0

Review Film: 'A Wrinkle in Time' (2018)

Prediket film paling awkward tahun ini jatuh kepada 'A Wrinkle in Time'.

“Don't worry, Meg.”
— Mrs Whatsit
Rating UP:
Prediket film paling awkward tahun ini jatuh kepada A Wrinkle in Time.

Ini dia film drama-fantasi yang terlalu membosankan untuk membawa kita berpetualang ke dunia fantasinya tapi juga terlalu campy untuk ditanggapi dengan serius. Hasilnya, yang kita lihat adalah karakter-karakter eksentrik dengan tata rambut ajaib melontarkan dialog-dialog aneh, bergerak dalam plot yang gaje dan berakting kikuk di depan efek spesial yang tampak berlebihan. Definisi tadi memang juga berlaku untuk kebanyakan film Tim Burton. Namun bahkan film-film terburuk Burton itu menghibur dan punya gaya.

A Wrinkle in Time is just bad... and boring.


Menonton film ini membuat saya kembali mengapresiasi Burton. Ternyata tak semua sutradara bisa bikin film fantasi. Bahkan sutradara yang critical-acclaimed macam Ava DuVernay. Dan dari semua materi yang ada, ia malah memilih buku klasik Madeleine L’Engle pula, yang katanya mustahil difilmkan. Entah dengan bukunya, tapi semesta yang divisikan DuVernay tampak sangat generik, bahkan terkadang tak meyakinkan, dan tata produksinya seperti bukan produk imajinasi. Fatal sekali, sebab filmnya sangat bergantung pada hal tersebut. Terlebih saat penceritaannya tak mengalun dengan lancar.

Meskipun film ini adalah film keluarga yang ditujukan untuk anak-anak, saya tak merasa ini rekomendasi yang tepat untuk mereka. Saya bisa membayangkan bagaimana mereka tak sabar untuk main gejet, alih-alih menonton sampai selesai. Politik dari filmnya jelas takkan mereka pedulikan. Sementara efek spesial serta aksinya tak memberi ruang untuk bersenang-senang.

Makanya, kasihan sekali si Meg (Storm Reid). Sejak ayahnya (Chris Pine) menghilang tanpa sebab empat tahun yang lalu, Meg berubah menjadi anak yang pemurung sekaligus pemarah. Padahal dulu dia siswa yang baik dan cerdas. Meg percaya bahwa ayahnya masih hidup dan saat ini sedang berada di dimensi lain. Sebelum menghilang, sagg ayah memang sedang meneliti Tesseract, sebuah "lekukan waktu" alias "a wrinkle in time" yang bisa mengantarkan orang bertualang lintas dimensi dalam sekejap.

Ibu Meg (Gugu Mbatha-Raw) tak percaya sebegitunya dengan hal ini walau sedikit ngarep juga sih. Sedangkan adik tiri Meg, Charles Wallace (Deric McCabe)... uhm mari kita sepakati saja bahwa kita tak tahu bagaimana pola pikir bocah ini. Lha bagaimana, Charles Wallace mau saja membukakan pintu rumah begitu saja buat wanita tak dikenal yang mengaku bernama Mrs Whatsit. Di tengah malam buta pula. Namanya saja sudah mencurigakan, apalagi pembawaannya sangat SKSD dan ia diperankan oleh Reese Witherspoon dengan dandanan absurd.

Ah ngomong-ngomong, Mrs Whatsit bilang bahwa ayah Meg memang masih hidup dan berada di dimensi lain. Dan setelah berkenalan dengan seorang anak tampan bernama Calvin (Levi Miller), Meg dan Charles Wallace berjumpa dengan dua lagi wanita magis: Mrs Who (Mindy Kalling) yang berbicara suka mengutip orang lain (yah, mirip-mirip teman Instagram kita yang suka mosting foto dengan caption puitis yang ga nyambung, cuma gak ngeselin itu), serta Mrs Which yang diperankan oleh Oprah Winfrey raksasa. Iya.

Maka berangkatlah Meg, Calvin, dan Charles Wallace bertualang ke berbagai dimensi untuk menyelamatkan ayah mereka.

Sebentar. Sebelum lanjut anda mungkin ingin bertanya kenapa saya selalu memanggil adik Meg dengan "Charles Wallace", bukannya "Charles". Sebabnya, karena semua orang di film ini memang memanggil Charles Wallace dengan nama lengkap, entah karena apa. Bocah ini diklaim oleh orang-orang sekitarnya sebagai anak jenius, tapi saya justru melihatnya seperti anak aneh yang butuh konsultasi profesional. Uhuk. Biasanya anak aneh dalam film keluarga adalah anak yang likeable eccentric, tapi Charles Wallace annoying eccentric. Mungkin karena akting McCabe yang dilebih-lebihkan, seperti Austin Powers dalam kostum anak-anak. Transformasinya di bagian puncak lebih cocok untuk film yang lebih campy semacam Spy Kids.

Film ini punya beberapa sekuens fantasi yang psikedelik dengan beberapa kreasi CGI yang absurd. Bahkan ada tempat untuk menyelipkan Michael Pena dan Zach Galifianakis dalam peran yang ajaib. Meg dkk menemukan bahwa ada sebuah entitas yang akan mencemari dunia yang bernama "It". Apakah ini dan semua tetek bengek lintas dimensi ini nyata? Ataukah bukan? Siapa peduli. Kita tak percaya dan filmnya tak mengikat. Lalu, apa peran tiga wanita magis tadi. Seingat saya, tak ada yang penting.

Disini terlihat bahwa menangani film skala blockbuster bukanlah kapasitas DuVernay. Ia kewalahan dalam menyajikan efek spesial. Semua terlihat diedit berlebihan dan dipoles terlalu banyak. Adegan aksinya tak punya komposisi ruang yang meyakinkan, sehingga kentara sekali para aktor tampak bergerak dengan canggung (dan jujur saja, menggelikan) di depan green-screen. Ia tidak punya bentuk dan konsep yang jelas, menciptakan film fantasi tanpa keseruan. Kita seharusnya tergerak dengan perjalanan emosionalnya yang magis tapi justru memikirkan ini saat menonton.

Bisakah sebuah film dinilai hanya dari niatnya saja, dengan mengecualikan kualitas? Saat ada anak rajin yang mendapat nilai jelek, kita menghibur mereka karena sudah berusaha. Namun kita tahu penghiburan tetap takkan mengubah nilai yang kadung jelek. Saya akan menutup ulasan ini dengan sesuatu yang kejam jika diucapkan kepada anak-anak tadi. Namun karena yang sedang kita bicarakan adalah seorang sutradara yang critical-acclaimed, maka saya tega bilang:

■UP

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem dan di instagram: @ulasanpilem
Kunjungi Ulasan Pilem di facebook: facebook.com/ulasanpilem

A Wrinkle in Time

109 menit
Semua Umur - BO
Ava DuVernay
Jennifer Lee, Jeff Stockwell (screenplay), Madeleine L'Engle (buku)
Jim Whitaker, Catherine Hand
Tobias A. Schliessler
Ramin Djawadi

0 komentar:

Post a Comment

Back to Top