0

Review Film: 'The Shape of Water' (2017)

Saya pikir keistimewaan 'The Shape of Water' masih tenggelam di suatu tempat.

“He sees me as I am.”
— Elisa Esposito
Rating UP:
Ingat Abe Sapien, manusia ikan nan canggung dari film Hellboy? Sekarang ia mendapat spinoff dalam bentuk filmnya sendiri. Dan filmnya adalah romance. Tak ada yang menduga hal ini dan saya kira tak ada pula yang mengharapkannya. Setelah menontonnya sendiri, saya merasa begitu. Hehe. Tidak juga sih. Film ini bukan spinoff Hellboy, tapi memang romance. Tak menampilkan Abe, tapi memang ada manusia ikannya. Sementara untuk kalimat keempat dan kelima, saya bercanda. Hehe. Tapi serius juga.


Tapi memang yaa, manusia ikannya diperankan oleh Doug Jones, aktor di balik Abe Sapien. Film ini juga dibuat oleh sutradara Hellboy, Guillermo del Toro. Sang sutradara asal Meksiko ini adalah auteur sejati, master dalam membangun dunia yang benar-benar hidup dalam filmnya. Ia sepertinya juga tertarik dengan (dan mahir menarik) sisi kelam dari kisah fantasi. Lewat Pan’s Labyrinth, ia membuat film adventure untuk orang dewasa. Sementara itu, The Shape of Water adalah romance untuk orang dewasa. Keduanya sama-sama dibangun dari elemen horor-fantasi.

Ini juga film yang mempesona. Del Toro mengkreasi film yang cantik. Ia mengarahkan kamera Dan Laustsen untuk selalu bergerak, menciptakan sensasi yang dreamy. Perhatiannya akan detil tata produksi membuat semua elemennya menyatu menjadi semesta yang memanjakan mata. Kabarnya, del Toro hanya menghabiskan bujet sekitar $20 juta saja, tapi dunianya terlihat sangat imersif dan kaya. Untuk manusia ikannya, del Toro lebih memilih menggunakan prostetik alih-alih CGI. Ini memberikan kesan nyata dan sense of weight yang tak didapatkan dari efek spesial komputer.

Pada dasarnya, cerita film ini seperti Beauty and the Beast. Namun del Toro menolak definisi romance yang polos, karena filmnya punya sentuhan seksual juga. Saya pikir inilah yang akan membuat ilfil sebagian penonton yang kadung terbawa hype “The Shape of Water adalah salah satu film paling romantis”. Filmnya terlalu tanpa kompromi bagi penonton yang mengharapkan kisah asmara yang manis. Dalam film romansa biasa, cinta terlalu sakral untuk hubungan seks. Namun, tak demikian dengan dunia nyata, bukan?

Sebagaimana dengan Pan’s Labyrinth, realita bukan tak mungkin koeksis dengan fantasi. Del Toro mengkombinasikannya sedemikian rupa sehingga kita langsung percaya saja terhadap imajinasi apapun yang suguhkan. Adegan pembuka The Shape of Water yang khayal mempersiapkan kita akan segala kemungkinan aneh yang akan terjadi. Kita diajak berkeliling di apartemen yang sepertinya berada di bawah air. “Ini adalah cerita tentang putri yang bisu dan monster yang mencoba menghancurkan semuanya,” ujar Giles (Richard Jenkins) kepada kita.

“Sang putri” yang dimaksud adalah Elisa Esposito (Sally Hawkins). Memang tak bisa ngomong, tapi ia bukan putri, melainkan hanya seorang tukang bersih-bersih di sebuah laboratorium pemerintah. Tinggal di apartemen yang biasa-biasa saja, hidupnya pun biasa-biasa saja. Elisa sepertinya menjalani kesehariannya dengan bahagia, tapi sebagai seorang tuna wicara, ia adalah orang yang merasa terpisah dari dunia. Kesepian.

