0

Review Film: 'Pacific Rim Uprising' (2018)

'Pacific Rim Uprising' punya lebih banyak elemen 'Transformers' dan lebih sedikit tangan Del Toro.

“I am not my father.”
— Jake Pentecost
Rating UP:
Pacific Rim Uprising merupakan semacam "pukpuk" bagi yang menonton Pacific Rim dan mendapati bahwa film pertama tersebut kurang aksi, kurang komedi, terlalu selow, terlalu gelap gambarnya, atau terlalu panjang durasinya. Bak gayung bersambut, Pacific Rim Uprising mengatasi semua komplain di atas. Saya yakin ia akan memuaskan penonton yang mengharapkan semua perubahan tadi. Saya, dan (barangkali) semua penonton yang mencintai film pertamanya, tak terkesan.


Film ini punya lebih banyak elemen Transformers dan lebih sedikit tangan Del Toro. Maklum saja, Guillermo del Toro kini tak lagi menyutradarai melainkan hanya duduk di kursi produser. Ia digantikan oleh sutradara debutan Steven S. DeKnight yang sepertinya lebih tertarik dengan formula Bayhem-nya Transformers. Bukan hal yang bagus saat menyejajarkan Pacific Rim dengan Transformers. Sebab, mereka berada di spektrum yang berbeda. Pacific Rim adalah surat cinta terhadap budaya mecha dan anime, sementara Transformers.... uhm, anda sudah tahu sendiri.

Pacific Rim Uprising menurut hemat saya adalah apa yang terjadi seandainya Pacific Rim tidak ditangani dengan tepat. Keduanya sama-sama berisi karakter yang klise, cerita yang tipis, dialog yang menggelikan, dan adegan aksi yang lebay. Namun apakah saya memikirkan hal tersebut saat menyaksikan film pertama? Saya sibuk menonton dengan antusiasme dan ketakjuban yang kekanak-kanakan. Efek spesial, sinematografi, elemen manusia, dan ceritanya sendiri sangat involving. Dalam Pacific Rim Uprising, saya jadi menyadari semua poin-poin cela tadi. Dalam pertarungan puncak yang berlangsung seolah takkan berakhir dimana para robot mengeroyok monster raksasa, perhatian saya mulai berkelana.

Berapa kerugian yang ditimbulkan oleh para raksasa ini berhubung mereka berantem di tengah kota? Bagaimana nasib warga yang kebetulan ada disana? Berapa kira-kira korban jiwanya? Bagaimana ribetnya proses rekonstruksi kota setelah pertarungan berakhir? Iya iya, saya tahu ini adalah pertanyaan yang tak perlu ditanyakan dalam film-film seperti ini. Tapi saya sedang jemu, gimana dong? Efek spesialnya sangat baik, tapi menyaksikan robot CGI bergulat jor-joran melawan monster CGI sembari menghancurkan puluhan pencakar langit CGI membuat kita mati rasa jika berlangsung terus-terusan dan tanpa cerita yang mengikat.

Padahal film ini punya banyak poin cerita. Ijinkan saya menjabarkan. Tokoh utama kita adalah Jake Pentecost (John Boyega), anak dari pahlawan Stacker Pentecost (Idris Elba) yang tewas setelah menyelamatkan bumi di film pertama. Dibebani dengan reputasi sang ayah, Jake lebih suka menghabiskan waktu dengan berpesta dan mencuri sehingga ia dijebloskan ke penjara bersama dengan seorang bandit kecil bernama Amara (Cailee Spaeny).

Saudari tiri Jake, Mako (Rinko Kikuchi) yang sekarang menjadi petinggi militer menawarkan kesempatan bagi Jake untuk melepaskan diri dari hukuman. Caranya, Jake harus kembali bergabung dengan militer. Selain itu, Jake juga harus bersedia melatih Amara untuk dijadikan pilot Jaeger bersama kadet lainnya. Amara bukan sembarang bocah karena ia adalah si jenius yang pernah merakit Jaeger kecil nan lincah bernama Scrapper yang bisa dikontrol oleh satu orang pilot saja. Namun masalah Jake bukan itu saja, karena di markas militer ia bersua kembali dengan rivalnya, Nate (Scott Eastwood).

Oh, dan tiba-tiba muncul pula satu Jaeger pengacau yang tangguh.

Eh, kok saya malah langsung bablas. Anda masih ingat istilah "Jaeger" kan? Dulu, alien raksasa yang dinamakan dengan Kaiju tiba-tiba melewati portal antardimensi dan muncul di dasar Samudera Pasifik untuk kemudian memporak-porandakan kota. Untuk mengatasinya, manusia menciptakan robot raksasa, Jaeger. 10 tahun kemudian, krisis sepertinya sudah berhasil diatasi. Bumi kembali damai dan sisa kerangka Kaiju sekarang tinggal sebagai monumen. Namun untuk berjaga-jaga, Jaeger tetap diproduksi dan pilot terus dikaderkan.

