0

Review Film: 'I, Tonya' (2017)

Film ini tak hanya membuat kita mengenal Tonya Harding tapi juga memanusiakannya.

“Everyone has their own truth. And life just does whatever the f*** it wants.”
— Tonya Harding
Rating UP:
Ada dua alasan bagus kenapa kita mungkin tak mengenalnya: (1) kasusnya relatif di-blowup hanya oleh media Amerika, dan (2) figure skating bukanlah cabang olahraga yang sepopuler itu di Indonesia, jauh berada di bawah bermain layangan. Akan tetapi, di jamannya Tonya Harding adalah atlet figure skating yang sangat terkenal karena nama buruknya. Pada tahun 1994, ia bersama mantan suaminya, Jeff Gillooly diduga terlibat dalam insiden pemukulan saat latihan Olimpiade Musim Dingin yang mencederai kaki sesama atlet figure skating, Nancy Kerrigan.


Oleh karenanya, Harding dicap sebagai salah satu orang paling dibenci di Amerika. Bahkan setelah karirnya hancur, ia masih menjadi bulan-bulanan media. Ini adalah cerita yang menyedihkan. Namun I, Tonya bukan kisah sedih; alih-alih racikan pas antara absurditas, tragedi, dan ironi. Ia menjadi menyedihkan hanya karena kita bersimpati terhadap Harding. Film ini tak hanya membuat kita mengenal Harding tapi juga memanusiakannya.

Dan kunci yang membuatnya sukses adalah penampilan Margot Robbie sebagai Tonya Harding. Robbie bukan lagi si istri seksi yang pernah kita temui dalam The Wolf of Wall Street. Ketika melihatnya, kita menyaksikan karakter yang berbeda dan terealisasi seutuhnya. Robbie membuat karakternya inspiratif padahal bisa saja terpeleset menjadi pribadi pemancing rasa kasihan.

Tentu saja, Tonya memang patut dikasihani. Ia adalah produk dari kekerasan dalam rumah tangga dan hubungan beracun. Semasa kecil, ia sering dipukul oleh si ibu abusif, LaVona Golden (Allison Janney) yang memaksanya menganggap bahwa semua rekan sesama skater adalah musuh. Tonya kemudian berkenalan dengan Jeff (Sebastian Stan) yang manis dan baik... di awal, sebelum mereka saling berteriak atau menghantamkan kepala ke kaca atau memukul atau menodongkan senapan. Masalahnya adalah Tonya merasa bahwa ia pantas menerima hal tersebut. Ia menikahi Jeff, bertengkar, meninggalkannya, dan besoknya kembali lagi.

Anehnya, amarah tersebut menjadi bahan bakar baginya untuk tampil gemilang di rink es. Ia menjadi wanita Amerika pertama yang berhasil melakukan “triple axel”, salah satu manuver tersulit dalam figure skating. Tonya merupakan figur yang sebenarnya tak begitu identik dengan citra figure skating yang indah dan cantik. Ia meledak-ledak, tak anggun, dan bermulut kasar, tapi tak bisa didepak begitu saja dari dunia figure skating berkat tekad dan kapabilitasnya yang luar biasa. Mengagumkan bagaimana ia bisa menemukan waktu untuk berlatih dan ikut kompetisi, sementara harus bekerja paruh waktu, berantem dengan Jeff, dan menjahit kostumnya sendiri.

Penampilan Robbie sebagai Tonya Harding bukan sekedar transformasi fisik; faktanya, Robbie tak terlalu mirip dengan Tonya asli. Ia tak melakukan impersonasi, tapi membawakan sisi terdalam dari Tonya sehingga menjadikannya karakter tiga dimensi. Ceritanya, penampilannya terasa riil. Sepanjang penglihatan saya, Robbie sebagian besar melakukan adegan skating-nya sendiri (oke, mungkin tidak dengan “triple axel”). Adegannya disorot dengan anggun, menangkap keindahan dan keseruan dari olahraga figure skating. Kameranya seolah tak bisa diam, bahkan ketika di luar rink.

Film ini disutradarai oleh Craig Gillespie, yang bersama penulis skrip Steven Rogers, mengemas filmnya dalam kerangka ala-ala dokumenter dimana film dimulai dengan para tokoh yang diwawancarai dua dekade kemudian. Tak hanya dari Tonya, Jeff, dan Lavona, tapi pelatih Diane Rawlinson (Julianne Nicholson), tukang pukul Shawn Eckhardt (Paul Walter Hauser), sampai reporter tabloid “Hard Copy" (Bobby Cannavale) yang menjadikan kisah Tonya sebagai sensasi nasional, juga mendapat kesempatan untuk angkat bicara.

Gillespie menggarap filmnya dengan cara yang seru, seperti menggunakan freeze frames untuk menginterupsi narasi, karakter yang bicara langsung dengan penonton lewat breaking the fourth wall, atau memakai trek lagu yang asyik untuk menegaskan momen. Ketika disatukan, kita mendapatkan “fakta” yang ambigu karena naratornya tak bisa dipercaya. Mereka saling menafikan cerita tokoh lain. Dan saya pikir bagus juga ketika filmnya tak berusaha menjejalkan kebenarannya kepada kita. Setiap orang punya versi cerita masing-masing terhadap suatu peristiwa.

Baik Tonya maupun Jeff mengaku tak terlibat dalam pemukulan Nancy Kerrigan, meski pada dasarnya mereka memang punya hubungan dengan insiden tersebut. Insidennya sendiri bisa dibilang disebabkan gara-gara inkompetensi, tak begitu berbeda dengan yang dilakukan duo kriminal Fargo. Cerita yang dibuat oleh bodyguard Tonya, Shawn yang tinggal di rumah mama tapi katanya pernah menempuh pelatihan antiteroris internasional, begitu konyol, kita sampai tak percaya bahwa ia adalah tokoh yang benar-benar ada.

Sindiran terhadap Amerika dan publik yang menjadikan Tonya bahan tertawaan, menurut hemat saya, tak setajam itu. Yang benar-benar mengena bagi saya adalah bagaimana filmnya dengan asyik dan ringan membuat Tonya Harding menjadi karakter yang rumit tapi tetap bisa kita empatikan. Ia adalah korban, tapi juga pernah melakukan hal yang buruk. Bisa jadi, lain ceritanya kalau saja Tonya tak dikelilingi oleh orang-orang abusif. Namun boleh jadi pula, ia takkan meraih prediketnya sebagai mantan atlet figure skating terbaik kalau tak didorong sekeras itu oleh ibunya. Robbie membuat kita berada di pihak Tonya. Kita masih tak mengerti akan dirinya, tapi sekarang kita mungkin mulai menyukainya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

I, Tonya

121 menit
Dewasa
Craig Gillespie
Steven Rogers
Tom Ackerley, Margot Robbie, Steven Rogers, Bryan Unkeless
Nicolas Karakatsanis
Peter Nashel

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top