0

Review Film: 'Winchester' (2018)

Sebagai film mengenai salah satu rumah paling berhantu di Amerika, 'Winchester' ternyata tak lantas menjadi Film Rumah Hantu yang bagus.

“I am cursed.”
— Sarah Winchester
Rating UP:
Sebagai film mengenai salah satu rumah paling berhantu di Amerika, Winchester ternyata tak lantas menjadi Film Rumah Hantu yang bagus. Bahkan, film ini juga bukan Film Hantu yang greget. Ngomong-ngomong, saya ingin tahu siapa yang membuat klaim "rumah paling berhantu" tadi. Apakah di Amerika ada semacam lembaga survei khusus supranatural? Kalau iya, bagaimana cara mereka mengukur tingkat keberhantuan dari sebuah rumah? Apa saja parameternya? Hmm, mungkin Amerika sebenarnya lebih klenik dibanding Indonesia.


Winchester seharusnya bisa menjadi biangnya film rumah hantu. Bagaimana tidak, latarnya adalah "Winchester Mystery House" di California yang —atas prediketnya sebagai rumah terseram— sekarang dijadikan sebagai atraksi buat turis sekaligus dinobatkan sebagai monumen daerah (apa saya bilang soal Amerika yang klenik tadi). Rumah ini punya banyak kamar, lorong, tangga, dan ruang rahasia, seolah sudah ditakdirkan menjadi latar untuk film rumah hantu. Jumlah kamarnya saja dikabarkan hampir menjapai 100 kamar, dan koridornya lebih membingungkan daripada isi kepala gebetan anda. Legendanya, rumah ini adalah hasil karya seorang janda kaya raya bernama Sarah Winchester. Ia menugaskan belasan tukang bangunan untuk bekerja bertahun-tahun dalam kegiatan renovasi rumah yang seolah tiada henti. Hasilnya adalah sebuah bangunan dengan struktur yang absurd.

Apa yang mendorongnya untuk melakukan hal ini? Lalu, dari mana ia punya bujet yang memadai, karena berdasarkan pengalaman pribadi, biaya renovasi rumah kecil saja bikin saya mengap-mengap apalagi rumah sebesar lapangan bola (kok malah curhat)? Pertanyaan pertama adalah poin utama dari Winchester; film ini menawarkan satu perspektif mengenai alasan di balik perilaku eksentrik si tuan rumah. Sementara untuk pertanyaan kedua, sang janda ternyata mendapat warisan melimpah dari mendiang suaminya, William Winchester yang merupakan pendiri perusahaan senjata Winchester.

Rumah Winchester sebenarnya sudah merupakan entitas horor tersendiri. Dengan begitu banyaknya ruangan ganjil dan lorong yang menyesatkan, kita dibuat deg-degan menerka apa yang ada di baliknya. Sutradara Spierig Brothers, yang pernah menggarap scifi edan Predestination dan tahun lalu me-reboot franchise Saw lewat Jigsaw, lumayan kompeten soal teknis. Mereka menciptakan suasana gothic yang lumayan atmosferik berkat bunyi-bunyian tukang yang sedang bekerja. Kendati demikian, mereka tak bisa membuat rumah ini menjadi piranti horor yang menarik. Alih-alih, kita dikecoh dengan jump-scares palsu dengan suara latar yang memecahkan gendang telinga. Atau adegan menakut-nakuti yang tak berujung kemana-mana, misalnya jari berkuku panjang yang tiba-tiba muncul dari balik dinding.

Spierig Bro tak terlalu bermain-main dengan lokasinya, tak seperti James Wan dalam The Conjuring yang memberikan struktur yang jelas bagi rumah hantunya. Mungkin memang sengaja untuk membuat kita merasakan disorientasi, karena bagaimana gak nyasar coba di rumah seperti rumah Winchester. Tapi akan sangat membantu saat mereka memberikan sedikit kejelasan layout; antisipasi kita akan terbangun, sehingga dampak menakut-nakutinya lebih gress.

