspektasi dari film sebelumnya atau kewajiban menjembatani film berikutnya. Ia mengena bagi fans garis keras dan penonton biasa.

Meski demikian, tohokan emosional dan keseruannya memang tak seperti The Force Awakens. Mungkin ini ada hubungannya dengan durasinya yang terlalu panjang (mencapai 152 menit, terpanjang dari semua film Star Wars), banyak subplot, dan disesaki dengan banyak karakter yang berakhir kurang terekspos. Apalagi pasca trilogi prekuel, level bahaya yang harus dihadapi memang terasa lebih kecil dengan villain yang kurang mengancam.

Namun jika yang ingin dicari adalah pertempuran pesawat ruang angkasa dan pertarungan pedang laser, The Last Jedi menyuguhkan sekuens paling seru dari semua film-film Star Wars. Koreografi silat dan staging tembak-tembakan X-Wing kali ini nampak begitu meyakinkan. Ada begitu banyak momen-momen keren yang akan membuat kita terpesona. Terlebih adegan klimaks yang berlangsung tak kurang dari 30 menitan.

Visualnya mengagumkan. Saya tak menyangka jika skema warna di poster yang didominasi oleh warna merah dan putih akan memainkan peranan besar dalam filmnya. Singgasana Pemimpin Agung Snoke (Andy Serkis dalam CGI) dihiasi dengan warna merah dan juga dikawal oleh stormtroopers berzirah merah. Yang menjadi latar belakang pertempuran final adalah planet yang permukaan tanahnya merupakan mineral berwarna darah.

Aksinya sudah dimulai dari awal, saat Komandan Poe (Oscar Isaac) berjuang untuk menyabotase rencana Jenderal Hux (Domhnall Gleeson) dari First Order yang ingin memberangus semua pesawat Resistance yang tersisa. Namun permainan kucing-kucingan ini semakin sulit. Pemimpin Resistance, Jenderal Leia (mendiang Carrie Fisher) dibuat pusing karena pasukan First Order punya trik untuk melacak keberadaan pesawat mereka, bahkan dalam mode hyperspeed.

Sementara itu, Rey (Daisy Ridley) akhirnya bertemu dengan master Jedi, Luke Skywalker (Mark Hamill) yang diharapkan oleh semua orang untuk menjadi juru selamat tapi malah menyendiri di planet terpencil. Rey juga meminta Luke untuk mengajari cara mengendalikan The Force. Apa tanggapannya terhadap pedang laser dambaan kita semua yang diberikan oleh Rey di akhir The Force Awakens? Responnya kemungkinan besar akan membuat anda ngakak. Kylo Ren (Adam Driver) yang sudah kita ketahui bernama asli Ben Solo, masih galau meski sebelumnya seperti sudah yakin dengan pilihannya menetap di Dark Side.

Banyak yang membandingkan film ini dengan The Empire Strikes Back (kehadiran AT-AT, training Jedi, sampai pertarungan klimaks di planet es), tapi saya lebih suka menyejajarkannya dengan Return of the Jedi. Bukan karena kemiripan judul melainkan karena filmnya yang bukan lagi film Star Wars soal opera luar angkasa dan pembangunan semesta melainkan film Star Wars yang berorientasi karakter. Pilihan yang masuk akal, karena di era sinema jaman now, teknologi membuat kita begitu mudah beradaptasi dengan sense of wonders.

Semua mendapat konflik. Yang terbesar tentu saja Luke yang punya alasan personal kenapa ia mengasingkan diri. Hamill menjadikan karakternya sebagai Luke yang kompleks. Kehadirannya bukan sekedar pemantik nostalgi, tapi memang krusial karena berhubungan dengan situasi saat ini yang melibatkan masa lalunya bersama sang keponakan, Kylo Ren. Sebagaimana konflik intergalaksi, konflik interpersonal pun tak kalah pelik. Film ini juga soal transformasi Rey dan Ren. Keduanya adalah pemilik The Force yang masih belum matang dan belum mengerti akan kekuatannya. Saya tak akan bicara lebih lanjut selain bilang bahwa ada semacam koneksi nantinya antara karakter Ridley dan dan Driver yang menegaskan bahwa kegalauan tak sesederhana memilih sisi terang atau sisi gelap. Ada kemungkinan seseorang dari Dark Side bisa dibuat insyaf atau bagaimana godaan dari Dark Side tak semudah itu ditolak. Tak ada film Star Wars dengan konflik batin semenarik ini sejak Revenge of the Sith.

Akan tetapi, apa saya peduli-peduli amat sama yang lain di luar trinitas Rey-Ren-Luke? Petualangan Finn (John Boyega) bersama seorang mekanik Resistance, Rose (Kelly Marie Tran) untuk mencari seorang pemecah kode ke sebuah planet kasino, seperti terasa berasal dari film yang berbeda. Johnson menghandel banyak karakter di saat bersamaan dengan emotional stake yang berbeda-beda pula, sehingga mau tak mau harus ada yang menjadi korban. Bagian tengah film terkesan dipanjang-panjangkan. Jujur saja, saya agak limbung di pertengahan film. Saya pikir film ini akan menjadi istimewa jika durasinya lebih singkat.

Amunisi utama Johnson adalah keberhasilannya mempermainkan ekspektasi. Tak perlu repot-repot menebak plot twist. Saat kita pikir kita tahu kemana filmnya berlayar, Johnson membalik kapalnya. Ia memakai elemen familiar tapi juga mengutak-atiknya menjadi sesuatu yang segar (siapa sangka pedang laser dan hyperspeed bisa dipakai seperti itu?). Kreator Star Wars, George Lucas pernah berujar bahwa tak ada lagi yang bisa diceritakan pasca Return of the Jedi. Setidaknya, The Last Jedi berani mencoba membuka jalan baru bagi generasi baru. This is a NEW new hope. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Star Wars: The Last Jedi

152 menit
Remaja
Rian Johnson
Rian Johnson
Kathleen Kennedy, Ram Bergman
Steve Yedlin
John Williams

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top