0

Review Film: 'The Disaster Artist' (2017)

Saya kira 'The Disaster Artist' berhutang banyak kepada 'The Room' dan Tommy Wiseau. Film ini takkan menjadi lucu kalau sumbernya tak lebih lucu.

“No, no! Very necessary. I need to show my ass to sell this picture.”
— Tommy Wiseau
Rating UP:
Saya percaya bahwa untuk menghasilkan sebuah karya yang bagus perlu 3 elemen: sumber daya, passion, dan talenta. Sebagaimana Segitiga Api, ia takkan berhasil saat ada satu saja elemen yang kurang. Film The Room yang ditulis, disutradarai, dan dibintangi Tommy Wiseau adalah apa yang terjadi saat ia tak punya elemen terakhir. Saya bukan melebih-lebihkan, karena kenyataannya memang begitu. The Room didaulat sebagai salah satu film terburuk sepanjang masa. Saking melegendanya, sampai saat ini penayangan filmnya masih secara rutin digelar oleh para fans, seringkali dihadiri langsung oleh Wiseau.


Soal prediket “terburuk”, sebuah film takkan menjadi legenda kalau sekedar buruk saja. Ada yang namanya film buruk pemancing migrain dan ada pula film yang begitu buruk sampai menontonnya jadi menghibur. Saya yakin orang-orang terus membicarakannya bahkan setelah 15 tahun, bukan karena inkompetensi Wiseau belaka melainkan karena bagaimana sikapnya yang begitu passionate terhadap filmnya. Wiseau percaya bahwa ia membuat film terbaik. Energi itu menular, mz.

Cukup soal The Room; ini kan ulasan The Disaster Artist. The Disaster Artist adalah pendekatan komedi yang menceritakan mengenai bagaimana The Room bisa eksis. Filmnya berjalan di garis tipis antara olok-olok dan apresiasi. Bagaimana lagi coba cara membuat film tentang hal tersebut kalau bukan lewat komedi. Bahkan film yang serius pun pasti jadi kocak saat kita melihat kekacauan di belakang layar yang terjadi selama syuting The Room dan absurditas kepribadian Wiseau.

Ketika tampil untuk menunjukkan kemampuan aktingnya di depan kelas teater, Tommy (James Franco) dengan antusias berteriak "STELLA! STELLA! AAKK!" seolah sedang kesurupan. Tak ada manusia normal yang menganggap ini sebagai akting sungguhan. Namun Greg Sestero (Dave Franco, adiknya James) teracuni oleh semangat Tommy, sebab ia sendiri tak punya kepedean sebesar itu. Bahkan di restoran, Tommy tak malu-malu menantang Greg untuk membawakan dialog drama selantang mungkin seolah sedang menjadi orator demo 212.

Berbagi mimpi yang sama untuk menjadi bintang Hollywood seperti James Dean, keduanya berangkat menuju kota Los Angeles. Bermodal wajah ganteng, Greg berhasil mendapatkan agen meski tak demikian dengan kerjaan. Plus, Greg dapat pacar namanya Amber (Alison Brie). Lain cerita dengan Tommy yang bernasib naas. Ia ditolak mentah-mentah saat mendekati seorang produser.

Kalau memang Hollywood tak siap menerima kita, bagaimana kalau kita membuat film sendiri? Kira-kira begitulah usul Greg. Nah, yang menarik adalah Tommy punya sumber daya. Uangnya begitu berlimpah, sampai ia mau saja membeli kamera alih-alih menyewanya sebagaimana kebanyakan sutradara, membangun set sendiri alih-alih memakai properti di dunia nyata, dan merekrut siapapun yang mau bergabung dengan proyeknya, skrip yang kemudian kita kenal dengan nama "The Room" yang diklaim Tommy sebagai drama terdahsyat sekaliber karya Tenessee Williams.

Tommy adalah figur misterius dan film ini tak mencoba untuk memecahkannya. Di akhir film, kita masih takkan tahu dari mana sumber kekayaannya, dimana kampung halamannya (Tommy bilang New Orleans tapi logatnya mengisyaratkan bahwa ia mungkin saja berasal dari kastil drakula), atau berapa usia sebenarnya (ia mengaku 20 tahunan tapi wajahnya tak bilang begitu). Film, yang ditulis oleh Scott Neustadter & Michael H. Weber langsung dari memoir Greg Sestero, tetap memperlakukannya sebagai enigma, sebagaimana kebanyakan penggemar melihat Wiseau asli.

Film ini mengambil pendekatan yang simpel, lebih berfokus pada peristiwa yang terjadi di balik produksi The Room. Bagian yang lebih menyasar insight mengenai Wiseau disederhanakan dengan konflik bagaimana Greg tetap mendukung Tommy padahal ia sadar bahwa Tommy jelas tak tahu apa yang sedang dilakukannya atau bagaimana Tommy yang selalu ngedumel setiap kali Greg bawa-bawa pacar. Tak ada yang mengerti Tommy, bahkan Greg sekalipun.

Film ini disutradarai oleh James Franco, tapi jelas ia lebih mantap sebagai aktor daripada sebagai sutradara disini. Dengan rambut panjang dan bantuan make-up, Franco benar-benar terlihat dan terdengar seperti Wiseau, termasuk logat ganjil dan tawa anehnya. Kita bisa merasakan seberapa telaten Franco mempelajari karakter aslinya. Namun ia tak sekedar melakukan olok-olok, melainkan juga menangkap semangat dan kerentanannya. Muka lempeng dan tatapan nanar Tommy memang minta dikasihani.

Proses produksi The Room ternyata memang kacau sekali dan inilah bagian dimana The Disaster Artist benar-benar lucu. Kegilaan di lokasi syuting tentu saja bersumber dari Tommy, sementara para kru, yang diantaranya diperankan Seth Rogen, Jacki Weaver, Josh Hutcherson, Zac Efron, dkk, sedari awal menyadari bahwa situasi akan semakin memburuk. Franco membuat reka ulang sekaligus memberi latar belakang yang tak banyak orang tahu soal beberapa adegan kunci dari The Room (yaa, misalnya kenapa Tommy memegang botol air mineral pas adegan "Oh, hi Mark"). Untuk memamerkan seberapa detail hasil kerjanya, di akhir film Franco memasukkan reka ulang adegan ikonik yang diletakkan bersebelahan dengan adegan aslinya.

Saya kira The Disaster Artist berhutang banyak kepada The Room dan Wiseau. Film ini takkan menjadi lucu kalau sumbernya tak lebih lucu. Menonton The Room akan membuat anda mengapresiasi The Disaster Artist, begitu pula sebaliknya. Tapi saya tak bisa bilang bahwa film ini adalah tribut buat Wiseau dan The Room. Film ditutup dengan ending yang memposisikan sang kreator dan kreasinya sebagai obyek yang yang membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Apa yang mereka tertawakan? Kekonyolan filmnya atau kekonyolan orang yang begitu passionate menciptakan sesuatu meski tanpa talenta? ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

The Disaster Artist

103 menit
Dewasa
James Franco
Scott Neustadter, Michael H. Weber (screenplay), Greg Sestero,Tom Bissell (buku)
James Franco, Vince Jolivette, Seth Rogen, Evan Goldberg, James Weaver
Brandon Trost
Dave Porter

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top