0

Review Film: 'Red Sparrow' (2018)

Saya lumayan menikmati pendekatan baru dari dunia mata-mata ini. Bahkan saya telan begitu saja bagiannya yang paling absurd.

“Didn't I do well, uncle?”
— Dominika Egorova
Rating UP:
Red Sparrow menjadikan Jennifer Lawrence sebagai agen mata-mata Rusia yang seksi dan mematikan. Maksud saya, seksinya mematikan, bukan seperti Lorraine Broughton dan Evelyn Salt yang mematikannya seksi. Anda akan melihat banyak (atau mungkin tidak — makasih LSF) bagian tubuh Lawrence: punggung, dada, bokong, dll, karena bodi yang hot memang menjadi senjatanya. Lewat film ini, saya mempelajari bahwa ada satu lagi spektrum dunia mata-mata selain yang disajikan oleh James Bond dan film-film John le Carre; semesta berisi hal-hal masam yang akan membuat kita meringis.


Ada yang bilang bahwa manusia punya 3 kebutuhan dasar. Namun, mata-mata punya satu kebutuhan lagi, yaitu informasi. Seorang mata-mata akan memanipulasi demi memperoleh informasi dengan cara memanfaatkan kebutuhan orang lain terhadap 3 hal dasar tersebut. Karakter Lawrence dalam Red Sparrow memanfaatkan kebutuhan akan seks. Dalam hal ini, posisi wanita memang lebih menguntungkan. Lebih mudah bagi pria untuk tergoda oleh wanita daripada wanita tergoda oleh pria. Wanita menjadi mata-mata yang lebih efektif daripada semua orang di Tinker Tailor Soldier Spy.

Namun sebelumnya mereka harus dilatih dulu di sekolah khusus. "Whore school" adalah nama yang diberikan oleh Dominika (Lawrence) untuk sekolah tersebut. Silakan anda terjemahkan sendiri artinya. Di sekolah ini, Dominika harus melupakan identitas dan harga dirinya. Pembimbing (Charlotte Rampling) menegaskan bahwa tubuh mereka adalah milik negara. Salah satu kurikulum mengharuskan siswa untuk terlibat dalam interaksi seksual. Tahan kuda anda, pembaca pria yang genit; ini tak seasyik fantasi anda. Kegiatan ini diparadekan di depan kelas, seringkali dalam konteks yang memalukan, untuk kemudian menjadi bahan analisis.

Jadi bagaimana ceritanya Dominika BISA bersekolah disana? Ternyata yang mengutusnya adalah seorang petinggi agensi mata-mata SVR, Vanya (Matthias Schoenaerts) yang juga layak mendapat piagam Paman Terkeji Sepanjang Masa. Paman mana coba yang tega mengutus keponakannya sendiri masuk ke "whore school"? Sedari awal, ia seolah menegaskan bahwa kepada anggota keluarga pun ia bersikap tanpa kompromi. Atau mungkin ia punya "motif" lain? Hmm.

Bagaimana Dominika MAU bergabung diceritakan lewat babak pembuka yang brilian yang sukses memompa ketertarikan kita; puncak naratif yang tak bisa dilewati lagi oleh babak film berikutnya. Selagi seorang mata-mata Amerika, Nate Nash (Joel Edgerton) melakukan kerjaan mata-mata (ya iyalaah), kita melihat Dominika yang tengah menari balet di sebuah teater megah sebelum akhirnya mengalami tragedi yang mematahkan kaki. Kecelakaan ini membunuh karir dan mengancam kehidupan finansialnya. Paman Vanya datang dan saya hanya akan bilang bahwa bantuan yang diberikan tak seperti yang diharapkan Dominika.

Selepas kelulusan, Dominika ditugaskan untuk mencari tahu identitas pengkhianat yang menjadi informan bagi Nate yang sekarang ditarik ke Budapest gara-gara insiden di Rusia. Untuk itu, Dominika harus berangkat ke Budapest dan berusaha untuk mendekati Nate. Kedengarannya klise; kita pikir kita bisa menebak bahwa Nate akan jatuh cinta betulan pada Dominika atau mungkin juga sebaliknya. Namun, Nate lebih cerdas dari yang kita kira. Ia tahu bahwa Dominika adalah mata-mata dan juga tak gampang dimanipulasi oleh seks. Sangat mungkin sekali keduanya menipu satu sama lain.

Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Jason Matthews. Tak perlu diragukan pengetahuannya soal dunia mata-mata, karena di dunia nyata ia adalah mantan agen CIA. Mungkin memang seperti inilah dunia mata-mata yang sesungguhnya. Tak ada ledakan besar atau peralatan canggih atau sekuens aksi akrobatik, melainkan hanya permainan informasi. Sependek yang saya ingat, satu-satunya adegan yang mengharuskan Lawrence melakukan sekuens yang mendekati aksi adalah saat ia menari balet di awal film.

Semua orang sepertinya memainkan agenda tersendiri yang tak diketahui oleh orang lain di sekitar mereka. Demikian juga dengan Dominika, yang sulit sekali ditebak isi kepalanya karena ekspresinya yang terlihat selalu mati rasa. Ia berdansa dengan posisinya; agensi Amerika merasa mereka bisa mengajak Dominika ke pihak mereka untuk menjadi agen ganda, sementara agensi Rusia berpikir bahwa semua yang dilakukan Dominika, termasuk beberapa hal yang ganjil, dilakukan demi kepentingan misi. Baru di momen terakhir kita mengetahui pada siapa Dominika berpihak, dan ini tak seperti yang saya duga.

Film ini menjadi kolaborasi berikutnya antara Jennifer Lawrence dengan sutradara Francis Lawrence setelah 3 jilid terakhir The Hunger Games. Disini mereka tak menahan diri. Seandainya anda luput mengecek ratingnya yang "21+", saya perlu ingatkan bahwa film ini sangat dewasa sekali banget. Ada banyak adegan penyiksaan dan seks yang kasar. Lawrence sang sutradara sepertinya ingin filmnya ditanggapi dengan serius, tapi saya terdistraksi setiap kali Lawrence sang aktris melontarkan dialog dalam aksen ke-Rusia-Rusia-an, seolah baru saja belajar bahasa Inggris dari Hotel Transylvania. Belum lagi fakta bahwa sebagian besar petinggi Rusia diperankan oleh aktor Inggris yang familiar, seperti Jeremy Irons dan Ciaran Hinds.

Hal ini membuat Red Sparrow terlalu ganjil untuk ditanggapi dengan serius tapi terlalu berat untuk dianggap sebagai film yang absurd. Film ini seperti berjalan di garis canggung antara ingin menjadi film mata-mata realistis atau menjadi sajian yang lebih mainstream. Saya juga bisa membayangkan beberapa penonton yang bakal jenuh dengan permainan tebak-tebakan "pihak mana" yang keseringan. Karakteristik film ini memancing kita untuk selalu mengantisipasi, tapi jika durasinya mencapai 130 menitan, tentu terasa menjemukan. Kendati demikian, saya lumayan menikmati pendekatan baru dari dunia mata-mata ini. Bahkan saya telan begitu saja bagiannya yang paling absurd.

Tunggu sebentar. Jangan-jangan saya sudah terpedaya oleh Jennifer Lawrence dan bodi hot-nya. Sialan. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Loving Vincent

140 menit
Dewasa
Francis Lawrence
Justin Haythe (screenplay), Jason Matthews (novel)
Peter Chernin, Steven Zaillian, Jenno Topping, David Ready
Jo Willems
James Newton Howard

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top