0

Review Film: 'Wonderstruck' (2017)

Apakah kita peduli dengan semua ini? Mahasiswa kelas perfilman mungkin, tapi agaknya tak demikian dengan penonton kasual.

“We are all in the gutter, but some of us are looking at the stars.”
— Oscar Wilde
Rating UP:
Menonton Wonderstruck, kita pada dasarnya disuguhkan dua film tapi terasa seperti tidak menyaksikan satu pun film. Ending-nya cuma satu memang, tapi karena bagian ini tak memuaskan, rasanya tak ada satu pun dari “dua” film tadi yang tuntas. Saya kira, film ini hanya sukses sebagai wadah bagi pembuat filmnya untuk menunjukkan bahwa ia bisa membuat dua film —yang berbeda dan sama-sama meyakinkan soal detil dan tata produksi— dalam satu film.


Tentu saja, dalam sekali lihat, besar kemungkinan anda langsung bisa menyimpulkan bahwa film ini dibuat oleh sineas yang mumpuni. Dia adalah Todd Haynes, sutradara brilian yang tak ragu bereksperimen. Eksperimen paling besarnya mungkin adalah menghadirkan 6 persona Bob Dylan dengan 6 aktor berbeda dan 6 jalur plot yang berbeda pula dalam biopik unik I’m Not There. Dalam Wonderstruck, Haynes punya dua jalur plot yang berjalan secara paralel. Dan untuk menceritakannya, dia memakai dua gaya sinema yang berbeda pula, yaitu era 1920an dan 1970an.

Untuk urusan craftmanship, perhatiannya akan detail sangat mengagumkan. Ceritanya berjalan di dua era yang berbeda jauh, dan kita rasanya benar-benar seperti melihat film produksi di tahun yang bersangkutan. Di bagian cerita tahun 1927, kita diberikan film bisu yang hitam putih, sedangkan gambar di tahun 1977 diisi dengan palet warna pastel diiringi trek lagu khas 70an.

Apakah kita peduli dengan semua ini? Mahasiswa kelas perfilman mungkin, tapi agaknya tak demikian dengan penonton kasual.

Satu lagi alasannya adalah karena karakter yang perjalanan personalnya tak begitu membuat kita terikat. Film ini menceritakan tentang dua anak yang kisahnya terpisah oleh rentang waktu 50 tahun. Namun, mereka punya banyak kesamaan: cerdik, nekat, kesepian, dan tengah berusaha mencari jawaban mengenai keluarga. Film lebih tertarik untuk mengeksplorasi bagaimana alih-alih kenapa mereka melakukannya. Ini mekanika plot, dan mekanika plot jarang membuat kita tersentuh.

Karakter pertama adalah Ben (Oakes Fegley) yang tinggal bersama tantenya di sebuah desa. Sang ibu (Michelle Williams) baru saja meninggal dan sampai akhir hayatnya, tak pernah mengungkap identitas ayah Ben. Namun Ben kemudian menemukan petunjuk di sebuah buku misterius. Dengan bekal tersebut, Ben kabur dari rumah dan menuju ke kota untuk mencari seorang pria yang kemungkinan punya hubungan dengan sang ayah.

Oh ngomong-ngomong, Ben baru saja kehilangan pendengaran gara-gara petir menyambar tepat saat ia akan menelepon toko buku yang menjual buku misterius tadi. Ini baru namanya kebetulan.

Mundur ke tahun 1927, kita berjumpa dengan Rose (Millicent Simmonds), seorang gadis kecil tunarungu yang bisa dibilang dipingit oleh sang ayah. Rose terobsesi dengan film, terutama kepada seorang aktris (Julianne Moore). Rose tahu bahwa sang aktris tampil dalam sebuah panggung teater di kota tempatnya tinggal. Jadi demi bertemu dengan sang aktris, ia kabur dari rumah.

Keduanya nanti akan bertemu di American Museum of Natural History. Maksud saya, pertemuan secara kiasan, bukan dalam arti sebenarnya karena ini bukan film Lorong Waktu. Museum ini menjadi benar merah. Haynes mempresentasikan bagian ini seolah sedang melakukan promosi museum. Jika sebelumnya transisi adegannya kasar, maka bagian kunjungan museum oleh Ben dan Rose terlihat lebih ritmis, mengalir dengan cut halus. Mereka pada dasarnya melakukan hal yang sama; berjalan di lorong yang sama, melihat monumen yang sama. Disinilah kita akan dibuat kagum pada bagaimana Haynes mampu mengkreasi tampilan dan atmosfer yang berbeda di lokasi yang sama.

Untuk menciptakan ini, Haynes berkolaborasi dengan sinematografer langganannya Ed Lachman dan komposer Carter Burwell. Di cerita masing-masing, setting-nya boleh dibilang otentik. Untuk bagian 1927, dikarenakan mengambil tribut pada film bisu, maka ia berjalan tanpa dialog. Scoring nan menawan dari Burwell tanpa henti membimbing kita menyusuri dinamika cerita dan beberapa momen emosional.

Adegan puncak melibatkan miniatur spektakuler dari seluruh bagian kota New York. Diorama yang masif ini memberikan pemandangan yang spektakuler. Saya jadi membayangkan berapa lama tim tata produksi menyusun miniator tersebut hingga menjadi skema kota yang lengkap dan detail. Namun bukan sekedar untuk latar belaka, karena kemudian Haynes menggunakan diorama dan boneka mini untuk menceritakan kisah lampau yang dinarasikan oleh Moore.

Baru di akhir lah, semua menjadi terkoneksi (meski saya rasa penonton cerdas sudah bisa menebaknya dari jauh). Sungguh butuh waktu lama bagi film ini untuk menyampaikan poinnya, yang nyatanya juga tak semenohok itu. Ketika sampai di akhir, saya tak mendapatkan titik tertinggi emosinya, karena semua yang mendahuluinya terasa sangat mekanis. Barangkali ada cara yang lebih baik untuk menceritakan kisah ini, dan ada materi yang lebih cocok bagi Haynes untuk pamer skill.

Wonderstruck diangkat dari buku anak karya Brian Selznick, yang juga bertindak sebagai penulis skrip. Buku Selznick sebelumnya menjadi inspirasi bagi Martin Scorsese untuk menggarap Hugo. Haynes biasanya membuat film dewasa (dua tahun lalu, ada Carol). Ini adalah usaha pertamanya untuk membuat film yang ditujukan untuk seluruh keluarga. Nah, saya jadi penasaran, kira-kira bagaimana tanggapan anak-anak terhadap film ini. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Wonderstruck

117 menit
Semua Umur - BO
Todd Haynes
Brian Selznick
Pamela Koffler, John Sloss, Christine Vachon
Ed Lachman
Carter Burwell

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top