0

Review Film: 'Loving Vincent' (2017)

Ia tetap efektif membuat kita terpukau, terlepas dari seberapa lama efek pukaunya hilang.

“I don't know anything with certainty, but seeing the stars makes me dream.”
— Vincent van Gogh
Rating UP:
Menonton Loving Vincent rasanya seperti melihat lukisan bagus selama 90 menit. Bukan secara visual maksud saya, karena —hellaaaw— filmnya memang dibuat dari lukisan, melainkan secara sensasi. Dengan tidak adanya jalinan naratif yang cukup kuat untuk mengikat perhatian, semua jadi bergantung pada daya tahan kita dalam menyaksikan semata-mata rangsangan visual. Sama seperti melihat lukisan yang bagus; beberapa orang sanggup melihatnya berjam-jam, sedangkan beberapa lagi ingin segera melambai ke kamera. Dan ini sama-sama wajar.

Anda kuat berapa lama?


Kendati demikian, lukisan bagus tetaplah lukisan bagus. Ia tetap efektif membuat kita terpukau, terlepas dari seberapa lama efek pukaunya hilang. Loving Vincent adalah film animasi pertama yang sepenuhnya dibuat dari lukisan cat minyak. Tak ada yang bakal keliru saat melihat lukisan Vincent van Gogh. Hasil karyanya begitu unik, sehingga walau cuma sekali pernah melihat lukisan "Starry Night" atau Sunflowers", kita bisa langsung menyimpulkan bahwa animasi Loving Vincent mengikuti gaya goresan kuas dari pelukis legendaris tersebut.

Kabarnya, untuk membuat film ini diperlukan 65.000 kanvas yang dikreasi oleh 125 pelukis. Saya mempelajari bahwa animasi tradisional butuh setidaknya 12 frame tiap detik. Berarti, katakanlah durasi efektif Loving Vincent adalah 90 menit, total frame yang dibutuhkan adalah 12 frame/detik x 60 detik/menit x 90 menit = 64.800 frame. Jadi 65.000 frame sudah lebih dari memadai untuk membuat animasi yang mulus. Namun, cukup mengherankan bagi saya mendapati animasi Loving Vincent yang terlihat canggung; gerakannya patah-patah. Antara gambar statis dan gambar bergerak, film ini seperti berada di tengahnya. Saya tak tahu pasti kenapa. Barangkali gaya impresionis Van Gogh tak begitu cocok dianimasikan.

Cukup soal angka, kita kan bukan lagi belajar Matematika. Mari membahas isi filmnya.

Film ini tak hanya menggunakan gaya Van Gogh buat gaya-gayaan, tapi sekaligus juga mengangkat kisah tentang subyeknya, terutama hari-hari terakhirnya. Filmnya menawarkan interpretasi tersendiri mengenai sang seniman yang (dikabarkan) bunuh diri pada 1890 di usia 37 tahun, meninggalkan tak kurang dari 800 lukisan. Apakah ia benar bunuh diri? Dalam suratnya, Van Gogh sendiri mengklaim begitu. Namun, saksi dari TKP mengindikasikan bahwa ada orang lain yang terlibat. Mungkinkah Van Gogh membuat klaim tadi demi melindungi seseorang?

Misteri kematian yang dieksplorasi dari berbagai sudut ini menjadi inti narasi. Yang membimbing kita adalah Armand (Douglas Booth), anak dari seorang tukang pos (Chris O'Dowd) yang pernah menjadi kurir surat Vincent van Gogh. Armand ditugaskan oleh sang ayah mengantarkan surat terakhir Vincent kepada kakak Vincent, Theo. Saat itu, setahun sudah Vincent wafat, dan Armand tak mengetahui bahwa Theo juga telah meninggal dunia, tak lama setelah sang adik.