Sebuah perusahaan Cina bernama Shao Industries membawa ini ke level yang lebih tinggi. Mereka tengah mengembangkan Jaeger tanpa awak yang diklaim lebih efektif. Ini sebenarnya juga terdengar mengkhawatirkan, karena sebagaimana yang kita tahu, sistem Jaeger begitu rumit sampai membutuhkan dua manusia untuk mengontrolnya—boro-boro tanpa pilot. Namun direktur Shao (Tian Jing) keukeuh, apalagi ia dibantu oleh pakar per-Jaeger-an yang juga maniak per-Kaiju-an dari film pertama, Newt (Charlie Day).

Anda juga perlu ingat kenapa dua pilot tampak bergerak berbarengan di dalam kokpit untuk mengendalikan Jaeger. Jaeger harus dioperasikan oleh dua orang dan mereka harus saling sinkron. Mereka berlari, Jaeger berlari; mereka memukul, Jaeger memukul; mereka kayang, Jaeger kayang—yang terakhir tentu saja tidak terjadi di film, tapi kalau iya pasti lebih seru. Namun bukan hanya fisik yang saling sinkron. Pikiran juga, dimana keduanya saling berbagi memori dan perasaan. Proses ini dinamakan "drifting".

Jika film pertama menggunakan "drifting" untuk memberikan bobot emosional, Pacific Rim Uprising memakainya sebagai sekadar pengungkap backstory. Film ini tak memberi perhatian pada karakter, padahal ia mencoba memperkenalkan kita pada banyak karakter baru, khususnya para kadet. Kita tak begitu peduli pada nasib grup yang tak berkesan ini. Jadi cukup mengherankan juga saat film mengulur-ulur waktu dengan memperlihatkan Amara yang di-bully oleh timnya atau Jake yang saling meledek dengan Nate yang ujung-ujungnya juga tak berakhir penting.

Akhirnya, kita akan sampai pada pertarungan klimaks. Saya takkan menceritakan bagaimana kita sampai kesana, tapi saya bisa bilang kepada anda bahwa pertarungan ini melibatkan 4 Jaeger versus 3 Kaiju dan nanti 4 Jaeger ini akan mengeroyok 1 Kaiju superbesar. Pertarungannya dilakukan di siang bolong sehingga kita bisa melihat semuanya dengan jelas. Sekuens ini tak lagi terasa dahsyat. Meski koreografi dan CGI-nya kompeten, aksinya terkesan weightless. Di film pertama, Del Toro menekankan pada skala sembari membangun atmosfer dengan kondisi sekitar (misalnya, hujan deras atau suasana malam), sehingga menciptakan sensasi spektakuler. Kita berdebar-debar setiap kali Jaeger atau Kaiju muncul, apalagi berantem. DeKnight tak punya sentuhan gaya semacam itu. Anda bisa merasakan saat sebuah film hanya menjadikan efek spesial sebagai parade teknis.

Meski disutradarai oleh auteur, Pacific Rim pada dasarnya adalah film buat anak-anak (atau yang berjiwa anak-anak). Pacific Rim merupakan film anak-anak dimana mereka terpesona dengan kerennya semesta robot dan monster raksasa. Pacific Rim Uprising tetap film anak-anak juga, tapi anak-anaknya sudah beda. Mereka bukan lagi anak-anak yang gampang takjub; mereka lebih ingin melihat robot saling hantam dengan robot lain atau dengan monster.

Banyak elemen-elemen yang menjadikan film Del Toro sebagai film robot yang unik malah ditinggalkan, sehingga Pacific Rim Uprising terasa lebih generik. Yang menyukai Pacific Rim kemungkinan besar takkan menyukai film ini. Tapi angka box office membuktikan bahwa fanatisme saja tak cukup untuk membuat filmnya laris. Jadi semoga saja yang satu ini sukses secara komersil, sebab studio sudah berharap banyak untuk menjadikannya franchise, sebagaimana yang disentil lewat adegan akhir. Satu yang pasti, antusiasme menunggu kelanjutannya takkan sebesar dulu. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Pacific Rim Uprising

111 menit
Remaja
Steven S. DeKnight
Emily Carmichael, Kira Snyder, Steven S. DeKnight, T.S. Nowlin
John Boyega, Cale Boyter, Guillermo del Toro, Jon Jashni, Femi Oguns, Mary Parent, Thomas Tull
Dan Mindel
Lorne Balfe

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top