0

Review Film: 'Insidious: The Last Key' (2018)

Pembuat filmnya tahu kita akan melupakan film ini, jadi mereka menyediakan kode pengingat.

“I'm going to get the attention of all the spirits in this house.”
— Elise Rainier
Rating UP:
Saya tak tahu yang mana duluan: judul filmnya atau spesies hantunya. Namun Insidious: The Last Key memancing saya untuk curiga bahwa judul tersebut adalah trik dari pembuat filmnya buat jaga-jaga, memastikan agar kita tidak lupa. Ketika nanti membicarakan filmnya, penonton otomatis akan mengacu pada “itu lhoo, yang ada Hantu Kunci-nya”. Gampang diingat kan? “Last (((Key)))” — Hantu (((Kunci))). Mereka tahu kita akan melupakan film ini, jadi mereka menyediakan kode pengingat.


Bicara soal Hantu Kunci, seolah-olah namanya belum cukup konyol, penampakannya juga tak kalah menggelikan. Hantu Kunci punya jemari yang berbentuk kunci. Fungsi kunci tersebut adalah untuk membuka puluhan jeruji besi di “The Further”, semesta paralel astral yang di Indonesia ekuivalen dengan istilah “Alam Gaib”. Namun kuncinya juga bisa dipakai untuk meneror. Jadi kunci itu akan dimasukkan ke leher atau dada manusia (jangan bertanya), cetekk!, lalu, uhm gimana yaa ngomongnya, akan terjadi sesuatu. Seperti itu. Kayanya sih.

Sama seperti franchise-nya yang tak kunjung mati, demikian pula dengan Elise Rainier (Lin Shaye), paranormal spesialis Insidious yang sudah tewas di film pertama. Penulis skrip Leigh Whannell pasti menyesal melakukan hal tersebut karena Elise menjadi apa yang penonton suka dari Insidious. Whannell membangkitkannya kembali di film ketiga yang menceritakan kasus lama Elise. The Last Key melengkapi dengan menggali origin story Elise sekaligus mengantarkan kita bertemu pada keluarga Dalton di film pertama. Singkat kata: film ini adalah sekuel dari film prekuel sekaligus prekuel dari film pertamanya.

Film dibuka pada tahun 1950an, ketika Elise kecil (Ava Kolker) tinggal di rumah yang berada tepat di sebelah komplek lembaga pemasyarakatan dan, tentu saja, berhantu. Elise melihatnya sendiri. Adiknya, Christian (Pierce Pope) terang saja takut melihat kakaknya yang menggumamkan hal-hal mistis. Ibunya (Tessa Ferrer) menganggap Elise istimewa dan ini adalah bakatnya. Sayangnya sang ayah (Josh Stewart) tak percaya pada hal-hal seperti ini. Ketika Elise bilang melihat ia melihat hantu, ayah akan langsung memukul Elise sejadi-jadinya dan mengurungnya di basement.

Disinilah terjadi hal yang tak diinginkan, dimana Elise tak sengaja membuka pintu merah yang misterius.

Singkat cerita, Elise kabur dari rumah. Bukan karena melihat setan yang superseram, melainkan karena tak tahan dengan perlakuan abusif ayahnya. Kita kemudian kembali ke tahun 2010, saat Elise (Shaye) sudah menjadi paranormal sukses. Suatu hari, ia mendapat permintaan untuk mengusir setan dari sebuah rumah. Dan rumah tersebut ternyata adalah rumahnya saat kecil dulu!

Tentu saja, Elise akan didampingi oleh dua asistennya, Specs (Whannell) dan Tucker (Angus Sampson) yang kompetensinya soal hal paranormal setara dengan kru Mistery Machine-nya Scooby-Doo. Horornya adalah kedua orang ini akan melontarkan banyak lelucon aneh yang saking garingnya, saya berharap ada penonton yang memainkan suara jangkrik setiap kali mereka mencoba ngelawak.

Ketika sesuatu yang supranatural terjadi, kita tak perlu bingung walau sedang Instagram-an di bioskop. Karakter kita akan menjelaskannya dengan cara ngomong sama diri sendiri atau orang lain, padahal mereka sudah tahu. Seolah-olah Whannell, yang masih setia menulis skrip, khawatir kita tak mengerti apa yang sedang terjadi di layar. Mendengar mereka melakukan ini dengan sangat sering sekali jelas membuat saya gerah.

Sutradara Adam Robitel sepertinya terjegal di rating “PG-13/13+” yang berarti harus lebih ramah daripada The Conjuring yang berating “R/Dewasa”. Namun ia juga keliru. Melama-lamakan adegan bukan berarti membangun suspens, itu namanya bertele-tele. Meski begitu, ada satu adegan horor yang cukup cerdik, yaitu saat Elise masuk gorong-gorong untuk membuka koper-koper misterius. Kita tahu kita akan diberi jump-scare, tapi tidak lewat cara yang kita duga.

Kalau mau jujur, ada juga sih bagian yang menarik. Plotnya sendiri sebenarnya lumayan segar. Ia menyentuh tragedi keluarga. Lagipula, sebagai orang yang biasa-biasa saja, saya masih bingung bagaimana mekanisme paranormal melihat hantu. Kapan mereka yakin kalau yang mereka lihat adalah hantu? Yang tampangnya awut-awutan tak selalu hantu kan? Film ini menggunakannya dengan cerdik untuk sebuah twist, meski kalau dipikir-pikir, secara motivasi karakter, ini tak nyambung dengan peristiwa di awal film.

“The Further” adalah salah satu kreasi film horor yang menarik. Dalam The Last Key, dengan semakin berjalannya cerita, mitologi soal “The Further” makin membingungkan. Saya kira wajar bila sebagian penonton siap melambaikan tangan, menyerah mencerna plot. Film ini berisi banyak potongan yang tak jelas bagaimana hubungannya dengan bagian lain. Tahu-tahu di akhir film kita sudah ada di “The Further”. Saya tak bisa memastikan bahwa ini adalah film Insidious terburuk, tapi saya bisa bilang bahwa ini adalah film Insidious paling tak seru yang saya tonton. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Insidious: The Last Key

103 menit
Remaja
Adam Robitel
Leigh Whannell
Jason Blum, Oren Peli, James Wan
Toby Oliver
Joseph Bishara

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top