0

Review Film: 'Three Billboards Outside Ebbing, Missouri' (2017)

Tiga papan reklame adalah piranti plot yang ganjil, tapi secara mengejutkan begitu efektif menggerakkan filmnya yang lucu dan tajam.

“This didn't put an end to s**t, you f***ing retard; this is just the f***ing start.”
— Mildred Hayes
Rating UP:
“Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”. Saya kira judulnya yang aneh cuma kiasan. Ternyata film ini memang mengenai tiga papan reklame di pinggir kota Ebbing, Missouri dan bagaimana ia memicu peristiwa yang mempengaruhi kehidupan orang-orang di sekitarnya. Ini adalah piranti plot yang ganjil, tapi secara mengejutkan begitu efektif menggerakkan filmnya yang lucu dan tajam.


Ketika saya bilang “lucu”, bukan berarti lucu dalam konteks komedi. Pembuat filmnya adalah Martin McDonagh yang tahu cara menemukan humor di dalam tragedi sebagaimana di film In Bruges dan Seven Psychopaths. Pun sudah mengetahui hal tersebut, saya masih tak menduga kalau Three Billboards Outside Ebbing, Missouri akan sehumoris ini. Film ini punya karakter yang serius dengan konflik yang serius pula, berbeda dengan dua filmnya tadi yang karakternya gampang dibuat komikal. Namun disitulah jeniusnya McDonagh. Di film ini, ada orang yang mati, ada orang yang sedih, ada orang yang merah, dan ia masih bisa membuat kita tertawa getir tanpa sekalipun mendegradasi tragedi.

Adegan pembukanya brilian dalam hal penulisan. Seorang wanita menyewa tiga papan reklame di daerah yang sepi. Keesokan harinya di pagi buta, seorang polisi yang sedang menyetir terkaget melihat reklame yang bertuliskan, “Kok bisa, Pak Polisi Willoughby?”. Dua reklame lagi bertuliskan “Diperkosa Saat Sekarat” dan “Belum Ada yang Ditahan?”. McDonagh menyajikannya dengan timing, sentuhan humor, dan pilihan kata sedemikian rupa plus didukung dengan penyampaian cemerlang dari Sam Rockwell, sehingga membuatnya sangat berkesan dan dengan cerdik mengeset tone filmnya ke belakang.

Wanita tadi adalah Mildred Hayes (Frances McDormand), seorang single mother yang begitu marah kepada pihak kepolisian. Saya bilang “begitu marah”, karena rasanya belum ada yang sampai rela merogoh kocek hingga $5000 per bulan hanya untuk menyewa papan reklame di lokasi yang jarang dilewati orang. Perkaranya adalah kasus mengenai almarhumah anak gadisnya, yang diperkosa lalu dibunuh, yang tak kunjung jua selesai, padahal sudah lebih dari 6 bulan terjadi.

Apa benar ini salah Pak Willoughby (Woody Harrelson)? Kayanya sih bukan. Soalnya, walaupun suka berkata kasar, sherif Willoughby adalah polisi yang berdedikasi di kantor dan ayah yang baik di rumah. Ia juga disukai warga, sehingga otomatis reklame tadi membuat Mildred menjadi musuh publik. Disalahkan tapi tak bersalah, tentu saja Willoughby tak suka dengan cara Mildred. Namun ia juga mengerti bahwa ini adalah jalan pelampiasan bagi Mildred.

Tidak demikian halnya dengan bawahan Willoughby, Mas Dixon (Rockwell). Masih tinggal sama mamanya, Dixon pada dasarnya adalah berandal rasis yang gampang naik darah dan suka nyelutuk tak sopan di banyak kesempatan. Yaah, tipikal oknum yang doyan mencoreng nama baik instansinya lah. Ia lebih dari sekedar gerah atas tindakan lancang Mildred.

Sebenarnya siapa pelakunya? Hmm, film ini tak terlalu menganggapnya penting. Tragedi tersebut hanyalah pencetus munculnya papan reklame yang sendirinya memantik tindakan dari 3 karakter kita (jumlah ini sama dengan jumlah reklame papan reklame; kebetulan?) yang bakal mempengaruhi dinamika warga Ebbing. Benar sekali. Film ini bukan film detektif prosedural walau di beberapa kesempatan menyentil itu. Ia adalah eksplorasi tentang manusia bersikap, khususnya yang memilih amarah sebagai pendekatan pemecahan konflik.

Hampir semua karakter yang kita temui dalam film ini marah, termasuk karakter pendukung yang diperankan oleh Lucas Hedges, Peter Dinklage, Caleb Landry Jones, John Hawkes, dan Abbie Cornish. Rasanya hanya Willoughby-nya Harrelson yang tahu bahwa amarah takkan menyelesaikan apapun. McDonagh melakukan hal yang menarik dengan karakternya; mereka selalu berkembang. Plotnya digerakkan oleh spontanitas karakter. Ini membuat ceritanya tak bisa diterka karena kita tak tahu apa yang akan dilakukan oleh karakternya. Film tak memberikan garis moral. Tak ada yang benar-benar baik disini. Bahkan Mildred di satu titik sempat bertindak melewati batas, yang boleh dikategorikan sebagai aksi terorisme.

McDormand memberikan penampilan yang sangat kuat sebagai Mildred. Bahkan tatapannya saja menakutkan. Tak pernah senyum dan suka menyumpah serapah, Mildred adalah wanita yang tanpa kompromi dan tak takut kepada siapapun. Kita bisa merasakan bahwa kematian sang putri benar-benar menghancurkannya, makanya ia bersikap nothing to lose. Karakter Dixon-nya Rockwell juga begitu, tapi lebih karena ia merasa tak ada yang bisa menyentuhnya. Well, tidak juga. Ia mendapat peran yang lebih dalam daripada yang awalnya kita kira, liar tapi juga empatik, dan Rockwell membawakannya dengan effortless.

Lewat film ini, McDonagh menciptakan karakter yang kompleks. Di dunia nyata memang tak ada yang benar-benar hitam atau putih. Jangan bilang anda tak pernah marah pada dunia. Resolusi filmnya juga bukan jawaban gampangan. Seolah-olah ia bermaksud menantang kita. Menantang kita untuk merenung. Menantang kita untuk tertawa pahit. Tiga papan reklame punya dampak sebesar itu. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

115 menit
Dewasa
Martin McDonagh
Martin McDonagh
Graham Broadbent, Pete Czernin, Martin McDonagh
Ben Davis
Carter Burwell

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top