0

Review Film: 'Game Night' (2018)

Kita diajak untuk mendekati situasi berbahaya tapi dipancing untuk tertawa sepanjang jalan.

“I hate game night!”
— Annie
Rating UP:
Komedi Game Night agaknya didesain dengan spesifik untuk menyasar untuk dua kategori penonton: (1) yang mengenali/mengalami problematika tipikal orang dewasa, dan (2) dan yang suka menonton film, khususnya film 90an. Akan lebih baik lagi jika anda adalah keduanya. Saya yang termasuk ke dalam dua kategori tersebut, meski tak bangga dengan kategori pertama karena artinya saya sudah ehm bukan lagi remaja unyu-unyu, mendapati bahwa film ini nampol banget. Kita diajak untuk mendekati situasi berbahaya tapi dipancing untuk tertawa sepanjang jalan.


Ceritanya begini. Max (Jason Bateman) dan Annie (Rachel McAdams) adalah pasangan yang sangat menyukai permainan jenis apa pun: monopoli, scrabble, jenga, pictionary, charades, game of life, dll; mereka bahkan jatuh cinta saat memainkan permainan. Sekarang mereka sudah menikah, tapi hobi bermain tak lantas ditinggalkan. Setiap minggu, mereka mengundang teman-teman untuk mengikuti Malam Permainan di rumah mereka. Peserta tamu diantaranya Kevin (Lamorne Morris) dan Michelle (Kylie Bunburry) yang sudah berpacaran sejak remaja, serta si ganteng yang agak bodoh Ryan (Billy Magnussen) dan siapa pun gebetan yang dibawa Ryan tiap Malam Permainan. Ada satu yang tak diundang, tapi akan kita bahas nanti.

Max dan Annie bisa dibilang pasangan yang bahagia. Namun mereka punya satu masalah, yaitu susah punya anak. Kata dokter, penyebabnya karena sperma Max "gak pede". Ini mungkin ada hubungannya dengan Max yang stres dan merasa rendah diri dari sang kakak, Brooks (Kyle Chandler) yang jauh lebih tampan, lebih kaya, dan lebih sukses. Oh, dan juga sangat sengak. Brooks tiba-tiba datang ke rumah Max dengan membawa mobil mewah (yang adalah mobil impian Max), membuat teman-teman Max terkesan, menyabotase Malam Permainan, dan mengajak mereka semua untuk melangsungkan Malam Permainan berikutnya di rumahnya.

Permainannya bukan sembarang permainan. Ini adalah permainan detektif-detektifan dimana salah satu pemain akan diculik, sementara yang lain harus menemukan solusinya dengan memecahkan petunjuk yang disebar di sekitar rumah. Pemenangnya akan mendapatkan satu mobil mewah Brooks. Datanglah seorang agen (Jeffrey Wright), disusul oleh dua begundal bertopeng yang kemudian menghajar agen tersebut. Mereka lanjut menggebuk Brooks lalu membawanya pergi.

Pergulatan antara para begundal dan Brooks terlihat terlalu meyakinkan. Pistol yang ditinggalkan Brooks juga terlihat sungguhan dan, sebagaimana nanti dipelajari Max lewat cara yang menyakitkan, berisi peluru sungguhan. Jelas ada yang tak beres disini. Apakah mereka terlibat sesuatu yang sebenarnya berbahaya? Anda mungkin sudah tahu, tapi karakter kita tak menyadarinya, alih-alih malah mengagumi kerealismean permainan Brooks. Mereka juga begitu terobsesi untuk menang dan perpencar bersama pasangan masing-masing untuk mencari petunjuk.

Anda mungkin bisa menduga bagaimana plot dan lelucon bisa tercipta otomatis dari premisnya, tapi komedi dalam Game Night ditulis dengan cerdik oleh Mark Perez. Kalau premisnya cuma dipakai sebagai gimmick, film akan dengan cepat menjadi menjemukan. Namun, film ini menggunakannya untuk mempermainkan ekspektasi kita. Dalam kebanyakan film komedi standar, bahaya tak terasa nyata. Film ini bermain dengan risiko yang aktual—hanya karakter kita saja yang gak ngeh, sehingga ketegangan itu tetap ada sekaligus tetap terjaga kekonyolannya.

Meski dialognya berisi banyak referensi budaya pop khususnya film, pembuat Game Night bisa menemukan cara untuk memasukkannya dengan natural. Ada tempat untuk menampilkan Denzel Washington Aspal, atau Edward Norton yang tak lagi orang ingat pernah bermain sebagai Hulk, atau McAdams yang melontarkan dialog kocak yang dikutip dari Pulp Fiction. Lelucon seperti ini disesuaikan dengan karakter, bukan sekedar asal nempel. Itu yang membuatnya lucu. Kevin dan Michelle, misalnya, diberikan running-gag soal siapa orang yang pernah diselingkuhi Michelle. Karena mereka sudah pacaran sejak kecil, Kevin pikir Michelle tak pernah tidur bersama pria lain, tapi nyatanya pernah dan sama seleb pula. Kedunguan Ryan menjadi lelucon tersendiri, termasuk ketakjubannya pada gebetan barunya (Sharon Horgan) yang tumben cerdas dan kebetulan seorang Inggris Irlandia.

Film ini merupakan komedi ensembel dan pembuatnya memanfaatkan pemainnya dengan baik. Bateman sering bermain sebagai tipikal pria paruh baya seperti ini. Beramunisikan one-liner yang gurih, gaya khasnya dengan ekspresi lempeng menjadi menyengat. Dan untuk McAdams; ia cerdas, enerjik, mempesona, dan memberikan timing komedik yang jitu. Jesse Plemons bermain sebagai polisi bernama Gary, tetangga Max dan Annie yang sangat kaku. Ia dulu suka ikut Malam Permainan, tapi tidak lagi sejak istrinya wafat. Tak pernah sekalipun melepas seragam polisinya, Gary punya tatapan intens yang sering membuat Max dan Annie (atau sebenarnya, siapa pun) salah tingkah.

Mengejutkan bagi saya, film ini ternyata digarap dengan sangat serius. Sutradaranya adalah John Francis Daley dan Jonathan Goldstein yang pernah menulis skrip Horrible Bosses. Mereka menggunakan beberapa trik kamera yang menarik. Ada adegan perebutan "MacGuffin" di dalam sebuah mansion mewah yang terlihat disorot secara one-take. Ketika mengambil gambar dari jarak jauh, lokasi terlihat seperti miniatur dalam board game, tapi saat nge-zoom, ternyata tempatnya sungguhan.

Film ini sebenarnya gampang kepleset. Jika terlalu serius maka penonton akan bosan, sedangkan jika terlalu konyol penonton akan jenuh. Namun pembuatnya berhasil menjaga keseimbangan antara keduanya. Film ini berisi kekerasan yang tingkatnya mungkin di luar perkiraan kita, tapi ia dikondisikan agar kocak. Kocak bukan karena ingin terlihat melucu, alih-alih situasi lah yang membuatnya lucu. Nah, saya menyukainya bukan karena berhasil melakukan hal tersebut, melainkan karena ia sukses membuat saya tertawa terbahak-bahak. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Game Night

100 menit
Dewasa
John Francis Daley, Jonathan Goldstein
Mark Perez
John Davis, Jason Bateman, John Fox, James Garavente
Barry Peterson
Cliff Martinez

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top