Latar waktunya adalah awal 1900an. Plotnya mirip-miriplah dengan film Woman in Black. Seorang pria harus mengunjungi sebuah rumah seram yang terletak di daerah yang sepi. Namun alih-alih rumah berhantu, karakter pria dalam Winchester menginap di rumah yang masih ada tuan rumahnya, karena Sarah Winchester masih sehat walafiat. Tapi berhantu juga sih; atau begitulah klaim Sarah.

Pria tersebut adalah Eric Price (Jason Clarke), seorang dokter yang ditugaskan oleh perusahaan Winchester untuk mengevaluasi kondisi psikologis Sarah (Helen Mirren) yang dikhawatirkan tak mampu lagi mengemban tanggung jawab sebagai salah satu pemimpin perusahaan. Singkat kata, apakah Sarah ini gila atau tidak, karena memang tak ada orang yang seobsesif itu menciptakan sesuatu kecuali mereka adalah sineas Loving Vincent. Eeehh, orang yang bertugas mengecek kewarasan orang ternyata sedang stres juga. Eric berkutat dengan miras dan obat penenang untuk melarikan diri dari bayangan istrinya yang tewas dengan tragis. Jadi, ketika melihat hal-hal aneh di rumah Winchester, Eric meyakinkan diri bahwa itu hanyalah halusinasi belaka.

Itulah adik-adik, kenapa kamu jangan mengkonsumsi miras atau narkoba.

Namun, sedari awal sudah diindikasikan kalau memang ada hantu di rumah tersebut. Di adegan pembuka kita melihat keponakan Sarah, Marion (Sarah Snook) dan anaknya, Henry (Finn Scicluna-O'Prey) mendengar sesuatu datang dari kegelapan. Henry adalah standar anak-anak khas film horor. Ia suka tidur-berjalan, sambil menutup kepala dengan karung pula. Mm-hm, Henry bahkan mengalami episode yang dialami hampir oleh semua anak-anak dalam film horor, yaitu: kesurupan. Apakah ia akan dirukiah? Tidak, karena ada bencana alam yang akan mengacaukan semuanya.

(((bencana alam)))

Di pertengahan film, ada obrolan panjang antara Sarah dengan Eric yang berlangsung begitu lama, saya rasa tukang genteng sudah selesai merenovasi genteng (dan mungkin genteng tetangga sekalian) selagi mereka ngobrol. Mereka bicara soal kondisi psikologis masing-masing dan fakta mengenai rumah tersebut. Kita tak mengharapkan penjelasan panjang lebar mengenai sesuatu yang simpel dan konyol. Sarah mengklaim bahwa ia dikutuk. Ia dihantui oleh arwah dari orang-orang yang tewas gara-gara senjata buatan Winchester. Arwah-arwah tersebut yang mendiktenya untuk membangun ulang rumah. Namun sebagian dari arwah ini jahat, dan ia harus mengurungnya di kamar yang disegel dengan 13 paku. Bagaimana cara kerjanya? Saya juga tak tahu.

Mirren menjelaskannya dengan tampang serius, tapi saya tak bisa menelan semua yang diucapkan oleh aktris pemenang Oscar ini. Maka, jadilah Winchester sebagai film rumah hantu yang tumpul padahal awalnya seperti menjanjikan sebuah horor dengan kedalaman psikologis. Ia kekurangan misteri yang memadai untuk menjaga agar kita tercekat oleh cerita. Film ini bahkan juga tidak fun, karena minim jump-scares. Barangkali mengunjungi rumah asli Winchester jauh lebih seru walau dilakukan di siang hari dan rame-rame bersama turis lain. ■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

Winchester

99 menit
Semua Umur - BO
The Spierig Brothers
Tom Vaughan, The Spierig Brothers
Tim McGahan, Brett Tomberlin
Ben Nott
Peter Spierig

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top