0

Review Film: 'Phantom Thread' (2017)

Anda tahu apa yang dihasilkan oleh seorang perfeksionis? Hasil karya yang hampir —kalau tak mau dibilang pasti— selalu perfect.

“You see, to be in love with him makes life no great mystery.”
— Alma Elson
Rating UP:
Phantom Thread adalah cerita mengenai seorang desainer fashion yang sangat termahsyur di era 50an. Namanya Reynolds Woodcock. Banyak sosialita yang mengantre untuk mendapatkan baju buatan tangannya (iya, bajunya handmade). Memakai baju dari House of Woodcock adalah sebuah kebanggaan. Sebagai seorang perfeksionis, Reynolds punya cara yang spesifik dalam merancang. Ia melakukannya dengan detail, bekerja dengan ritme tersendiri, dan tak menyukai kejutan apalagi gangguan.


Ini adalah film terbaru dari Paul Thomas Anderson, dan deskripsi di atas boleh dibilang berlaku pula untuk sang sineas. Menilai dari keunikan film dan gaya penyutradaraannya, barangkali tak keliru jika kita mengkategorikan Anderson sebagai seniman eksentrik. Reynolds punya kebiasaan khas, dimana ia suka menjahitkan pesan rahasia yang gaje di balik setiap baju yang dibuatnya. Agar personal, katanya. Potong poni saya kalau ini tidak mereferensikan bagaimana Anderson sendiri yang suka iseng menyelipkan hal-hal kecil menarik yang sebenarnya tak begitu relevan dalam setiap filmnya.

Film ini merupakan film tentang seorang perfeksionis yang dibuat oleh seorang perfeksionis. Yha, dasar sutradara narsis. Anda tahu apa yang dihasilkan oleh seorang perfeksionis? Hasil karya yang hampir —kalau tak mau dibilang pasti— selalu perfect.

Anderson mengeluarkan keterampilan yang ekstrim dalam membangun filmnya. Setiap detail dijahit dengan presisi. Film ini dibuat dengan indah. Sebagai film tentang fashion, kostum dalam Phantom Thread menawan. Scoring yang didominasi alunan piano dari Jonny Greenwood tanpa henti menciptakan nuansa yang mewah tapi moody. Tak hanya menulis dan menyutradarai, Anderson kabarnya bahkan menyorot sendiri filmnya tanpa bantuan sinematografer.

Deskripsi yang sama juga berlaku bagi aktor utamanya, Daniel Day-Lewis yang mengklaim bahwa Reynolds Woodcock merupakan peran terakhirnya di layar lebar. Ia adalah aktor fantastis yang namanya bersinonim dengan method acting. Saya takkan heran lagi seandainya mendengar bahwa Day-Lewis belajar menjahit dengan tangan untuk Phantom Thread, karena sudah tahu betapa gila persiapannya di setiap film. Ia tetap dalam karakter sampai syuting Lincoln selesai (entah kalau lagi BAB), hampir selalu di atas kursi roda selama syuting My Left Foot, benar-benar tinggal di alam liar untuk The Last of the Mohicans, bahkan sendirian membangun pondok demi The Crucible. Pembawaannya dalam Phantom Thread membuat kita percaya bahwa kita sedang melihat desainer fashion sungguhan.

Mungkin inilah pertama kalinya bagi saya untuk menonton film yang begitu cermat menampilkan tentang desain pakaian dan jahit-menjahit. Namun, film ini tak begitu soal fashion. Filmnya lebih mengenai obsesi, ajian yang menciptakan seorang seniman hebat sekaligus kutukan yang membuat hidup mereka pelik. Reynolds Woodcock tak bisa memisahkan hidup dengan kerjaan. Dilema ini terjadi dalam hampir setiap profesi, terlebih bagi orang yang obsesif-kompulsif. Soal kenapa Anderson memilih jahit-menjahit, saya pikir karena profesi ini lebih gampang diamati daripada, katakanlah, menciptakan lagu misalnya. Proses dan produk fashion berwujud fisik.

Untuk ukuran desainer ternama, tentu saja Reynolds punya gaya hidup yang berkelas. Ia tinggal di rumah nan megah dan memulai harinya dengan rutinitas standar horangkayah. Di malam hari, ia nongkrong dalam lingkungan sosial elit tempat kliennya berasal. Reynolds sangat dekat dengan kakaknya, Cyril (Lesley Manville) yang sepertinya tak punya kehidupan lain selain menjalankan bisnis dan menjaga agar Reynolds tetap fokus. Cyril bahkan tahu saat Reynolds sudah bosan dengan pacarnya, yang begitulah ceritanya saat film dimulai. "Dia mulai gendut karena kebanyakan menunggu kapan kamu kembali jatuh cinta padanya," ujar Cyril pada Reynolds.

