0

Review Film: 'Den of Thieves' (2018)

Ternyata filmnya tak bagus-bagus amat, tapi tetap membuat saya lumayan terkejut karena ia lebih baik dari yang saya kira.

“You're not the bad guy. We are.”
— Nick O'Brien
Rating UP:
Den of Thieves dibuka dengan statistik yang mencengangkan: di Los Angeles, perampokan bank terjadi setiap 48 menit. Artinya, belumlah selesai satu episode Rumah Uya, satu bank sudah dirampok di Los Angeles. Ini membuat kota tersebut dijuluki “pusat perampokan bank di seluruh dunia”. Kita kemudian diajak untuk melihat satu sekuens perampokan yang digarap dengan begitu bagus, saya sampai tak menyadari bahwa yang dirampok bukanlah bank, melainkan truk yang sedang nangkring di warung donat. Nah lho. Kira-kira berapa angka perampokan warung donat setiap satu episode Rumah Uya?


Menyaksikan sekuens ini, saya mengira bahwa saya akan menyaksikan sebuah film heist-thriller yang akan mengejutkan saya karena saya tak menyangka akan menonton film yang bagus. Tembak-tembakannya meyakinkan, kamera bergerak dengan enerjik, diiringi musik latar synthesizer yang didesain untuk membuat kita berdebar-debar. Ternyata filmnya tak bagus-bagus amat, tapi tetap membuat saya lumayan terkejut karena ia lebih baik dari yang saya kira. Plot twist-nya boleh juga.

Dari teknik mereka merampok, jelas para kriminal bertopeng ini merupakan profesional yang kemungkinan besar pernah terlibat dalam operasi militer. Pemimpinnya adalah Merrimen (Pablo Screiber), eks marinir yang banting setir menjadi perampok. Para kru diantaranya Bosco (Evan Jones), Levi (50 Cent), dan Donnie (O’Shea Jackson Jr.). Banyak korban berjatuhan, tapi yang mereka dapatkan hanyalah truk kosong milik bank.

“Kita berhadapan sama ‘hewan’ yang tak biasa, bro,” ujar Nick (Gerard Butler) kepada rekan-rekannya, anggota kepolisian Los Angeles, sembari mengunyah donat yang dipungutnya dari TKP. Iya, yang tergeletak di parkiran. Unit yang dipimpin Nick adalah unit khusus yang krunya sepertinya dipersyaratkan punya tato, bertingkah slenge’an, dan berani menghajar calon tersangka. Tanpa pengawasan pula. Mereka adalah preman berseragam, meski lebih sering tak berseragam saat bertugas. Uhm, anda tahu maksud saya.

Jeniusnya, dari kondisi TKP, Nick bisa langsung menyimpulkan bahwa pelakunya adalah kru Merrimen. Yang patut diketahui adalah Nick kenal dengan Merrimen dan Merrimen kenal dengan Nick. Mereka agaknya merupakan rival di masa lalu, dan karena profesi yang saling bertolak belakang, jadi musuhan di masa sekarang. Nick tahu apa yang sudah dilakukan Merrimen, tapi tak bisa menangkapnya karena sadar bahwa ia tak punya bukti kuat.

Atau begitulah alasan agar filmnya bisa dilama-lamakan menjadi hampir dua setengah jam. Dua-setengah-jam. Film rampok-rampokan mana pula yang sepanjang itu kalau bukan film Michael Mann? Khususnya yang berjudul Heat? Namun film ini bukan buatan Mann, melainkan sutradara debutan Christian Gudegast. Meski demikian, Gudegast jelas mengacu kepada Heat, bukan sekedar gaya sinematisnya, bahkan hingga garis besar plot dan dinamika karakter.

Butler dan Schreiber dibuat mirip dengan Al Pacino dan Robert De Niro-nya Heat, yang di permukaan memang musuhan, tapi sebenarnya intim. Bedanya, Nick dan Merrimen ini merasa lebih macho dan bersaing untuk memparadekan kemachoan mereka. Ada adegan yang menarik di pertengahan film; Nick dan Merrimen saling unjuk kebolehan mereka di arena tembak. Tanpa berkata-kata, Nick kemudian sepertinya terkagum dengan akurasi Merrimen. Jangan pikirkan soal plausibilitas adegan, karena nanti kita akan disuguhkan dengan Nick yang terbangun di hadapan Merrimen setelah malamnya “main” dengan seorang pekerja seks komersil.

Namun ini tidak berhasil karena tak punya kedalaman. Keduanya adalah karakter satu dimensi. Adegan puncak, dimana keduanya harus tembak-tembakan secara personal, terkesan canggung. Dramanya simply tidak bekerja. Usaha untuk menjadikan mereka personal, seperti Nick yang diceritakan dalam proses cerai dengan sang istri, terasa tidak pada tempatnya karena tak nyambung dengan bagian rampok-rampokan panjang yang menyusul setelahnya.

Rampok-rampokannya menjadi tidak simpel karena melibatkan main kucing-kucingan. Nick menyekap Donnie yang merupakan sopirnya Merrimen, lalu menginterogasinya. Tak banyak yang bisa ia dapatkan, jadi Nick melepaskan Donnie untuk menjadi informan, selagi menunggu pergerakan selanjutnya dari Merrimen. Rencana besar Merrimen adalah merampok bank Federal Reserve. Merampok bank biasa berisiko karena setiap uang punya nomor seri yang bisa dilacak. Nah, merampok bank Federal Reserve lebih aman, karena di setiap periode tertentu, bank ini akan menghapus nomor seri sebelum uang yang cacat dimusnahkan. Target mereka adalah mengambil uang tersebut tepat setelah nomor serinya dihapus tapi sebelum dimusnahkan. Bro, rencana mereka sungguh matang.

Kendati ini adalah pertama kalinya bagi Gudegast mengontrol langsung di belakang kamera, ia percaya diri ketika menggarap adegan aksi. Sekuens aksinya menegangkan, enerjik, dan berisik. Ia tahu cara menggerakkan dan menempatkan kamera terutama saat adegan puncak yang melibatkan tembak-tembakan di jalan raya yang macet.

Saya pikir film ini berisi terlalu banyak hal. Durasi 140 menitan jelas kepanjangan dan filmnya terseok gara-gara bagian pertengahan yang draggy. Den of Thieves agaknya bisa menjadi film yang lebih mencekat seandainya dibuat lebih padat. Namun, film ini membuat saya setuju dengan pernyataan bahwa tak ada film yang buruk saat film itu bisa membuat Gerard Butler terlihat bermain baik. Ia lumayan bagus disini, sebagian besar karena ia tak perlu menampilkan sesuatu kecuali kemachoan. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Den of Thieves

140 menit
Dewasa
Christian Gudegast
Christian Gudegast
Gerard Butler, Mark Canton, Christian Gudegast, Ryan Kavanaugh, Tucker Tooley
Terry Stacey
Cliff Martinez

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top