0

Review Film: 'Molly's Game' (2017)

Triknya tak jauh berbeda dengan teknik utama dalam bermain poker, yaitu bluffing alias menggertak.

“The thing about human is we always take the chance. When we steady and good, we want better.”
— Molly Bloom
Rating UP:
Molly's Game dibuka dengan sekuens singkat yang memperlihatkan kecelakaan ski yang dialami oleh seorang remaja putri yang katanya punya kesempatan untuk menjadi salah satu atlit ski teratas dalam Olimpiade. Bagian ini dijelaskan dengan begitu detail dan dalam kecepatan tinggi via narasi yang berisi fakta, statistik, dan analogi yang disampaikan langsung oleh karakter utamanya, Molly Bloom (Jessica Chastain). Kita bahkan diberitahu bahwa kecelakaan ini tak hanya berdampak drastis bagi jalan hidup Molly, melainkan juga memberikan kekecewaan besar bagi sang ayah (Kevin Costner) yang selalu menuntut agar setiap anaknya harus unggul dalam bidang apapun yang mereka geluti.


Setelahnya, kita akan melihat dan mendengar Molly menjelaskan tentang banyak hal, mengenai poker dan kehidupan pribadinya. Bagaimana ia banting stir ke dunia poker lalu membangun salah satu permainan poker underground paling top sedunia yang melibatkan beberapa artis papan atas. Jika anda mencoba gugling, anda bisa mendapatkan nama pemain Spider-Man, pemain Titanic, dan pemain Justice League di antara mereka yang terlibat.

Menyaksikan film penuh dialog dengan rasio kalimat per menit sebanding dengan banyaknya Fadli Zon ngetwit setiap jam, maka tak mengherankan saat mengetahui kalau skripnya ditulis oleh Aaron Sorkin. Dalam film apa pun, bukanlah hal yang sulit mengidentifikasi Sorkin; siapa pun sutradaranya, ciri khas Sorkin terpampang jelas dalam filmnya. Dan film mengenai kisah nyata dari "Putri Poker" ini merupakan debut penyutradaraannya.

Sebagaimana film tulisan Sorkin lainnya seperti, A Few Good Men atau The Social Network, Molly's Game tentu saja merupakan film yang digerakkan oleh dialog. Karakternya didominasi oleh orang-orang cerewet, dimana sebagian besar film dihabiskan dengan mereka yang nyerocos nyaris tanpa henti bicara soal hal-hal rumit dengan sedemikian spontan. Jenis film yang mengharuskan kita untuk selalu fokus nonton agar tak melewatkan setiap detailnya. Dengan film yang berdurasi hampir 2 jam setengah seperti ini, coba bayangkan seberapa padat dan tebal skripnya.

Ini adalah metode yang biasa dipakai Sorkin, dan di film ini saya mulai sedikit merasakan sensasi artifisialitasnya. Triknya tak jauh berbeda dengan teknik utama dalam bermain poker, yaitu bluffing alias menggertak. Sorkin menggerakkannya dengan sedemikian padat dan cepat, kita tak diberi waktu untuk memikirkan apakah filmnya benar-benar cerdas. Boleh jadi iya, mungkin juga tidak; yang jelas, kita sudah terpedaya.

Film ini tidak begitu membahas soal mekanisme permainan poker, meski memang ada satu adegan singkat yang menjelaskannya dengan detail. Alih-alih, ia adalah mengenai permainan Molly dalam menghandel para pemain poker "asuhan"-nya dan bagaimana ia menjaga keberlangsungan permainannya. Pada akhirnya, Molly harus mengambil pelajaran besar bahwa permainan poker yang melibatkan pemain besar akan mendatangkan risiko yang besar pula.

Setelah kecelakaan ski, Molly memutuskan untuk kembali bersekolah. Namun, ia berakhir bekerja di klub, menjual miras. Seorang dealer berandal (Jeremy Strong) lalu memperkenalkannya ke dunia poker kelas atas. Molly adalah wanita yang cerdas, sehingga selagi melihat para pemain bermain, ia dengan cepat mempelajari strategi dalam bermain poker sekaligus psikologi dari pemainnya.

Molly bahkan menyadari bahwa ia bisa menyelenggarakan permainanya sendiri, apalagi setelah sang bos berusaha untuk menyingkirkannya. Jadi, ia menyiapkan kamar di hotel mewah, menyediakan dealer berupa gadis-gadis seksi, dan mulai mengontak "klien"-nya dulu. Molly juga cukup pintar untuk menggunakan nama besar seorang selebritis yang di film ini hanya disebut sebagai "Pemain X" (Michael Cera, tampil baik sebagai seleb ngehek) yang berhasil direkrutnya. Orang-orang mungkin bergabung karena "Pemain X", tapi mereka setia pada permainan Molly karena Molly begitu kompeten.

Film ini diadaptasi dari memoir Molly Bloom yang terbit pada 2013. Kabarnya, Molly menulisnya saat ia menunggu hukuman dari pengadilan. Kok bisa? Ini semua terjadi kerena permainan Molly berkembang begitu besar. Ia sampai harus mengkomsumsi narkoba agar tetap fokus. Namun masalahnya bukan itu. Yang membuat FBI gerah adalah rumor yang menyebutkan bahwa permainan Molly melibatkan mafia Rusia.

Jadi film ini bukan sekadar penceritaan ulang, alih-alih Sorkin mengkondisikan filmnya seperti meta-storytelling dimana Molly mengomentari langsung kisah hidupnya. Film ini bolak-balik menceritakan naik daunnya Molly yang dulu sebagai host poker sembari ia yang sekarang harus berkutat membuat pembelaan hukum. Pengacara elit Charlie Jaffey (Idris Elba) awalnya sempat ragu, tapi kemudian memutuskan mengambil kasus ini meski Molly sendiri sudah mau bangkrut dan bisa dipastikan akan masuk penjara. Usaha Molly meyakinkan Charlie menjadi framing device bagi film dan interaksi antara Chastain dan Elba menjadi satu-satunya hal paling seru dari film selain bagian mengenai permainan poker.

Peran Chastain disini mengingatkan saya pada Miss Sloane. Karakternya kurang lebih mirip, hanya saja dengan level nyerocos yang lebih tinggi. Molly adalah wanita yang kesepian, seksi, dan kuat. Dalam film ini Chastain adalah dominant yang membuktikan bahwa tak peduli seberapa tangguh para pria di sekelilingnya, ia lah yang selalu memegang kendali. Meski menjalankan bisnis yang bisa dibilang tak begitu legal, tapi Chastain dan Sorkin menjadikan Molly sebagai karakter yang tergolong pribadi yang baik.

Masalahnya adalah film ini tak membuat kita cukup berinvestasi pada kasus Molly. Risiko terbesar, dimana Molly harus memilih antara dihukum atau membeberkan nama selebritis yang terlibat dalam permainannya, tak begitu membuat saya menahan napas. Belum lagi saat Kevin Costner muncul sekonyong-konyong menjelang akhir untuk memberi penjelasan simpel mengenai penyebab dari (((seluruh))) permasalahan yang Molly alami. Ini adalah jenis masalah yang bisa tenggelam oleh penampilan karismatik Chastain dan dialog rapidfire khas Sorkin. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Molly's Game

140 menit
Dewasa
Aaron Sorkin
Aaron Sorkin (screenplay), Molly Bloom (buku)
Mark Gordon, Amy Pascal, Matt Jackson
Charlotte Bruus Christensen
Daniel Pemberton

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top