Kalau mau jujur, orang-orang di sekeliling Elisa juga tipe orang kesepian. Apalagi jika mengingat latar waktunya di era 60an. Tetangga apartemennya, Giles adalah seorang gay uzur yang diberhentikan kerja dan selalu sendu saat menghabiskan waktu di kafe yang kasirnya ganteng. Teman karibnya sesama tukang bersih-bersih, Zelda (Octavia Spencer) si cerewet adalah seorang wanita kulit hitam. Sudah tukang bersih-bersih, wanita, kulit hitam pula.

Perasaan inilah yang kiranya menyatukan mereka. Perasaan ini pulalah yang langsung mendekatkan Elisa dengan seorang (?) manusia ikan yang baru saja ditangkap dan ditawan di laboratorium pemerintah. Di kampung halamannya, Amazon, manusia ikan ini dipuja sebagai dewa. Namun disini ia dianggap sebagai objek penelitian yang siap dieksekusi dan diotopsi sementara disiksa dengan tongkat listrik oleh kepala fasilitas yang sadis, Strickland (Michael Shannon).

Situasi politik menjadi latar yang krusial bagi film sebagaimana Pan’s Labyrinth dengan era fasis Spanyol. Ini jamannya Perang Dingin, dimana Amerika dan Rusia bersaing untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Profesor Hoffstetler (Michael Stuhlbarg) ditugaskan untuk mempelajari manusia ikan agar Amerika bisa lebih ungguh dari Rusia, tapi ia mungkin punya agenda tersendiri. Motivasi Strickland sendiri untuk berbuat abusif adalah toxic masculinity, produk dari paradigma kolot yang lazim di jamannya.

Ini pula yang nantinya berperan menjadi motor sekaligus penghalang saat Elisa dkk berjuang menyelamatkan sang manusia ikan dari pihak yang ingin membantainya. Kok Elisa mau? Semua karena cinta, tentu saja. Elisa pasti tahu bagaimana rasanya tak dimengerti dan tak bisa mengungkapkannya sehingga menemukan semacam koneksi. Manusia ikan juga tak bisa bicara, tapi jelas bisa merasa. Mereka saling memahani. Dan cintanya bukan sembarang cinta, tapi cinta orang dewasa.

Yap. Dan disinilah saya mendapati perasaan aneh yang tak bisa saya abaikan sampai selesai menonton. Hubungan mereka adalah hubungan yang edan. Oke, romansa antara Naomi Watts dengan Kong juga sama gilanya, tapi film King Kong punya alasan fundamental yang membuatnya plausible; aspek jijaynya sudah menguap karena karater Watts peduli pada Kong sebanyak Kong peduli pada karakter Watts. Dalam The Shape of Water, saya tak merasakan percikan romansa antara keduanya. Elisa mungkin memang cinta, karena rajin membawakan telur rebus atau memutarkan musik, tapi bagaimana dengan manusia ikan sendiri?

Komplain saya ini mungkin personal. Di pertengahan film, ada satu adegan yang sangat intim tapi tak bisa saya beli. Terserah mereka sih mau ngapa-ngapain. Saya tak percaya hal tersebut terjadi, karena belum dibawa tenggelam di kedalaman hubungan mereka berdua. Ketika membuat gestur sensual, mungkinkah ini hanya bentuk keegoisan Elisa saja untuk mencari pelarian dari kesepiannya? Itulah kenapa bagian akhir film menjadi terkesan lemah dan bagi saya pribadi tak begitu mengena. Love conquers all, but we need to have it first.

Jadi apakah saya tak suka dengan filmnya? Tidak juga. Del Toro adalah pencerita visual dan film terbarunya ini tak kalah menakjubkan. Ini adalah film yang fantastis untuk disaksikan. Craftmanship-nya luar biasa. Akting pemain mantap, terutama Hawkins yang harus membawakan emosi hanya dari bahasa tubuh dan ekspresi. Meski berdurasi 2 jam, tak sedikit pun saya merasa bosan, walau payoff-nya ternyata sedalam yang dimaksudkan. Saya pikir keistimewaan The Shape of Water masih tenggelam di suatu tempat. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

The Shape of Water

123 menit
Dewasa
Guillermo del Toro
Guillermo del Toro, Vanessa Taylor
Guillermo del Toro, J. Miles Dale
Dan Laustsen
Alexande Desplat

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top