0

Review Film: '12 Strong' (2018)

Film ini jelas dibuat oleh Amerika untuk menglorifikasi Amerika, sehingga mari kita tak memperdebatkan pihak mana yang benar atau salah, kuy?

“There is no playbook here. We're gonna have to write it ourselves.”
— Captain Mitch Nelson
Rating UP:
12 Strong menampilkan Chris Hemsworth sebagai tentara Amerika yang menunggani kuda di gurun Afganistan. Koboi di Timur Tengah modern? Terdengar absurd? Tunggu sampai anda melihatnya bermanuver dengan kuda untuk melawan tank dan peluncur misil. Belum lagi fakta bahwa pasukannya kalah banyak dalam skala yang nyaris mustahil; 12 orang melawan ribuan orang, katanya. Hal ini merupakan satu-satunya aspek yang tak konvensional dari 12 Strong.


Selebihnya film ini bermain seperti film perang yang sangat old-fashioned. Ini jenis film perang yang kalau misalnya dirilis tiga atau empat dekade lalu, akan cucok begitu saja dengan jamannya tersebut; standar premis hampir semua film aksi jadul yang jagoannya adalah tim, termasuk film koboi juga. Konfliknya simpel: [nama tim jagoan] terjun ke [nama medan perang] melawan [nama gerombolan musuh], tanpa ada banyak bobot di tengahnya. Fokusnya hanya perang. Apakah musuh nantinya bisa ditaklukkan? Apakah ada kemungkinan jagoan kita kalah? Anda lebih tahu.

Bolehlah film ini dibilang film koboi dengan artileri modern.

Menariknya, satu-satunya sentuhan segar di atas ternyata bersumber dari kisah nyata. Benar. Tentara Amerika pernah berperang menggunakan kuda. Bukan buat keren-kerenan, melainkan sebagai bentuk adaptasi akan teritori yang belum pernah mereka temui. Tapi soal keren, iya juga sih. Pasca tragedi 9/11, Amerika bermaksud memberangus Al-Qaeda yang ditengarai bertanggungjawab atas tragedi tersebut. Namun mereka tak tahu apa yang mereka hadapi. Jadi saat itu, mengirim 12 tentara dari sebuah unit khusus dinilai sebagai pilihan yang cukup tepat.

Jadi bagaimana mungkin kita baru mendengar kisah nyata yang luar biasa ini? Alasannya adalah karena operasi ini merupakan misi super rahasia. Bahkan seorang petinggi militer (William Fichtner) bilang bahwa takkan ada hadiah atau parade saat para pahlawan ini pulang kampung nanti. Meski demikian, bertahun-tahun kemudian, pemerintah membangun monumen khusus untuk mereka di lokasi bekas tragedi 9/11. Kisahnya dirangkum oleh Doug Stanton ke dalam sebuah buku yang kemudian menjadi materi untuk film ini

Ulasan saya tak akan mencerminkan pandangan saya terhadap perspektif politik atau reliji dari filmnya. Film ini jelas dibuat oleh Amerika untuk menglorifikasi Amerika, sehingga mari kita tak memperdebatkan pihak mana yang benar atau salah, kuy? Kita diposisikan untuk melihat dari sisi jagoannya, dimana semua musuh itu murni jahatnya — ada adegan dimana anggota Al-Qaeda menyiksa dua orang gadis, hanya karena mereka belajar membaca. Filmnya tak tertarik membahas kompleksitas dan implikasi perang. Tujuan filmnya adalah memberikan gambaran mengenai perjuangan para pahlawan Amerika, jadi saya berusaha untuk tak keluar konteks.

Hemsworth bermain sebagai Kapten Mitch, pemimpin misi yang ngebet ingin angkat senjata meski sendirinya belum pernah terjun langsung ke medan perang. Timnya ditugaskan untuk menjalin kontak dengan Aliansi Utara Afganistan yang dikomandoi oleh Jenderal Dostum (Navis Negahban), yang sama-sama ingin menumpas Al-Qaeda. Diantara anggota tim Mitch, ada Wakil Kapten Hal (Michael Shannon) yang sudah banyak makan asam-garam perang. Lalu ada pula tokoh yang dimainkan Michael Pena dan Trevante Rhodes.

Mengenai film dengan premis formulaik, kita merasa seperti sudah melihatnya di suatu tempat, sehingga dengan durasi 130 menit, filmnya terkesan berpanjang-panjang. Tentu saja, bakal ada adegan dimana para istri ngedumel terhadap misi suami mereka yang berbahaya atau sesi curhat antar para jagoan kita yang mengungkap alasan pribadi mereka berperang. Sementara beberapa film menggunakannya untuk membangun drama, 12 Strong tak begitu sukses karena karakternya tak berkembang dari sekedar karakter stok.

12 orang ini tak berhadapan begitu saja melawan ribuan pasukan Al-Qaeda. Misi mereka sebenarnya lebih sederhana daripada yang saya bayangkan sebelum menonton: menentukan target. Bersama dengan pasukan Dostum, mereka harus mengambil alih salah satu desa yang menjadi basis Taliban. Untuk itu, mereka mendapat bantuan berupa pesawat pengebom. Namun agar tak meleset, koordinat targetnya harus diperoleh langsung di darat, yang mana menjadi tugas Mitch dkk. Anda sudah tahu bahwa dalam film, tak ada yang namanya misi sederhana.

Sebagai film yang jualan patriotisme dalam kemasan perang, 12 Strong menyuguhkan tontonan yang penuh adrenalin. Sekuens perangnya digarap dengan intens dan eksplosif oleh sutradara debutan Nicolai Fuglsig. Saat dalam mode perang, adegan-adegannya penuh dengan ledakan dan hamburan peluru. Syukurlah perangnya terjadi di tengah gurun, jadi mereka bisa saling menembakkan senapan mesin atau meluncurkan misil dengan bebas seolah sedang main video game.

Meski memasang judul "12 Strong", nyatanya film ini berfokus pada karakter Hemsworth, dengan tiada usaha signifikan untuk memanifestasikan 11 tokoh lainnya. Seperti karakternya, Hemsworth bermain lurus terhadap perannya. Ada sedikit usaha untuk menyentil sentimentalitas perang lewat karakter Mitch, tapi film tak memberi kita kesempatan untuk merasakan itu. Satu karakter yang agak kompleks mungkin adalah Dostum yang melihat Amerika bukan sebagai rekannya melainkan sekutu sementara yang kebetulan punya musuh yang sama.

Film ini adalah mengenai perang yang sederhana, dengan stakes yang minimal. Kalau untuk menggambarkan perang Afganistan, ia belum cukup memadai. Nah, kalau untuk memberi tribut bagi 12 tentara tangguh yang menjadi subjeknya, ia juga belum cukup memadai, hal yang sebenarnya cukup disayangkan (ini kan film tentang mereka tho?). Yang berhasil dilakukannya adalah memberi tribut bagi heroisme Amerika secara umum. Poin buat Amerika. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

12 Strong

129 menit
Remaja
Nicolai Fuglsig
Ted Tally, Peter Craig (screenplay), Doug Stanton (buku)
Jerry Bruckheimer, Molly Smith, Thad Luckinbill, Trent Luckinbill
Rasmus Videbæk
Lorne Balfe

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top