0

Review Film: 'Lady Bird' (2017)

'Lady Bird' tajam tapi juga tulus. Yang lebih penting, filmnya terasa riil.

“I found when it happened that I really like dry humping more.”
— Christine “Lady Bird” McPherson
Rating UP:
Bersama dengan The Edge of Seventeen, Lady Bird adalah film yang sangat cocok dijadikan materi nasihat bagi remaja kekinian, khususnya remaja putri. Filmnya juga sama-sama menyuguhkan gambaran aktual mengenai remaja dan tahu bagaimana cara remaja berbicara dan bersikap. Saya yakin jika setting filmnya adalah jaman sekarang, pasti ada adegan yang melibatkan Instagram atau komplain “iih, kok gendutan yaa” saat melihat foto selfie.


Relatif tak ada materi yang orisinal mengingat sudah banyaknya film coming-of age remaja seperti ini, tapi Lady Bird membuktikan bahwa premis yang klise pun bisa terasa segar saat ia mengambil pendekatan yang segar pula. Ia tajam tapi juga tulus. Yang lebih penting, filmnya terasa riil.

Pembuatnya adalah Greta Gerwig, aktris yang baru saja memulai debut solonya sebagai sutradara lewat film yang asyik ini. Kabarnya, cerita ini terinspirasi dari pengalaman pribadinya semasa remaja. Namun ia tak tampil disini; posisinya diambil alih oleh Saoirse Ronan sebagai karakter utama bernama Christine “Lady Bird” McPherson. “Lady Bird” adalah nama panggilannya. Nama pemberian. Yang diberikan oleh dirinya sendiri. Ia memaksa semua orang memanggilnya dengan panggilan tersebut, termasuk keluarganya yang tentu saja ogah-ogahan.

Sikap pemberontak ini juga tercermin dari rambutnya yang dicat merah padahal sekolahnya adalah sekolah Katolik atau sikapnya yang berteriak hampir sepanjang waktu kepada ibunya (Laurie Metcalf). Sebagaimana kebanyakan remaja, ia merasa kehidupan sesungguhnya ada di luar sana dan secepatnya ingin segera pergi sejauh mungkin dari kampung halaman. Nama “Lady Bird” adalah salah satu cara Christine untuk menciptakan identitas sendiri, terlepas dari keluarganya. Inilah problematika sekaligus anugerah terbesar dari seorang remaja; mereka yakin mereka punya takdir yang luar biasa di luar sana.

Walau sejujurnya, Lady Bird adalah remaja yang B aja sih. Ia memang cukup cerdik tapi nilai-nilainya tak begitu bagus. Ia tak punya bakat yang mencolok. Ia bukan anak cupu tapi juga bukan anak gaul. Pokoknya, cewek yang biasa-biasa saja. Dan menjadi biasa-biasa saja adalah sebuah masalah bagi remaja. Jadi ia berusaha caper. Mulai dari berbuat jahil di sekolah, meninggalkan sobat karibnya Julie (Beanie Feldstein) demi bergaul dengan cewek hits Jenna (Odeya Rush), atau pacaran dengan remaja emo Kyle (Timothee Chalamet). Ada pula konflik asmara menarik yang melibatkan teman satu teater yang kemudian menjadi pacar pertamanya, Danny (Lucas Hedges).

Lady Bird tinggal bersama ibu, ayah (Tracy Letts), serta kakak angkat (Jordan Rodrigues) dan pacarnya. Keluarga ini adalah keluarga yang saling menyayangi, tapi mereka menggerutu satu sama lain, kadang sampai teriak-teriak. Mereka berasal dari kelas bawah, yang berarti punya masalah finansial. Menjadi masalah juga ketika Lady Bird keukeuh untuk kuliah di luar kota, apalagi kalau tanpa beasiswa.

Meski filmnya berisi karakter yang generik untuk ukuran film remaja, tapi Gerwig tak memperlakukan mereka sebagai karakter gampangan. Masing-masing mendapat momen untuk menunjukkan sisi lain dari kepribadian mereka. Film ini dibangun dari kumpulan momen-momen terpisah, seperti kegiatan teater sekolah, musuhan sama sahabat, belanja baju sama ibu, atau seks yang mengecewakan. Tak begitu punya benang merah, tapi efektif menangkap fase penting yang dialami Lady Bird di masa pubernya. Lebih kurang mirip diari, dimana, saya berasumsi, sebagian besarnya berasal dari diari pribadi Gerwig.

Saya yakin itulah yang membuatnya filmnya terasa sangat relatable dan jujur; karena Gerwig mengalaminya sendiri. Ia memberi perhatian tentang cara remaja cewek bertingkah atau bagaimana mereka berpikir. Akan ada banyak bagian yang membuat kita berpikir, “Ohh, pas gue remaja juga kaya gini”.

Konflik terbesarnya adalah hubungan pasif-agresif Lady Bird dengan ibunya, yang sudah kita lihat dengan gamblang dari adegan pembukanya. Setelah keduanya menangis haru mendengar rekaman novel The Grapes of Wrath via tape, Lady Bird tiba-tiba terjun dari mobil yang sedang melaju hanya gara-gara ibunya yang ngomel tanpa henti di belakang setir. Sang ibu, yang sering bekerja lembur demi biaya sekolah, punya rencana versi terbaik bagi Lady Bird yang tentu saja berbeda dengan versi Lady Bird pribadi.

Ronan dan Metcalf adalah kombo yang magnetik di layar. Ketika mereka berada di satu adegan, kita bisa merasaka ketegangan yang akan dengan cepat tereskalasi. Ronan menjadi karakter yang berbanding terbalik dengan perannya dalam Brooklyn. Ia sekarang adalah remaja kekinian yang impulsif tapi juga naif. Ronan punya pesona alami yang membuat karakternya selalu mencolok dan lovable meski terkadang membuat pilihan bodoh.

Jadi ciwik-ciwik remaja, ambillah nasihat yang ditawarkan film ini. Kita harus menerima kenyataan bahwa terkadang kita membuat kesalahan ketika beranjak dewasa. Kamu pikir kamu ingin menjadi berbeda, padahal sebenarnya yang kamu butuhkan hanyalah ingin dicintai belaka. Dan coba tebak, kemungkinan besar kamu sudah punya itu.

Lad... Christine sudah. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Lady Bird

93 menit
Remaja - BO
Greta Gerwig
Greta Gerwig
Scott Rudin, Eli Bush, Evelyn O'Neil
Sam Levy
Jon Brion

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top