0

Review Film: 'The Cloverfield Paradox' (2018)

Dikarenakan menempel dengan franchise 'Cloverfield', film ini jadinya mencoreng mereknya.

"None of us believed it was real."
— Schmidt
Rating UP:
Kita pikir tak ada yang bisa melewati taktik marketing rahasia dari Cloverfield dan 10 Cloverfield Lane. Siapapun yang punya ide di balik perilisan The Cloverfield Paradox jelas lebih cerdas daripada siapapun yang menulis filmnya. Mereka pantas naik gaji. Film ini datang dengan mengejutkan. Di tengah acara Super Bowl di Amerika, trailernya dirilis. Yang tak diduga oleh siapapun adalah trailer ini mengumumkan bahwa filmnya akan tayang, bukan di bioskop tapi di kanal Netflix, dan bukan besok atau lusa melainkan malam itu juga. Boom!


Atau mungkin ada alasan lain kenapa ia dirilis di Netflix sesegera itu? Mungkinkah filmnya sengaja "dibuang" ke Netflix karena kualitasnya yang hampir setara dengan film direct-to-video atau paling banter satu episode Black Mirror? Dari yang saya tonton sih kelihatannya begitu. Disutradarai oleh Julis Onah, tata produksinya tampak murahan, set-pieces-nya generik, dan pengadeganannya terkesan B aja. Atau justru karena tayang di Netflix, filmnya malah terasa seperti film direct-to-video?

Teori yang mana pun, saya yakin film ini takkan meninggalkan kesan yang berarti setelah ditonton.

Penyebabnya adalah karena kita sudah melihat semua yang disajikan oleh The Cloverfield Paradox dalam film yang jauh lebih baik. Penulis skripnya, Oren Uziel menggunakan konsepnya untuk mencampuradukkan berbagai macam elemen dari beberapa film scifi luar angkasa yang sudah terlalu sering kita tonton. Namun, kalau melihat dari bagaimana mereka bertindak, para karakternya pasti belum pernah menonton film-film tersebut. Sejak kapan petualangan antariksa dalam film yang tak berakhir buruk?

Film dibuka dengan seorang antariksawati, Ava (Gugu Mbatha-Raw) yang harus meninggalkan bumi, suami (Roger Davies), serta tragedi masa lalunya demi menyelamatkan umat manusia. Ava bergabung dengan para ilmuwan dari berbagai negara di stasiun luar angkasa yang dilengkapi dengan akselerator energi canggih bernama "The Shepard". Akselerator ini diharapkan akan mengentaskan krisis energi di bumi, yang cara kerjanya adalah dengan menembakkan laser raksasa ke dekat bumi. Jangan tanya saya, saya bukan profesor fisika.

Para krunya adalah stok karakter film luar angkasa dengan variasi multinasional: kapten yang serius (David Oyelowo) dari Amerika, ilmuwan yang misterius (Daniel Bruhl) dari Jerman, teknisi slenge'an (Aksel Hennie) dari Rusia, si taat beragama (John Ortiz) dari Brazil, si tukang ngelawak (Chris O'Dowd), dan tidak lupa perwakilan dari benua kita (Zhang Ziyi). Cast yang unik ini diberikan karakter yang generik. Dialog mereka sebagian besar adalah jargon teknis absurd yang terdengar seperti orang yang terlalu banyak menonton film Flash Gordon. Anda mungkin lebih pintar soal fisika daripada mereka.

Setelah beberapa kali percobaan, usaha ini sukses. Namun tentu saja ada efek samping; ini laser raksasa yang kita bicarakan. Tiba-tiba saja, bumi tak lagi disana. Apakah mereka tak sengaja menghancurkan bumi? Atau malah stasiun mereka yang terlontar jauh? Kejadian aneh tak berhenti disini. Elizabeth Debicki mendadak muncul dari balik dinding sambil berteriak histeris gara-gara kabel-kabel yang menembus tubuhnya. Seorang kru memuntahkan ratusan cacing, sementara kru yang lain mengalami putus tangan. Tangan ini akhirnya ditemukan, tapi ia bisa bergerak sendiri bahkan bisa menulis.

Misteri di balik fenomena ini cukup menarik minat, sampai saya lumayan menantikan kira-kira apa gerangan penyebabnya. Ketika terungkap, sayangnya saya tak bisa menanggalkan suspension of disbelief saya. Untuk semua misteri yang dipancing di awal, penjelasannya mengecewakan. Film menggunakan gimmick ini hanya sebagai, uhm, gimmick belaka. Ia menjadi alasan murahan untuk menyimplifikasi semua keanehan yang terjadi. Barangkali kalau tiba-tiba muncul Ellen Ripley di stasiun luar angkasa ini, filmnya juga bakal memakai alasan tersebut.

Ada film minimalis yang jauh lebih bagus mengenai konsep yang coba diangkat oleh The Cloverfield Paradox. Judulnya Coherence. Bukan film luar angkasa memang, tapi temanya mirip lah. Kendati "paradox" adalah konsep yang absurd, film tadi berisi lebih banyak logika dan permainan plausibilitas. Idenya digarap dengan sedemikian matang sampai titik kita bisa dibuat penasaran mengantisipasi apa yang akan datang. Saya kira, yang menyatukan film-film dalam franchise Cloverfield, yang notabene tak ada yang mirip kecuali eksistensi monsternya, adalah jualan konsep yang misterius. The Cloverfield Paradox seharusnya bisa lah memasukkan lebih banyak hal tersebut.

Tentu saja, film ini akan menampilkan monster (kehadirannya di momen yang tak saya duga). Namun penempatannya terasa maksa hanya untuk sekedar menyambungkannya dengan semesta Cloverfield. Ramashook. Meski demikian, saya bersyukur dengan bagian tersebut, karena itu adalah bagian terbaik dari filmnya. Kalau film ini standalone, ia hanya menjadi film yang buruk. Tapi dikarenakan menempel dengan franchise Cloverfield, film ini jadinya mencoreng mereknya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

The Cloverfield Paradox

102 menit
Remaja
Julius Onah
Oren Uziel
J. J. Abrams, Lindsey Weber
Dan Mindel
Bear McCreary

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top