Jadi Armand berkunjung ke kota di utara Prancis yang menjadi tempat wafatnya Vincent. Ia mempelajari banyak fakta mengenai sang seniman. Kebanyakan saling kontraproduktif, karena ia mengambil cerita dari beberapa orang yang pernah terlibat dalam kehidupan Vincent. Mulai dari penjual lukisan Pere Tanguy (John Sessions), pemilik penginapan tempat Vincent meninggal Adeline Ravoux (Eleanor Tomlinson), dokter yang merawat Vincent Dr Gachet (Jerome Flynn) beserta pembantu (Helen McCrory) dan anaknya (Saoirse Ronan), sampai tukang perahu (Aidan Turner). Setiap tokoh punya pendapat tersendiri mengenai Vincent dan bagaimana ia meninggal. Satu hal yang jelas bagi kita: Vincent van Gogh adalah seniman yang punya semangat tinggi tapi juga punya tendensi suicidal.

Vincent sendiri (Robert Gulaczyk) sebagian besar hanya tampil lewat adegan flashback yang dilukis secara hitam-putih. Dengan membangun karakteristiknya berdasarkan dialog dari karakter lain, film dengan bijak memberikan gambaran yang kompleks mengenai pribadi yang kompleks; bagaimana mungkin coba menyajikan pemahaman yang konkrit mengenai seniman yang juga terkenal karena memotong daun telinganya sendiri? Satu-satunya cara memahami Van Gogh adalah lewat karya yang ditinggalkannya.

Oleh karenanya, misteri kematian Vincent jadi tak begitu menggugah. Penyelidikannya menjadi tak begitu menarik karena kita tahu bahwa kita berada jauh dari kebenaran. Ini membuat kita jadi aware, jangan-jangan plot hanya bertujuan untuk memfasilitasi agar beberapa tokoh dan lokasi yang menjadi obyek lukisan Vincent bisa dimasukkan ke dalam film.

Anda mungkin mencermati bahwa setiap nama karakter tadi diikuti oleh nama aktor. Mereka ternyata tak hanya mengisi suara melainkan juga berakting. Filmnya digarap oleh Dorota Kobiela dan Hugh Welchman. Produksinya filmnya ternyata menggunakan adegan live-action, dimana aktor berakting layaknya film biasa di depan green-screen. Setelah selesai, para pelukis akan melukis setiap scene ke kanvas kosong dengan mengikuti gaya Van Gogh. Seluruh proses ini katanya memakan waktu sampai 7 tahun.

Makjang! Ide dan pengorbanan yang luar biasa... gilanya. Tak pernah saya mendengar dedikasi sebesar itu demi sebuah karya. Tidak sejak seorang remaja 19 tahun yang rela menjalani 50 operasi plastik agar terlihat mirip Angelina Jolie... tapi malah berakhir seperti Angelina Jolie yang rohnya disedot dementor; atau tim Belanda yang (punya banyak waktu luang) menyusun 4 juta domino demi memecahkan rekor dunia... hanya untuk mendapati seekor gagak merubuhkan karya mereka; atau seorang oom yang susah-susah bikin cerita soal tabrakan mobil versus tiang listri... saya jadi ngelantur.

Pada akhirnya, Loving Vincent adalah film yang wajib tonton, paling tidak untuk menyaksikan pencapaian visualnya. Film ini merupakan tribut yang istimewa buat Vincent van Gogh. Visualnya jelas akan membuat terpana. Mengingat bagaimana susahnya proses produksi, mungkin film ini akan menjadi film terakhir yang dibuat sepenuhnya dari lukisan. Ngomong-ngomong, anda tahu apa yang lebih ingin saya tonton sekarang? Film dokumenter mengenai pembuatan Loving Vincent. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Loving Vincent

95 menit
Remaja
Dorota Kobiela, Hugh Welchman
Dorota Kobiela, Hugh Welchman, Jacek Dehnel
Hugh Welchman, Ivan Mactaggart, Sean M. Bobbitt
Tristan Oliver
Clint Mansell

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top