0

Review Film: 'The Post' (2017)

Kendati hampir seluruh bagiannya hanya terdiri dari dialog, Spielberg mampu membuatnya menegangkan ala thriller tik-tok.

“We have to be the check on their power.”
— Ben Bradlee
Rating UP:
Ketika kebanyakan media jaman now menyuguhkan kita headline keci semacam "Bukannya Mengobati, Dokter Malah Lakukan Ini pada Pasiennya" atau "Tarif Booking Artis Indonesia Bocor" atau "10 Gombalan Paling Greget, Nomer 12 Bikin si Dia Klepek-klepek", pernah ada masanya ketika media benar-benar melaporkan berita sungguhan dan reporter benar-benar meliput reportase sungguhan. The Post adalah tribut terhadap dunia jurnalisme, mirip dengan All the President’s Men atau Spotlight. Film-film ini memberi kita gambaran akan betapa sulitnya melakukan hal tersebut dan membuat kita mengapresiasinya. Bahkan ketika sudah mendapatkan materi, memilih antara menerbitkan atau tidak pun masih bikin galau.

Jadi jurnalis itu keren tapi ternyata tak gampang. Mungkin itulah kenapa Rimbun News dan konco-konconya lebih suka bikin berita yang setelah dibaca membuat kita ingin menelan ponsel.


Dalam The Post, semua hal dan semua orang terasa seperti sedang bergerak. Sang sutradara, Steven Spielberg kabarnya menggarap film ini dengan buru-buru, di sela-sela proses pasca-produksi Ready Player One. Dan film ini terasa buru-buru. Maksud saya, dalam artian yang bagus. Bukan dalam hal kualitas tapi soal ritme. Filmnya punya semacam sense of urgency. Kendati hampir seluruh bagiannya hanya terdiri dari dialog, Spielberg mampu membuatnya menegangkan ala thriller tik-tok.

Meski latarnya mengambil waktu tahun 1970an, isunya masih sangat relevan. Keburu-buruan produksi ini oleh Spielberg, mungkin sekalian dimaksudkan untuk menangkap isu yang tengah hangat di Amerika, dimana Presiden Trump mengancam akan menggulung media yang diklaimnya memberitakan “fake news”. Menontonnya membuat kita sadar betapa sedikit hal berubah. Setelah 5 dekade nyatanya kita masih menghadapi masalah yang sama. Di Indonesia pun begitu. Terlalu kritis terhadap kebijakan pemerintah kadang bisa berujung pembredelan. Padahal suara media dan rakyat itu penting untuk mengontrol akuntabilitas pejabat publik. Eaaa #PesanMoral.

Saya kok jadi membicarakan politik. Padahal The Post tak seberat itu mengangkat temanya, meski saya bisa membayangkan betapa Spielberg dan penulis skripnya, Liz Hannah dan Josh Singer, mengharapkan film mereka mampu menjadi tohokan keras. Film ini boleh dibilang crowdpleaser di antara film tentang perkoranan. Scoring dari John Williams selalu menekankan bagian yang dramatis. Spielberg bahkan punya momen yang sedikit corny, dimana para wartawan bersorak-sorai mendengar berita menggembirakan dari ujung pesawat telepon.

Wartawan-wartawan tadi adalah kru dari koran The Washington Post yang memberitakan soal skandal pemerintah yang menutupi fakta soal Perang Vietnam. Sejak administrasi 3 presiden sebelumnya, dan sekarang giliran Nixon, pemerintah secara sembunyi-sembunyi mendukung perang yang mereka tahu tak bisa dimenangkan, yang berarti mengorbankan ratusan nyawa pemuda Amerika untuk hal yang sia-sia. Adalah Daniel Ellsberg (Matthew Rhys), seorang mantan tentara, yang membawa kabur ribuan lembar fotokopi dokumen rahasia pemerintah tersebut untuk diungkap ke publik.

Awalnya yang mendapat dokumen adalah The New York Times, koran nasional yang dianggap sebagai saingan oleh The Washington Post yang saat itu baru berstatus koran lokal. Namun koran ini dipersekusi karena dinilai mengancam keamanan nasional. Saatnya memancing di air keruh; kesempatan bagi The Washington Post untuk mengambil alih. Informan The New York Times mengoper dokumennya dan sekarang The Washington Post sudah punya 4000 halaman rahasia pemerintah. Masalahnya adalah dokumen ini sudah diputuskan oleh Kejaksaan Agung untuk dilarang diterbitkan. Membuat liputan tentangnya tak hanya mengancam keberlangsungan koran melainkan juga bisa membuat pihak yang terlibat dipenjara.

