0

Review Film: 'Maudie' (2017)

Yang saya dapati adalah sebuah film sederhana yang mencerahkan, mengenai seorang figur yang punya kepribadian yang begitu tulus dan mulia.

“It's always different. The whole of life. The whole of life already framed. Right there.”
— Maud Lewis
Rating UP:
Kalau saya tak mengecek Wikipedia, saya takkan tahu bahwa Maudie adalah tokoh yang benar-benar ada. Film ini tak memberitahu. Ia juga tak bermain seperti film biopik kebanyakan. Tak ada teks yang menyatakan kapan dan dimana filmnya mengambil tempat. Saya tak menduga akan menonton sebuah biopik. Alih-alih, yang saya dapati adalah sebuah film sederhana yang mencerahkan, mengenai seorang figur yang punya kepribadian yang begitu tulus dan mulia. Satu orang seperti ini membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.


Maud punya karakteristik yang pas sekali dimanfaatkan untuk menguras air mata penonton. Ia terlahir di keluarga yang miskin dan sedari kecil menderita arthritis. Punggungnya bungkuk dan jalannya agak pincang; kondisi fisiknya menjadi olok-olok warga. Namun film ini tak menjadikannya melodrama yang menye-menye melainkan film yang uplifting. Maud memang cacat dan miskin, tapi ia tak hidup dalam derita. Ia tak pernah melihat dunia dengan sinis. Ia menderita karena derita tersebut dibawa oleh orang-orang normal di sekitarnya.

Karakter Maud diperankan oleh Sally Hawkins yang baru-baru ini saya lihat dalam The Shape of Water. Dalam film ini, Hawkins mendapat kesempatan yang lebih besar untuk menunjukkan kekuatan aktingnya. Bukan hanya soal teknis, seperti postur bungkuk, senyum canggung, logat kekanakan, dan gaya jalan yang tertatih, Hawkins juga memainkan aspek emosional sedemikian rupa tanpa terkesan pamer. Ia melakukannya dengan natural, seolah kita benar-benar melihat seorang Maud.

Ketika orangtuanya meninggal, Maud dititipkan untuk tinggal di rumah tantenya yang doyan ngomel dan suka nyuruh-nyuruh. Maud hanya ingin kembali pulang ke rumahnya tapi satu-satunya keluarga garis lurus Maud, sang kakak, malah menjual rumah tersebut. Ia tak punya apa-apa, bahkan orang-orang terdekatnya tak menginginkannya. Jadi ketika ada iklan yang bilang bahwa seorang pria membutuhkan pembantu, Maud berjalan kaki ke rumah pria yang dimaksud dan menawarkan diri.

Yang Maud tak tahu adalah calon majikannya ternyata seorang pria yang kondisi ekonominya tak jauh lebih baik daripada Maud. Everett (Ethan Hawke) hanyalah seorang miskin penjual ikan yang tinggal di rumah kelas RSSSSS, ditemani dua ekor anjing dan beberapa ekor ayam. Tak hanya doyan menggerutu, Everett juga bilang bahwa di matanya posisi Maud lebih rendah dari anjing dan ayam peliharannya.

Namun, ketulusan Maud mampu memancing sisi manusiawi dari Everett. Di sela-sela kesibukannya membersihkan rumah atau memasak, Maud diijinkan untuk melakukan hobi lamanya, yaitu melukis. Awalnya ia mencoreti rak, dan tak lama kemudian dinding rumah dan jendela sudah dipenuhi dengan gambar pohon, sungai, atau burung. Lukisannya yang sederhana menggambarkan kebahagiaan, dibuat dengan warna-warna cerah.

Suatu hari, seorang turis Amerika (Kari Matchett) melihat coretan-coretannya. Ia menawarkan uang untuk setiap kartu pos yang digambari Maud. Kartu pos berganti kanvas, dan lukisan Maud semakin populer. Setiap hari orang-orang berkunjung untuk membeli lukisannya. Bahkan Presiden Nixon sempat pula meminta satu lukisan. "Takkan aku kasih, kalau dia tak bayar," celutuk Maud.

Filmnya, however, tak tertarik pada lukisan Maud atau bagaimana Maud menjadi seniman folk terkenal di Kanada. Maudie, yang disutradarai oleh Aisling Walsh, punya jalinan naratif yang lebih membumi. Ia lebih berfokus pada kepribadian Maud dan kisah cintanya dengan Everett. Tentang bagaimana dua orang dari kaum marjinal yang saling menemukan kenyamanan satu sama lain. Hubungan ini menjadi kisah cinta yang tak bisa dibilang romantis tapi sangat menyentuh.

Awalnya pasti terbayang di benar keduanya untuk menjadi pasangan suami istri. Everett adalah pria temperamen yang boleh dibilang jijik terhadap Maud. Dikarenakan rumah yang sangat sempit, keduanya harus tidur di satu kasur. Di satu titik, Everett bermaksud menjamah Maud, yang dijawab Maud dengan "gimana kalau nikah aja sekalian?". Iya, akhirnya mereka menikah. Oleh sebab Everett susah sekali mengungkapkan sesuatu, saya tak tahu apakah alasannya nikah adalah karena ngebet ingin begituan, tapi saya lebih yakin karena Everett sudah mulai merasakan pentingnya Maud dalam hidupnya.

Everett tak punya bakat romantis, jadi Hawke punya peran yang sedikit pelik. Ia jarang sekali ngomong, apalagi membuka perasaannya. Namun pada akhirnya sukses membuat kita bersimpati pada karakternya. Ada semacam kehangatan yang kita rasakan ada di dalam diri Everett. Ada satu adegan menyentuh ketika Everett membawa Maud melihat kenyataan mengenai tragedi masa lalu Maud.

Saya pikir memang lebih baik kita tak terlalu tahu banyak mengenai tokoh aslinya. Dalam buku biografi Maud Lewis: The Heart on the Door yang ditulis oleh Lance Woolaver, Maud disebut hidup menderita dan suaminya tak pernah berhenti bersikap kasar. Film ini seperti berusaha menjauhkan kita dari fakta tersebut dengan tidak mengklaim secara blak-blakan bahwa ini adalah biopik Maud Lewis. Kita tak tahu apakah cinta mereka memang sedalam itu, seperti yang film ini ceritakan. Kalau setia, mungkin filmnya akan jadi film yang pahit. Namun, saya tak mungkin protes ketika akhirnya mendapatkan film yang merayakan kesederhanaan dan ketulusan manusia. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Maudie

116 menit
Dewasa
Aisling Walsh
Sherry White
Bob Cooper, Mary Young Leckie, Mary Sexton, Susan Mullen
Guy Godfree
Michael Timmins

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top