0

Review Film: 'Downsizing' (2017)

Untuk sebuah film yang menceritakan tentang orang-orang yang berubah menjadi kerdil, konsep filmnya yang besar juga menyusut hingga menjadi kerdil di akhir.

“Sometimes you think we’re in the normal world and then something happens and you realize we’re not.”
— Paul Safranek
Rating UP:
Apapun dampak yang dimaksudkan oleh pembuat filmnya, Downsizing punya akhir yang melempem. Film ini punya ide yang besar dan eksekusi yang bagus, tapi pembuatnya seperti berpikiran dalam skala yang kecil. Ada banyak skenario yang bisa dimainkan dari premisnya, tapi Downsizing malah mengambil yang paling dangkal. Saya tak bilang ini buruk, cuma agak meh saja. Untuk sebuah film yang menceritakan tentang orang-orang yang berubah menjadi kerdil, konsep filmnya yang besar juga menyusut hingga menjadi kerdil di akhir.


Ketika manusia disusutkan dalam film, biasanya tujuannya adalah demi komedi atau —seperti baru-baru ini— untuk jurus superhero. Saya tak menyangka bahwa gimmick yang dipakai Ant-Man bisa dimanfaatkan untuk menyentil isu sosial seperti ini. Pembuatnya adalah Alexander Payne yang biasanya menggarap film drama membumi semacam Sideways dan Nebraska. Ini adalah scifi pertamanya, yang berarti lompatan besar dalam filmografinya. Kesuksesan Downsizing adalah karena ia bermain di level manusiawi. Namun ironisnya, begitu pula dengan kegagalannya. Menyalak tapi terlalu jinak.

Di masa depan yang tak terlalu jauh, ada prosedur yang dinamakan "downsizing", yang sesuai namanya, berarti penyusutan . Ilmuwan di Norwegia berhasil membuat formula untuk mengecilkan tubuh makhluk hidup menjadi 1/12 ukuran normal. Penemuan ini merupakan sebuah terobosan dahsyat untuk menjawab permasalahan tentang populasi berlebihan dan perubahan iklim. Jika makluk hidup, terutama manusia, berukuran mini, bukankah sumber daya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan juga semakin sedikit? Demikian pula dengan polusi yang ditimbulkannya bukan? Yeah, kecuali aktivis, sejujurnya tak ada manusia yang berpikiran demikian.

Bayangkan ini. Jika tubuh kita berukuran kecil, maka semua jadi lebih murah. Porsi makanan jadi berkurang drastis, mansion mewah hanya seukuran rumah boneka, dan cincin berlian biasa bisa jadi segede gaban. Satu-satunya kekurangan adalah prosedur "downsizing" tidak reversibel, jadi sekali mengecil maka tak bisa lagi menjadi normal. Namun siapa peduli, asal hidup kaya raya. Tak hanya akan membantu ekosistem, anda juga bisa menyelamatkan keuangan keluarga. Siapa yang mau gabung?

Pasutri Paul (Matt Damon) dan Audrey Safranek (Kristen Wiig) jadi tergiur. Mereka adalah keluarga kelas menengah biasa yang, tentu saja, kesulitan untuk bayar cicilan setiap bulan. Seperti saya (kok jadi curhat?). "Downsizing" sudah 10 tahunan dikenal publik dan sudah punya banyak konsumen. Salah satunya adalah teman kuliah Paul yang pamer saat reuni bahwa ia akhirnya bisa mendapatkan hidup yang diidam-idamkan.

Paul dan Audrey kemudian mendatangi Leisureland, salah satu penyedia jasa "downsizing", dengan tekad yang bulat. Payne sepertinya sangat bersenang-senang dengan bagian mengenai prosedural ini. Sebagaimana lazimnya sebuah film scifi yang bagus, seru saat film menjelaskan detil dunianya. Kita mempelajari bahwa sebelum di-downsize, gigi palsu harus dicabut agar kepala tidak meledak (ingat, "downsizing" hanya untuk entitas organik). Payne menyuguhkan bagian teknis ini dengan serius, seolah-olah prosedur "downsizing" benar-benar realistis, bisa dilakukan di dunia nyata.

Efek spesialnya boleh juga. Beberapa adegannya inventif. Adegan dimana manusia normal berinteraksi dengan manusia mini yang disajikan dengan efek komputer dan trik kamera. Tim tata produksi dan tim efek spesialnya jago sekali dalam mendukung Payne mengejawantahkan dunianya. Mengejutkan sekali melihat bagaimana sutradara drama semacam Payne bisa menangani sekuens penuh efek spesial dengan kompeten. Bagian ini bagus; begitu bagus sampai ini kita dibuat penasaran akan ke arah mana akan dibawa, karena ada banyak yang bisa digali.

Ketika sudah berukuran mini, Paul mendapati bahwa tak semuanya berjalan sesuai rencana. Saya takkan mengungkapnya, yang jelas problematika ini membuat Paul galau setengah mati. Agaknya, semisal jomblo, Paul takkan segalau itu. Pasti semua jadi lebih mudah. Beda dengan jomblo di dunia nyata; mereka pasti lebih galau lagi. HAHAHAHAHAHAHAHAHA.

Maafkan saya.

Paul kemudian tinggal di apartemen, bertetanggaan dengan si hedon Dusan (Christopher Waltz) yang doyan berpesta tiap malam. Disini, Paul juga berkenalan dengan Ngoc Lan Tran (Hong Chau), imigran gelap asal Vietnam yang berprofesi sebagai tukang bersih-bersih. Mereka punya alasan dan cara hidup masing-masing yang menarik, tak seperti Paul yang cuma planga-plongo. Bahkan kita mendapat beberapa cameo mengigit dari Jason Sudeikis, Laura Dern, dan Neil Patrick Harris. Mungkin memang sengaja dikondisikan oleh Payne, tapi ini malah membuat Matt Damon sebagai karakter yang membosankan. Ngoc Lan dengan mudah menjadi karakter paling menarik berkat bahasa Inggrisnya yang cacat dan kosakatanya yang vulgar. Hong Chau mendapat dua monolog yang aneh, tapi ditampilkannya dengan emosional.

Saya tak begitu peduli dengan apa yang dialami oleh Paul. Di pertengahan film, Paul mengetahui bahwa di dunia mini pun ada kesenjangan sosial, sama seperti dunia nyata. Agaknya inilah yang disasar oleh Payne; dimana pun kita berada, seberapa pun ukuran tubuh kita, sebenarnya hidup itu sama saja. Kehidupan seperti apa pun punya masalah yang mirip-mirip. Cara menyelesaikannya pun sama, sebagaimana yang disadari Paul di akhir. Okelah. Namun, kalau kita mengingat kembali paruh awal film, kita juga menyadari bahwa konsep filmnya tak termanifestasi dengan memuaskan. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Downsizing

135 menit
Remaja
Alexander Payne
Alexander Payne, Jim Taylor
Mark Johnson, Alexander Payne, Jim Taylor
Phedon Papamichael
Rolfe Kent

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top