The Post lebih sedikit bermain sebagai film prosedural jurnalistik, alih-alih cenderung mencermati problematika yang berpotensi ditimbulkan oleh subyek yang diangkatnya. Disinilah film memberikan dua karakter dari The Washington Post yang berbeda cara pandang: redaktur Ben Bradlee (Tom Hanks) yang idealis dan sang bos Kay Graham (Meryl Streep) yang lebih konservatif. Sama-sama ingin koran mereka maju, tapi punya metode yang berbeda untuk mencapai tujuan. Ben bersikap bodoamat dengan represi pemerintah, sementara Kay mengkhawatirkan korannya yang terancam bangkrut.

Dinamika Ben-nya Hanks dan Kay-nya Streep adalah versi mini dari konflik kepentingan dalam sebuah pemberitaan liputan, apalagi yang kontroversial. Dan penampilan keduanya tentu saja kelas wahid. Ada adegan brilian saat Ben dan Kay membahas masalah ini saat makan siang, dan Spielberg membiarkan kamera menyorot Hanks dan Streep berdialog tanpa terputus. Streep mendapat peran yang lebih berbobot, karena pada awalnya karakter Kay bukanlah seorang bos koran yang percaya diri meski sebenarnya cerdas. Ia harus berkutat dengan krisis ekonomi yang dialami korannya. Ditambah pula dengan keberadaan koleganya, Robert McNamara (Bruce Greenwood), seorang pejabat Departemen Keamanan yang tentu saja punya hubungan langsung dengan skandal tersebut.

Cerita mengenai sang informan, Daniel Ellsberg jelas lebih greget, tapi film ini bukan soal whistleblowing. Poin filmnya bukan lagi soal skandal, melainkan sudah melebar ke skala yang lebih besar, yaitu kebebasan pers. Jadi keputusan bijak ketika semua pemain memberikan potret yang membumi. Mereka menyatu dengan narasi, tak memaksa karakter mereka untuk selalu tampil di bawah sorotan. Film ini punya beberapa karakter kecil yang dimainkan oleh aktor-aktor yang relatif ternama, diantaranya Sarah Paulson sebagai istri Ben dan Alison Brie sebagai anak Kay. Jesse Plemons bermain sebagai pengacara baru The Washington Post yang tentu saja gugup karena sadar kliennya tengah bermain api. Michael Stuhlbarg tampil singkat sebagai redaktur The New York Times. Dan ada Carry Coon di antara lusinan wartawan The Washington Post.

Bukan berarti filmnya mengabaikan aspek proseduralnya, karena wartawan kita tetaplah harus mengejar sendiri materi mereka. Karakter Bob Odenkirk turun langsung ke lapangan yang berarti menjalin komunikasi rahasia via telepon umum atau menjemput sendiri dokumen dalam dus. Detail mengenai proses penerbitan korannya menarik dilihat. Spielberg membuat reka ulang ruang redaksi jadul yang belum terjamah komputer, termasuk ruangan penuh mesin tik, pneumatic tube, sampai mesin cetak raksasa. Filmnya disorot dan diedit dengan begitu kompeten, sehingga mampu menciptakan dinamisme bahkan di ruang konferensi yang sempit.

Sebagai sutradara veteran, Spielberg dengan gampangnya memberikan latar belakang yang memadai —bahkan bagi saya yang awalnya tak tahu sama sekali soal skandal tersebut— tanpa membebani filmnya dengan eksposisi yang ribet. Filmnya berjalan cepat dan fokus. Bagian yang berpotensi membuat ceritanya keluar jalur, soal pengadilan misalnya, dibahas singkat saja. Di adegan penutup, pesannya jelas sekali: selagi orangnya kredibel, kebebasan pers harus dijunjung tinggi. Film ini mendorong orang-orang untuk berani mengejar kebenaran.

Sekarang mari kita bahas tentang berita yang dibuat dari komentar di medsos atau foto di akun Lambe-lambe-an. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

The Post

166 menit
Remaja
Steven Spielberg
Liz Hannah, Josh Singer
Steven Spielberg, Kristie Macosko Krieger, Amy Pascal
Janusz KamiƄski
John Williams

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top