0

Review Film: 'Fullmetal Alchemist' (2018)

Film ini fun. Namun, 'Fullmetal Alchemist' perlu lebih dari sekedar fun, karena materinya bukan cerita yang fun.

“Promise I'll get our bodies back.”
— Edward Elric
Rating UP:
Fullmetal Alchemist merupakan anime terbaik sepanjang masa. Saya tidak melebih-lebihkan. Konsensus dari IMDb-nya anime, yaitu MyAnimeList menempatkannya di posisi pertama di antara semua anime, bahkan berada di atas Kimi no Na Wa. Kendati demikian, film live-action perdananya ini belum termasuk adaptasi anime terbaik yang pernah dibuat. Film ini fun. Dalam beberapa film, karakteristik ini sudah cukup. Namun, Fullmetal Alchemist perlu lebih dari sekedar fun, karena materinya bukan cerita yang fun.


Masalah utamanya barangkali adalah filmnya yang tak bisa dengan natural mengeluarkan suspension of disbelief saya. Ada drama berat dan momen katarsis, tapi ia tak terasa seperti itu. Para karakternya bergerak kesana kemari membawa masalah yang serius, tapi saya tak begitu mempercayainya. Mereka terlihat seperti para cosplayer yang sedang bermain drama, hanya saja dengan bujet dan efek spesial kelas Hollywood. Namun di permukaan, film ini digarap dengan kompeten.

Diangkat dari manga populer karya Hiromu Arakawa yang berekspansi ke dua versi serial anime (anda cukup menonton yang versi Brotherhood saja), sutradara film live-action ini adalah Fumihiko Sori, yang juga memulai debutnya ke layar lebar dengan mengadaptasi manga (judulnya Ping Pong, btw). Film dibuka dengan prolog yang setia terhadap materi aslinya. Diceritakan bahwa sejak kecil, dua bersaudara Ed Elric dan Al Elric sudah mempelajari ilmu alkimia. Ketika ibu mereka meninggal tiba-tiba, keduanya berusaha untuk menghidupkannya kembali.

Mengenai alkimia, film ini menggambarkannya sebagai cabang ilmu sains yang mempelajari hal-hal tentang transmutasi materi. Hal ini sudah merupakan hal yang lazim di semesta Fullmetal Alchemist, bahkan menjadi profesi yang resmi. Para alkemis bisa menciptakan sesuatu sekonyong-konyong, tapi alkimia bukan sihir. Ada yang namanya Hukum Pertukaran Setara yang singkatnya berbunyi: untuk menciptakan sesuatu maka harus mengorbankan sesuatu yang setimpal. Melakukan sesuatu sebesar percobaan menciptakan kembali kehidupan membuat Ed harus merelakan satu kaki dan satu tangannya, sementara Al terpaksa kehilangan tubuhnya.

Beberapa tahun kemudian, kita berjumpa dengan Ed remaja (diperankan oleh Ryosuke Yamada). Mendapat julukan sebagai "Fullmetal Alchemist" karena kaki dan tangan metalnya, Ed sudah menjadi alkemis PNS. Karena satu dan lain hal yang akan diceritakan nanti, Al sekarang berwujud baju besi yang gempal. Mereka sedang bertarung menggunakan ilmu alkimia untuk melawan seorang pendeta jahat yang kabarnya memegang Batu Bertuah. Batu sakti ini diklaim bisa memulihkan tangan Ed dan mengembalikan tubuh asli Al.

Pertarungan ini dibereskan oleh alkemis militer, Kolonel Roy Mustang (Dean Fujioka) yang membuktikan bahwa batu milik sang pendeta bukan Batu Bertuah asli. Tentu saja begitu, kalau tidak film ini akan langsung selesai dalam 10 menit. Untuk mencari informasi mengenai alkimia yang melibatkan manusia, atasan dari Kolonel Roy mengutus Ed dan Al untuk mengunjungi Profesor Shou Tucker (Yo Oizumi) yang tengah meneliti tentang chimera.

Dari sana, mereka akan bertemu dengan banyak karakter, termasuk gebetan Ed yang bernama Winry (Tsubasa Honda), Kapten Hughes (Ryuta Sato), hingga para "homunculus": Lust (Yasuko Matsuyuki), Envy (Kanata Hongo), dan Gluttony (Shinji Uchiyama). Sebagai film yang materi sumbernya berasal dari serial manga dan anime yang panjang sekali, film ini lumayan mampu dalam membuat ceritanya fokus. Ia hanya mengambil beberapa bagian yang penting dan membuang sisa yang mungkin akan memberatkan cerita. Struktur plotnya pas dalam tiga pembabakan, dan dengan lihai meninggalkan potensi untuk sekuel. Saya mengerti kenapa film ini harus meninggalkan banyak karakter dari manga/anime-nya.

Saya juga mengerti kenapa para aktornya adalah orang Jepang meski ceritanya sendiri ber-setting di suatu tempat di Eropa. Kentara sekali film ini dibuat oleh orang yang mencintai karya aslinya. Sori terlihat peduli untuk menggarapnya sebaik mungkin. Efek spesialnya kompeten —termasuk baju besi Al yang katanya kreasi motion-capture— walau di beberapa bagian efek spesial ini terkesan seperti tak memberi dampak di dunia nyata. Beberapa adegan kunci yang sangat fantasi dihadirkan dengan visual yang luar biasa. Lihat saat Ed "berkunjung" di depan Gerbang Kebenaran.

Namun, Sori juga berusaha untuk membawa nuansa khas anime/manga ke dalam filmnya. Ketika cerita menjadi semakin berat dimana Ed dan Al harus berhadapan dengan dilema moral mengenai transmutasi manusia, bobot emosionalnya terganggu oleh para karakter yang bersikap seolah mereka karakter anime/manga. Misalnya, saat Ed marah lalu Yamada berteriak sekencang-kencangnya seolah sedang kesurupan. Film ini tak tahu dimana harus meninggalkan beberapa karakteristik tertentu untuk membuat karakternya realistis.

Ini lagi-lagi membuktikan bahwa tak semua materi bisa bekerja di media yang berbeda. Dalam satu konteks, literatur (hei, manga juga termasuk literatur keuleus) merupakan media yang lebih superior, karena punya spektrum yang lebih luas; ia tak membatasi imajinasi kita. Saya kira, film ini hanya cocok untuk menjawab pertanyaan bagi fans lama yang penasaran untuk sekadar melihat gimana sih live-action Fullmetal Alchemist. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Fullmetal Alchemist

135 menit
Remaja
Fumihiko Sori
Fumihiko Sori, Takeshi Miyamoto (screenplay), Hiromu Arakawa (manga)
Yumihiko Yoshihara
Keiji Hashimoto
Reiji Kitasato

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top