Begitulah kehidupan asmara Reynolds bekerja. Begitu banyak wanita yang berjejer untuk dijadikan model/inspirasi/pacar, tak satu pun yang nampol karena ujung-ujungnya toh mereka akan dibuang jua. Berbeda dengan saya. Banyak wanita yang ngantre, tapi tak satu pun yang saya permainkan. Uhuk.

Siklus ini sepertinya akan berulang ketika Reynolds sarapan di sebuah restoran di pinggir kota. Pramusaji bernama Alma (Vickey Krieps) menerima pesanan Reynolds dengan senyuman hangat. Ia cerdas, lucu, dan mempesona. Reynolds mengajaknya makan malam lalu membawanya ke studio. Pelajaran buat saya: mengukur tubuh dan fitting baju sepertinya adalah aktivitas yang mampu membuat wanita klepek-klepek. Agaknya ini merupakan trik yang selalu sukses digunakan Reynolds untuk menaklukkan hati pacar-pacarnya. Mainin lagu "Akad"-nya Payung Teduh pakai gitar sudah gak jaman.

Awalnya Alma merasa spesial karena diperbolehkan tinggal bersebelahan dengan kamar Reynolds (untuk ukuran House of Woodcock, perlakuan ini sudah istimewa). Namun, di luar konteks kerjaan, Alma hanya gangguan dalam sistem Reynolds. Suara Alma yang menggunakan pisau dan garpu untuk sarapan, terdengar lebay bagi Reynolds; ia mengernyit seolah baru saja mendengar suara pertarungan Transformers. Alma bahkan berani mengkritik bahan kain pilihan Reynolds. Huft Alma, seniman itu butuh ketenangan taugasik?!

Sesuai dengan nama belakangnya, Reynolds adalah orang yang keras, kaku, dan egois. Namun, jelas ada sesuatu darinya yang membuat Alma tertarik. Sesuatu yang tak pernah ditampilkannya sampai kemudian ia sakit. Dalam keadaan ini, Reynolds tetiba menjadi submisif, pasrah dengan apa pun yang dilakukan oleh Alma yang merawatnya dengan telaten.

Salah satu hal terbaik dari film ini adalah karena Anderson membiarkan filmnya bernapas. Tak ada hal yang simpel dalam hubungan antara Reynolds dan Alma, dan Anderson membebaskan kita mencerna. Selagi ia menyesapi kita dengan detail luar biasa dari dunia fashion lawas, ia membuat kita menyelami kedua karakter yang pelik ini. Anderson menahan diri; kecuali di akhir, kameranya tak pernah menyorot dengan eksplisit kontak fisik mereka, jadi kita tak begitu tahu bagaimana dinamika hubungan mereka yang sebenarnya.

Secara mengejutkan, film ini ternyata merupakan panggung utama bagi Krieps, yang justru lebih vital daripada Day-Lewis. Ini menjadi kelahiran bintang baru; Krieps menciptakan karakter yang kuat. Saat masih pedekate, Alma sempat bercelutuk, "Kalau ini kontes menatap, kaulah yang akan kalah". Itulah kenapa ia tidak mundur meski Reynolds terkesan ingin menyingkirkannya. Alma dan Reynolds tahu kelemahan diri masing-masing tapi tak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya pada kondisi ekstrimlah mereka bisa mendapatkan apa yang mereka mau, dan Alma menjadi pemantiknya. Adegan makan omelet menjadi titik balik terpenting. Alma tahu Reynolds tak suka masakan yang memakai mentega, tapi ia tetap menyajikannya demikian. Disini ia menguji Reynolds akan sesuatu yang tak Reynolds tahu atau mungkin tahu tapi tak bisa mengungkapkan atau mungkin tahu tapi tak bisa berbuat apa-apa terhadapnya kecuali Alma yang memicunya duluan.

Di saat film menyuguhkan sesuatu yang musykil inilah kita akan menyadari bahwa sebenarnya Phantom Thread adalah sebuah kisah cinta yang "sakit". Film ini barangkali merupakan film Anderson yang paling lurus dan simpel, tapi ia tetap absurd. Bahkan, bagian puncaknya terbilang menggelikan kalau saja kita tak dibuat terhanyut sebelumnya. Di permukaan Anderson mengemas filmnya sebagai film yang gelap tapi ada suatu kehangatan yang aneh mengalir di bawahnya. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Phantom Thread

130 menit
Dewasa
Paul Thomas Anderson
Paul Thomas Anderson
Paul Thomas Anderson, Megan Ellison, JoAnne Sellar, Daniel Lupi
Jonny Greenwood

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top